src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim dr Padillah Mante Runa (foto: Ningsih/headlinekaltim.co) HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Meski sudah mendapat suntikan vaksin COVID-19, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bontang dr Suhadi masih terpapar virus tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim dr Padillah Mante Runa memperkirakan seseorang bisa saja terpapar COVID-19 saat divaksin.
“Kemungkinan bisa jadi sudah terpapar sebelum dilakukan vaksinasi. Kalau seumpamanya mau ribet, sebelum vaksin harus swab dulu. Tapi kan tidak dilakukan seperti itu. (Penerima vaksin) dianggap sehat,” ucapnya saat dikonfirmasi media ini.
dr Padilah mengatakan butuh 10 hari masa inkubasi vaksin COVID-19 untuk menghasilkan imun tubuh terhadap virus corona. Dan setiap orang berbeda waktu terbentuk imun dari vaksin, tergantung kepada tubuh si penerima vaksin.
Maka itu, suntikan vaksin COVID-19 kedua kalinya untuk penerimanya, agar seseorang akan kebal hingga seumur hidup.
“Nah dari vaksinasi ini diharapkan ada orang kebal seumur hidup, tapi ada juga yang lemah kekebalannya, jadi tergantung tubuh seseorang. Diharapkan setelah vaksin 2 kali, umumnya kekebalan akan tinggi, apakah 1 atau 2 tahun atau bahkan seumur hidup,” tegasnya.
Mereka yang mendapat suntikan vaksin COVID-19 diharapkan tidak menderita berat ketika terpapar virus corona. Dibanding seseorang belum menerima suntikan vaksin.
Seperti diketahui Ketua IDI Bontang dr Suhadi terkonfirmasi positif COVID-19 usai menerima vaksinasi pada tahap pertama di Bontang, tepatnya 12 hari yang lalu. Akhirnya dirinya tak dapat mengikuti vaksinasi tahap kedua yang direncanakan berlangsung pada pekan ini.
Penulis : Ningsih
Editor: Amin