src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Terungkap Lewat Buku Broken Strings, Kisah Kelam Aurelie Moeremans Jadi Alarm Bahaya Grooming

Terungkap Lewat Buku Broken Strings, Kisah Kelam Aurelie Moeremans Jadi Alarm Bahaya Grooming

2 minutes reading
Monday, 12 Jan 2026 15:00 114 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Aurelie Moeremans mengungkap sisi tergelap dalam hidupnya melalui buku memoir berjudul Broken Strings. Dalam karya tersebut, grooming Aurelie Moeremans diceritakan secara terbuka sebagai pengalaman traumatis yang dialaminya sejak usia remaja.

Buku Broken Strings bukan sekadar catatan personal, melainkan pengakuan mendalam tentang bagaimana grooming Aurelie Moeremans berlangsung melalui proses manipulasi emosional yang halus. Sosok pelaku digambarkan tampil penuh perhatian dan empati, namun perlahan membangun kontrol atas kehidupan dan emosi korban.

Dilansir dari RRI, melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans ingin menunjukkan bahwa grooming Aurelie Moeremans tidak muncul dalam bentuk ancaman atau kekerasan secara langsung. Sebaliknya, proses grooming sering dimulai dari sikap manis, rasa aman semu, serta kedekatan emosional yang tampak wajar.

Dalam konteks umum, grooming merupakan pola perilaku yang dirancang secara sadar untuk membangun kepercayaan korban sebelum akhirnya dieksploitasi. Pola grooming Aurelie Moeremans yang diungkap dalam buku ini mencerminkan bagaimana pelaku terlebih dahulu membangun relasi, lalu secara perlahan memanipulasi dan mengendalikan korban.

Pelaku grooming umumnya memulai pendekatan dengan memberikan pujian, perhatian, serta dukungan emosional. Pada tahap ini, korban dibuat merasa dihargai dan dipahami, sebagaimana yang dialami dalam kisah grooming Aurelie Moeremans.

Tahap selanjutnya adalah membangun kedekatan emosional yang intens. Korban merasa menjadi sosok istimewa dan satu-satunya yang benar-benar dimengerti. Dalam banyak kasus grooming, termasuk grooming Aurelie Moeremans, pelaku kemudian berusaha menjauhkan korban dari keluarga atau lingkungan terdekat.

Isolasi tersebut membuat korban semakin bergantung secara emosional dan sulit mencari pertolongan. Grooming juga kerap tidak langsung bermuatan seksual, karena manipulasi psikologis menjadi fondasi utama dalam prosesnya.

Lembaga perlindungan anak internasional menyebutkan bahwa grooming sering kali tidak disadari oleh korban. Kesadaran biasanya muncul saat batasan pribadi telah terkikis dan dampak psikologis mulai terasa, sebagaimana tercermin dalam pengalaman grooming Aurelie Moeremans.

Grooming dapat terjadi secara langsung maupun melalui media digital. Banyak korban baru menyadari telah dimanipulasi setelah mengalami trauma jangka panjang. Hal inilah yang coba disuarakan Aurelie Moeremans melalui Broken Strings.

Lewat buku tersebut, grooming Aurelie Moeremans menjadi cermin nyata tentang bahaya grooming yang kerap tersembunyi. Aurelie berharap kisahnya dapat membuka mata publik bahwa grooming adalah kejahatan yang tidak selalu terlihat, namun memiliki dampak merusak yang mendalam dan berkepanjangan.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x