src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Geger Dualisme Raja Keraton Surakarta, Konflik Memanas Jelang Penobatan PB XIV

Geger Dualisme Raja Keraton Surakarta, Konflik Memanas Jelang Penobatan PB XIV

waktu baca 2 menit
Jumat, 14 Nov 2025 15:12 195 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, SOLO – Kisruh penentuan pewaris tahta kembali mengguncang Keraton Surakarta Hadiningrat setelah wafatnya PB XIII, memunculkan dualisme raja Keraton Surakarta yang semakin mengeras.

Dilansir dari Viva News, pertentangan makin terbuka setelah dua kubu keluarga PB XIII saling menobatkan calon raja. Putri tertua PB XIII, GKR Timoer Rumbay, dan adik PB XIII, GRAy Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, kini berada pada posisi yang berseberangan dalam perebutan legitimasi di tengah dualisme raja Keraton Surakarta.

Kubu Gusti Moeng menggelar penobatan bagi putra sulung PB XIII, Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi, sebagai calon raja baru. Prosesi berlangsung di Sasana Handrawina Keraton Surakarta dan disaksikan Sentono Dalem, kerabat PB XIII, serta sejumlah sesepuh keraton. Penobatan ini menjadi titik krusial dalam konflik yang memunculkan dualisme raja Keraton Surakarta.

Menanggapi langkah tersebut, GKR Timoer Rumbay menyebut peristiwa ini seperti mengulang konflik pewarisan tahta pada 2004 silam.
“Saya cuman sedih saja Gusti Mangkubumi bisa berkhianat dengan kami. Putra-putri kakak dan adik-adiknya itu saja yang saya sesalkan,” ujar GKR Timoer.

Ia menegaskan bahwa kesepakatan keluarga sebelumnya telah menetapkan Putra Mahkota, KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram atau Gusti Purbaya, sebagai penerus sah PB XIV.

“Kami sudah berbicara sebelumnya bahkan di hadapan Gubernur, Wali Kota dan Pak Gibran. Kami bersepakat untuk ini (raja) kan putra mahkota,” jelasnya.

GKR Timoer juga menyebut penobatan KGPH Mangkubumi cacat hukum karena tidak dihadiri putra-putri PB XIII lainnya.
“Ini sudah cacat hukum tidak bisa mewakili kami dari putra-putri PB XIII karena tidak ada yang hadir kecuali Mangkubumi,” ungkapnya.

Ia menyebut hanya enam anggota PB XII yang hadir, bahkan dua di antaranya memilih walkout. Kondisi ini dinilai semakin memperjelas ketidaksepakatan keluarga yang memicu dualisme raja Keraton Surakarta.

Timoer mengaku tidak menerima undangan dari kementerian ataupun pihak manapun untuk penobatan tersebut. Kendati demikian, ia memastikan bahwa Hajad Dalem Jumeneng Gusti Purbaya tetap digelar sesuai rencana.
“Kami tetap, hari Sabtu (jumenengan) tetap dijalankan… Prosesnya hari Sabtu tetap seperti upacara adat yang memang harus kita jalankan,” tegasnya.

Penobatan KGPH Mangkubumi pada Kamis (13/11) menjadi pemicu utama meningkatnya dualisme raja Keraton Surakarta. Prosesi itu didahului pertemuan kerabat keraton di Sasana Handrawina, yang turut dihadiri adik-adik PB XIII, termasuk Raja ad interim Tedjowulan, Gusti Moeng, dan GPH Suryo Wicaksono atau Gusti Nenok.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x