src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kapal wisata susur sungai Mahakam Queen Orca. (ist)HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Bisnis kapal wisata susur Sungai Mahakam bernama The Queen Orca Tenggarong melewati masa jatuh bangun.
Beratnya biaya operasional dalam menjalankan bisnis tersebut membuat manajamen memutuskan per tanggal 10 Januari 2024, stop mengoperasikan kapal Queen Orca.
“Dengan berat hati, kami harus stop operasional bisnis kapal wisata susur sungai Mahakam yang sudah kami jalani selama 4 tahun,” ucap Manajer Queen Orca, Dedi Sudarya, yang biasa disapa Nala Arung, Jumat 12 Januari 2024.
Dedi tidak sungkan-sungkan menceritakan perjalanan bisnis Queen Orca kepada Headlinekaltim.co.
Dengan bermodalkan semangat, PT Gherati mengambil alih bisnis perorangan tersebut dengan pola manajemen profesional. Secara resmi, bisnis berjalan pada tahun 2020 yang lalu.
Tiga bulan awal menjalankan bisnis, sudah mulai bermunculan pihak yang memakai jasa Queen Orca untuk berlibur dan menikmati wisata perjalanan. Namun, “pil pahit” harus ditelan manajemen saat masuknya badai pandemi COVID-19.
“Untungnya masih ada yang memakai jasa kami,” sebutnya.
Terombang-ambing melewati badai COVID-19, bisnis kapal wisata ini nyatanya semakin tergerus. Ditambah lagi beban operasional yang terlalu besar.
Dedi mengungkap operasional terbesar ada pada konsumsi BBM solar nonsubsidi alias Dexlite. Adapun trip terjauh kapal sampai ke Kutai Barat.
“Jika sampai Kubar, kami menghabiskan 1 ton lebih Dexlite,” ucapnya.
Gelagat semakin tidak menguntungkan dirasakan pada tahun 2022. Manajemen dengan terpaksa menutup paket pariwisata susur sungai Mahakam untuk beberapa trip. Alternatifnya diganti dengan pola sewa kapal.
Untungnya, masih ada perusahaan yang mau menyewa kapal. Memasuki tahun 2023, order sewa kapal Queen Orca semakin sepi.”Ya, kami rugi menjalankan bisnis ini,” keluh Dedi.
Ketua Komunitas OI Kaltim ini mengaku merasa berat memikirkan nasib empat orang karyawan tetap serta dua orang karyawan tidak tetap yang selama ini membersamai kapal Queen Orca.
Selama operasional, baik kondisi untung atau rugi, gaji karyawan tetap dibayarkan.”Paling dirasakan miris adalah kapten kapal yang sudah 10 tahun menjalankan kapal besar tersebut,” ujarnya.
Hasil evaluasi sementara manajemen, bahwa animo masyarakat untuk berwisata susur sungai Mahakam sudah menurun drastis.
Selain itu, perlu dilakukan kajian lanjutan soal skema menggandeng investor dalam mengelola kapal, termasuk rencana kapal perlu dilakukan perbaikan dan perawatan besar-besaran. Ditambah tidak stabilnya harga BBM, maka manajemen memutuskan berhenti operasi hingga waktu yang tak ditentukan.
“Sayangnya juga, ada beberapa Investor yang berminat, tapi tidak ada tindak lanjutnya sampai sekarang,” terangnya.(Andri)
Ikuti Saluran whatsapp Headline Kaltim dan Google News Headline Kaltim untuk pembaruan lebih lanjut tentang berita populer lainnya