src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi PSK. (Foto: DKn) HEADLINEKALTIM.CO, PENAJAM – Maraknya praktik prostitusi online IKN di sekitar kawasan Desa Bumi Harapan, Penajam Paser Utara (PPU), kembali menjadi sorotan tajam usai pernyataan tegas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten PPU. Praktik ini dilakukan secara terselubung melalui aplikasi digital yang populer di kalangan masyarakat, dan menyasar pekerja Ibu Kota Nusantara (IKN) yang jauh dari keluarganya.
Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP PPU, Rakhmadi, mengungkapkan keprihatinannya terhadap tren yang kian meluas ini. Berdasarkan laporan masyarakat, hampir seluruh guest house di Desa Bumi Harapan menjadi lokasi operasi PSK berbasis aplikasi hijau, lantaran tarif sewa yang murah dan pengawasan yang minim.
“Hampir semua guest house di Bumi Harapan ada praktik prostitusi online. Kami sudah dua kali lakukan penggerebekan. Tapi setelah dipulangkan, mereka tetap muncul di aplikasi dengan berbagai tarif. Ini sangat mengkhawatirkan,” ujarnya, Senin (22/4/2025).
Data Satpol PP menyebutkan bahwa mayoritas para pekerja seks komersial (PSK) tersebut berasal dari luar daerah seperti Makassar, Surabaya, dan Bandung. Mereka memilih PPU sebagai lokasi “mangkal” karena melihat peluang dari banyaknya pekerja proyek IKN yang tinggal sendiri dan membutuhkan layanan ilegal tersebut.
“Modusnya berpindah-pindah guest house dan menggunakan identitas palsu di aplikasi. Kami kesulitan menertibkan jika tidak ada dukungan penuh dari pengelola penginapan dan masyarakat sekitar,” jelas Rakhmadi.
Menurut Rakhmadi, praktik prostitusi online ini tidak hanya melanggar norma sosial dan hukum, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Risiko penularan penyakit menular seksual meningkat, terutama karena praktik ini berlangsung sembunyi-sembunyi dan tidak terkontrol secara medis.
“Ini bukan soal moral saja, tapi juga soal kesehatan masyarakat. Jika dibiarkan, akan menjadi bom waktu yang meledak di kemudian hari,” tegasnya.
Ia menyebut persoalan ini sebagai fenomena gunung es. Apa yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil dari realita yang sebenarnya jauh lebih besar dan kompleks.
Satpol PP telah melakukan berbagai langkah preventif dan represif. Dua kali penggerebekan telah dilakukan, namun tantangan justru muncul pasca-penindakan. Banyak PSK yang kembali menggunakan aplikasi dan berganti identitas, sehingga upaya pemberantasan jadi seperti mengejar bayangan.
Rakhmadi menekankan bahwa solusi dari persoalan ini tidak bisa mengandalkan aparat penegak hukum semata. Ia menyerukan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah desa, RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, pengelola penginapan, hingga media.
“Kita butuh kerja sama. Kalau semua diam, ini tidak akan selesai. Media, lembaga keagamaan seperti MUI, dan sekolah-sekolah harus ikut menyuarakan edukasi moral dan bahaya praktik semacam ini,” ujarnya.
Ia juga meminta agar para pengelola guest house tidak bersikap permisif atau bahkan terlibat secara tidak langsung dengan praktik prostitusi online. Pemerintah Kabupaten PPU dikabarkan tengah menyusun langkah hukum tambahan untuk memberi sanksi administratif hingga pencabutan izin bagi penginapan yang terbukti menjadi tempat praktik terlarang tersebut.
Rakhmadi menegaskan pentingnya peran media massa untuk mengangkat isu ini secara berimbang, dengan tetap menjaga hak privasi dan martabat manusia. Menurutnya, pemberitaan yang konstruktif dapat membangun kesadaran masyarakat bahwa persoalan prostitusi online bukan hal remeh, apalagi jika terjadi di lingkungan yang sedang dibangun sebagai ibu kota masa depan Indonesia.
“Ini adalah wajah IKN yang sedang kita bentuk. Jangan sampai rusak oleh praktik ilegal seperti ini,” ucapnya.
Pihaknya juga menggagas rencana penyuluhan dan edukasi moral bersama tokoh agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar masyarakat memahami dampak jangka panjang dari praktik prostitusi terselubung ini terhadap keluarga dan generasi muda.
Artikel Asli baca di rri.co.id
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim