src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Enam nelayan yang berhasil dievakuasi setelah kapalnya terombang-ambing di Selat Makassar selama 4 hari. (ist/Basarnas Kaltim) HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Setelah empat hari terombang-ambing di perairan Selat Makassar, sebuah kapal diawaki enam nelayan, KMN Mitra Utama 02, akhirnya berhasil dievakuasi oleh personel Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Balikpapan. Kapal nelayan tersebut mengalami mati mesin akibat tersangkut rumpon nelayan saat dalam perjalanan dari Berau, Kalimantan Timur menuju Pulau Bali.
Diketahui, pada 24 Agustus 2024 pukul 15.10 WITA, KMN Mitra Utama 02 mengalami insiden yang mengakibatkan mesinnya mati dan terombang-ambing. Kapal yang sedang berlayar dari Berau menuju Bali tersebut tersangkut pada rumpon nelayan di Perairan Selat Makassar.
Pemilik kapal segera menghubungi KPP Balikpapan untuk meminta bantuan evakuasi. Dalam kondisi darurat ini, komunikasi hanya bisa dilakukan melalui radio SSB. Merespon laporan tersebut, Basrnas langsung mengerahkan personel dan peralatan untuk menyelamatkan awak kapal yang berjumlah enam orang.
Pada 26 Agustus 2024 pukul 11.45 WITA, Tim Rescue Pos SAR Sangatta berhasil menemukan posisi KMN Mitra Utama 02 pada koordinat 00.03’54.1″ N 118.28’11.1″ E. Proses evakuasi dimulai dengan bantuan dari kapal nelayan setempat, di mana kapal yang terjebak tersebut ditarik menuju Pulau Kedindingan, Bontang.
Pada 27 Agustus 2024 pukul 16.45 WITA, Tim SAR Gabungan kembali melanjutkan proses evakuasi dengan jarak tempuh 71 nautical miles (NM) dan kecepatan rata-rata 4,5 knots. Sepanjang perjalanan, pemantauan dilakukan oleh tim menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dari Pos SAR Sangatta untuk memastikan keselamatan kapal dan seluruh awaknya.
Pada 28 Agustus 2024 pukul 11.00 WITA, KMN Mitra Utama 02 akhirnya tiba di Dermaga Tanjung Laut, Bontang dalam kondisi aman. “Awak kapal yang berjumlah enam orang dalam kondisi selamat,” kata Kepala KPP Balikpapan Dody Setiawan dalam keterangan tertulis, Selasa 27 Agustus 2024.
Tim SAR gabungan segera melakukan debriefing dan evaluasi dan diusulkan operasi ditutup. Seluruh unsur SAR yang terlibat kembali ke satuan masing-masing.
Operasi ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Pos AL Muara Sangatta, Pos AL Bontang, Polairud Polda Kaltim, Markas Patroli Sangatta, BPBD Kota Bontang, Relawan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), dan nelayan lokal. (red)
Sumber: Basarnas Kaltim
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim