src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> APBD Kaltim 2027 Diproyeksi Tinggal Rp12,1 Triliun, Terendah dalam Beberapa Tahun Terakhir

APBD Kaltim 2027 Diproyeksi Tinggal Rp12,1 Triliun, Terendah dalam Beberapa Tahun Terakhir

waktu baca 3 menit
Sabtu, 25 Jul 2026 17:41 18 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Arah keuangan Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menyusut. Proyeksi APBD 2027 di kisaran Rp12,1 triliun menjadi sinyal turunnya kapasitas fiskal daerah, bahkan disebut sebagai salah satu yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini dipengaruhi penyesuaian pendapatan yang lebih realistis, di tengah ketidakpastian transfer dari pemerintah pusat. Dibanding beberapa tahun sebelumnya yang sempat terdongkrak sektor sumber daya alam, angka ini menunjukkan tren penurunan.

Sekretaris Daerah Kaltim, Sri Wahyuni, menyebut angka Rp12,1 triliun tersebut sudah tergambar dalam dokumen perencanaan sebelumnya dan menjadi dasar arah anggaran ke depan meskipun masih bersifat umum. “Kan di RKPD kemarin sudah kita sampaikan Rp12,1 triliun untuk APBD 2027. Jadi KUA PPAS ini apa yang ada di RKPD ini kita sampaikan,” ujarnya, Sabtu 25 Juli 2026.

Pendapatan daerah diperkirakan berada di kisaran Rp11,7 triliun, dengan tambahan pembiayaan sekitar Rp363 miliar untuk menutup kebutuhan belanja. Secara umum, belanja masih didominasi oleh belanja pegawai, operasional, dan belanja modal.

Dari sisi sumbernya, pendapatan masih bergantung pada transfer pusat. Komponen Transfer ke Daerah (TKD) diperkirakan sekitar Rp2,1 triliun, sementara sisanya berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), meski seluruhnya masih bersifat proyeksi. “Dari komponen Rp11 sekian itu ya, Rp2,1 itu dari TKD. Selebihnya dari PAD. Ya, kita proyeksikan kan sebesar itu,” kata Sri Wahyuni.

Ketidakpastian terbesar saat ini masih datang dari belum terbitnya Keputusan Menteri Keuangan (KMK), termasuk yang mengatur Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat. Padahal, komponen tersebut menjadi salah satu penopang utama pendapatan daerah, sehingga tanpa kepastian itu kemampuan fiskal belum bisa dihitung secara final. “Belum ada KMK-nya, kalau ada KMK-nya kita bisa anggarkan,” tutur Sri.

Dengan kondisi tersebut, Pemprov Kaltim memilih lebih berhati-hati dalam memasang target pendapatan. Proyeksi disusun dengan pendekatan realistis, bahkan cenderung diturunkan dibandingkan tahun sebelumnya, guna menghindari risiko defisit yang terlalu besar jika realisasi tidak sesuai harapan. “Kita berdasarkan yang proyeksi tahun ini dengan sedikit penyesuaian dan sedikit pengurangan. Kita nggak boleh 100 persen, nanti kalau transfer kita kurang, defisitnya dalam. Kita menjaga itu,” tegasnya.

Di tengah ruang fiskal yang menyempit, Pemprov Kaltim tetap berupaya menjaga program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Prioritas diarahkan pada sektor yang dinilai memberi dampak luas, meski sebagian program lain di luar itu harus disesuaikan volumenya. “Program prioritas masih jalan, bantuan pendidikan gratis untuk UKT tunggal itu tetap bisa jalan, untuk yang di luar itu volumenya yang kita sesuaikan,” tandas Sri Wahyuni.

Sebagai informasi, besaran APBD Kaltim mengalami fluktuasi yang dinamis dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, Bumi Etam mencatat rekor sejarah baru Fiskal. Tahun 2023 menjadi tahun emas bagi keuangan Pemprov Kaltim. Dipicu oleh lonjakan harga komoditas global (commodity boom) khususnya batu bara, nilai Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi Hasil (DBH) meroket tajam. Dari APBD murni sebesar Rp17,20 triliun, angka tersebut membengkak pada APBD Perubahan hingga menembus angka fantastis Rp25,32 triliun. Ini merupakan angka APBD tertinggi yang pernah dicatatkan dalam sejarah berdirinya Provinsi Kalimantan Timur.
Memasuki tahun 2024 dan 2025, kekuatan anggaran Kaltim cenderung bertahan di angka yang stabil dan kuat berkat diversifikasi pendapatan alternatif, termasuk skema insentif karbon (FCPF-Carbon Fund) dan DBH kelapa sawit. Tahun 2024, APBD Murni tercatat sebesar Rp20,67 triliun dan menjadi Rp22,19 triliun pada dokumen APBD-P. Tahun 2025, Pemerintah Provinsi bersama DPRD Kaltim menyepakati APBD murni di angka Rp21,00 triliun yang kemudian mengalami penyesuaian akhir menjadi Rp21,74 triliun. (Retno)
LAINNYA
x