src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi. (sumber: kesmas.id) Oleh: Tiur Sitorus
STUNTING tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai persoalan kesehatan anak semata. Dalam beberapa tahun terakhir, stunting berkembang menjadi krisis kronis yang melibatkan persoalan komunikasi publik, arus informasi digital, serta tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah dan media. Krisis ini berlangsung perlahan namun memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Di era digital, penanganan stunting tidak cukup hanya melalui intervensi kesehatan, tetapi juga membutuhkan pengelolaan komunikasi publik berbasis data dan penguatan literasi media masyarakat.
Hari ini, masyarakat memperoleh informasi kesehatan bukan hanya dari tenaga medis atau lembaga pemerintah, tetapi juga dari media sosial, influencer, komunitas parenting, dan berbagai platform digital lainnya. Setiap hari jutaan percakapan mengenai ASI, MPASI, susu formula, pola pengasuhan, hingga stunting diproduksi dan disebarkan secara masif di ruang digital. Percakapan tersebut membentuk jejak data yang sangat besar (big data) dan secara perlahan memengaruhi cara masyarakat memahami kesehatan ibu dan anak.
Proses Analisis Big Data melalui Google Trends
Analisis Google Trends merupakan bagian dari pendekatan big data karena memanfaatkan data pencarian digital dalam jumlah besar yang berasal dari aktivitas pengguna Google secara real-time. Data tersebut digunakan untuk memahami pola perhatian publik, perilaku pencarian informasi, dan dinamika isu kesehatan di ruang digital.
Hasil analisis big data pada Google Trends yang menganalisa data aktivitas pencarian pengguna di mesin pencari Google pada Google Search, Google News, YouTube Search, Google Shopping, Web Search menggunakan kata kunci “ASI eksklusif, stunting anak, susu formula, dan menyusui periode Januari 2025 sampai April 2026 sebagai berikut:
Hasil Analisis Big Data Google Trends terhadap Isu ASI Eksklusif, Stunting Anak, Susu Formula, dan Menyusui.
Hasil analisis big data menggunakan Google Trends menunjukkan bahwa isu kesehatan ibu dan anak masih menjadi perhatian tinggi masyarakat Indonesia dalam periode Januari 2025 hingga April 2026. Analisis dilakukan terhadap aktivitas pencarian pengguna pada layanan Google Search, Google News, YouTube Search, Google Shopping, dan Web Search menggunakan kata kunci “ASI eksklusif”, “stunting anak”, “susu formula”, dan “menyusui”.
Berdasarkan visualisasi Google Trends, kata kunci “menyusui” menunjukkan tingkat pencarian paling tinggi dan stabil dibandingkan kata kunci lainnya, dengan rata-rata indeks pencarian mencapai angka 92. Tingginya angka pencarian ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki perhatian besar terhadap praktik menyusui, baik terkait teknik menyusui, produksi ASI, kesehatan ibu, maupun pola pengasuhan bayi. Stabilnya tren pencarian juga memperlihatkan bahwa isu menyusui bukan sekadar isu musiman, tetapi menjadi kebutuhan informasi yang terus dicari masyarakat secara berkelanjutan.
Sementara itu, kata kunci “susu formula” berada pada posisi kedua dengan rata-rata indeks pencarian sebesar 14. Meskipun jauh lebih rendah dibandingkan “menyusui”, tingginya pencarian terhadap susu formula menunjukkan bahwa masyarakat masih aktif mencari alternatif pemenuhan nutrisi bayi, terutama ketika menghadapi kendala dalam pemberian ASI eksklusif. Tren ini juga memperlihatkan bahwa produk susu formula tetap memiliki posisi kuat dalam ruang digital dan perilaku pencarian masyarakat.
Di sisi lain, kata kunci “ASI eksklusif” menunjukkan tingkat pencarian yang relatif rendah namun stabil selama periode pengamatan. Hal ini mengindikasikan bahwa istilah “ASI eksklusif” lebih sering dipahami dalam konteks edukasi formal kesehatan dibandingkan kebutuhan pencarian sehari-hari masyarakat. Sementara itu, kata kunci “stunting anak” memiliki tingkat pencarian paling rendah dibandingkan kata kunci lainnya, meskipun pemerintah terus menjadikan stunting sebagai agenda prioritas nasional.
Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara intensitas komunikasi kebijakan pemerintah dan perilaku pencarian masyarakat di ruang digital. Masyarakat cenderung lebih mencari informasi yang bersifat praktis, personal, dan langsung berkaitan dengan pengalaman sehari-hari, seperti menyusui dan susu formula, dibandingkan istilah teknis kebijakan kesehatan seperti stunting.
Selain itu, pola pencarian Google Trends memperlihatkan bahwa perhatian publik terhadap isu kesehatan ibu dan anak sangat dipengaruhi oleh kebutuhan informasi yang muncul secara langsung dalam kehidupan keluarga. Dalam perspektif komunikasi digital, kondisi ini menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemerintah perlu lebih adaptif terhadap pola konsumsi informasi masyarakat. Pesan kesehatan yang terlalu formal dan administratif berpotensi kurang menarik perhatian publik dibandingkan konten yang lebih sederhana, emosional, dan mudah dipahami.
