src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Aktivis Lingkungan Sebut COP ke-26 “Omong Besar” Perubahan Iklim

Aktivis Lingkungan Sebut COP ke-26 “Omong Besar” Perubahan Iklim

2 minutes reading
Saturday, 30 Oct 2021 20:19 335 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Konferensi Kerangka Kerja Perubahan  Iklim PBB atau Conference of the Parties (COP) ke-26 yang dilaksanakan tanggal 31 Oktober- 12 November 2021, di Glasgow, Skotlandia bertujuan agar para pemimpin negara berkomitmen menahan laju pemanasan global dengan mengurangi pengeluaran gas rumah kaca (GRK).

Namun, XR Kaltim Bunga Terung yang merupakan pegiat lingkungan menilai, saat ini emisi gas rumah kaca terus meningkat dan keadaan bumi semakin memprihatinkan.

Mereka menganggap, para politisi terus membawa konflik kepentingan para pemain industri ekstraktif di seluruh dunia. Karena itu, COP26 tidak akan bisa menyelesaikan krisis iklim dan hanya menjadi latihan green washing terbesar yang pernah dilakukan pemerintah dunia.

“Jika COP bisa mengatasi krisis iklim, mengapa dibutuhkan sampai 26 kali pertemuan dan membahas itu-itu saja? Dimana kata-kata besar dan janji palsu, terus diutarakan, tapi tanpa aksi nyata,” ujar Juru Bicara (Jubir) XR Kaltim Bunga Terung, Monalisa, Sabtu 30 Oktober 2021.

Dikatakannya, Kaltim sendiri menjadi wilayah pengerukan dan penghancuran hutan yang masif dari tahun ke tahun. Padahal, kata Monalisa, penyebab utama krisis iklim adalah pembongkaran hutan dan pembakaran energi. 71 persen penyebab krisis iklim hanya disebabkan oleh 100 perusahaan, sebagiannya ada di Kaltim.

“Yang kita butuhkan adalah memastikan adanya kedaulatan masyarakat dalam sistem pembuatan kebijakan. Penentuan pembangunan para negara melalui adanya balai masyarakat yang berdaulat, acak, adil dan representatif, terbebas dari kekuasaan terpusat dan konflik kepentingan,” lanjutnya.

Ditambahkannya, untuk dapat mengeluarkan Kaltim dari krisis iklim, membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat. Solusinya, menyebarkan kebenaran seluas-luasnya agar mendapatkan mandat semua lapisan masyarakat guna berkolaborasi  menangani situasi terkini.

“Mari bersama-sama bersuara dan beraksi, agar para pemangku kebijakan bisa cepat sadar bahwa yang dilakukan sekarang membawa kita berlari ke jurang kehancuran ekologis dan keruntuhan sosial,” pungkasnya.

Penulis: Ningsih

Editor: MH Amal

LAINNYA
x