Analisis ini juga memperlihatkan pentingnya literasi media dalam masyarakat digital. Tingginya aktivitas pencarian menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kebutuhan informasi yang besar, namun tidak semua informasi yang ditemukan melalui mesin pencari memiliki validitas dan akurasi yang memadai. Karena itu, media dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa informasi kesehatan yang muncul di ruang digital merupakan informasi yang terverifikasi, berbasis bukti, dan mudah dipahami masyarakat.
Dalam konteks komunikasi krisis, hasil analisis Google Trends menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi arena utama pembentukan persepsi publik terkait kesehatan ibu dan anak. Oleh sebab itu, pemerintah perlu memanfaatkan analisis big data seperti Google Trends untuk memahami kebutuhan informasi masyarakat secara real-time, memetakan isu yang sedang berkembang, serta merancang strategi komunikasi kesehatan yang lebih efektif, empatik, dan tepat sasaran.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis big data menggunakan Google Trends, terlihat bahwa isu kesehatan ibu dan anak masih memperoleh perhatian besar dari masyarakat Indonesia dalam periode Januari 2025 hingga April 2026. Tingginya indeks pencarian pada kata kunci “menyusui” menunjukkan bahwa masyarakat lebih tertarik mencari informasi yang berkaitan langsung dengan praktik pengasuhan dan kebutuhan sehari-hari dibandingkan istilah yang bersifat teknis seperti “stunting anak” atau “ASI eksklusif”.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pola pencarian informasi masyarakat di era digital semakin dipengaruhi oleh kebutuhan praktis dan dinamika media digital. Dalam situasi ini, pemerintah tidak lagi menjadi sumber informasi tunggal karena masyarakat juga memperoleh informasi dari media sosial, influencer, komunitas digital, serta berbagai platform daring lainnya. Ruang digital akhirnya menjadi arena utama pembentukan persepsi publik terhadap isu kesehatan.
Rendahnya pencarian terhadap istilah “stunting anak” juga menunjukkan bahwa pesan kebijakan pemerintah belum sepenuhnya menggunakan pendekatan komunikasi yang dekat dengan bahasa masyarakat. Publik cenderung lebih mudah menerima informasi yang sederhana, relevan, dan mudah dipahami dibandingkan istilah formal yang terlalu administratif. Oleh sebab itu, komunikasi kesehatan pemerintah perlu disusun dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perilaku digital masyarakat.
Selain itu, hasil analisis ini menegaskan pentingnya penguatan literasi media di tengah derasnya arus informasi kesehatan di internet. Tingginya aktivitas pencarian masyarakat perlu diimbangi dengan tersedianya informasi yang valid, terpercaya, dan berbasis bukti ilmiah agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh misinformasi maupun informasi yang belum terverifikasi.
Secara keseluruhan, pemanfaatan big data melalui Google Trends dapat membantu pemerintah memahami perhatian publik dan pola kebutuhan informasi masyarakat secara lebih cepat dan akurat. Dengan dukungan strategi komunikasi yang berbasis data, empatik, dan mudah dipahami, penanganan stunting sebagai krisis kronis diharapkan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Bruns, A., & Burgess, J. (2015). Twitter hashtags from ad hoc to calculated publics. Dalam Hashtag Publics: The Power and Politics of Discursive Networks (hlm. 13–28). New York: Peter Lang Publishing.
Coombs, W. T. (2007). Protecting organization reputations during a crisis: The development and application of Situational Crisis Communication Theory. Corporate Reputation Review, 10(3), 163–176.
Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of social media. Business Horizons, 53(1), 59–68.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan Status Gizi Nasional 2024. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Livingstone, S. (2022). Media literacy in the digital age: Critical perspectives. Journal of Communication, 72(2), 195–210.
Lipsman, A., Mudd, G., Rich, M., & Bruich, S. (2012). The power of “like”: How brands reach and influence fans through social-media marketing. Journal of Advertising Research, 52(1), 40–52.
Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). New York: Free Press.
UNICEF. (2023). Infant and young child feeding practices. New York: UNICEF.
World Health Organization. (1981). International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes. Geneva: WHO.
World Health Organization. (2023). Risk communication and community engagement in public health emergencies. Geneva: WHO.
Google Trends. (2026). Google Trends Search Interest Data on “ASI Eksklusif”, “Stunting Anak”, “Susu Formula”, dan “Menyusui” Periode Januari 2025–April 2026. Diakses dari Google Trends.
Profil Penulis:
Tiur Sitorus
Lahir di Semarang pada 23 Oktober 1981. Penulis menyelesaikan Pendidikan sarjana di Universitas Hasanuddin Makassar pada Tahun 2003 mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan saat ini dalam proses menyelesaikan Pendidikan Magister Media dan Ilmu Komunikasi di Universitas Pancasila Jakarta. Penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri. Di sela kesibukannya saat ini penulis aktif sebagai pengurus dalam Organisasi Dharma Wanita Kementerian Dalam Negeri, menjadi Master of Ceremony, Instruktur Pijat Bayi, Konselor Menyusui serta Pemberian Makanan Pendamping ASI.