src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Rock Pile, Metode Rehabilitasi Terumbu Karang yang Direkomendasikan

Rock Pile, Metode Rehabilitasi Terumbu Karang yang Direkomendasikan

3 minutes reading
Tuesday, 5 Dec 2023 22:45 503 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO,TANJUNG REDEB – Yayasan WWF Indonesia gelar Lokakarya Pemaparan Hasil Pelaksanaan Proyek Ocean Governance pada Selasa, 5 Desember 2023 di Ballroom Hotel Bumi Segah.

Diketahui, proyek tersebut telah dilaksanakan sejak Januari 2021 hingga Desember 2023 di Kawasan Konservasi Kepulauan Derawan. Ini menjadi salah satu upaya peningkatan pengelolaan kawasan konservasi melalui program rehabilitasi terumbu karang dengan metode rock pile yang didukung oleh Uni Eropa.

Sub Koordinator Konservasi Kelautan dan Perikanan Bidang Pengelolaan Ruang Laut Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Yuliana Nidyasari mengatakan, berdasarkan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Timur, dari hasil total luasan tutupan terumbu karang, 22,86 persen luasan yang teramati masuk dalam kategori sangat baik, 28,50 persen dalam kategori baik dan 33,58 persen dalam kategori buruk.

“Untuk kawasan Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KDPS) memiliki area terumbu karang dalam kategori baik sebesar 30 persen,” jelasnya.

Dikatakannya, luasan tutupan terumbu karang yang ada saat ini dikhawatirkan akan terus menurun apabila kurangnya pihak yang peduli terhadap keberlangsungan hidup ekosistem terumbu karang, salah satunya melalui program rehabilitasi.

Direktorat Jendral Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut, Sukendi Darmansyah menuturkan, program rehabilitasi terumbu karang yang sudah dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur bersama WWF-Indonesia dan mitra lainnya, sudah sejalan dengan tujuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Menurutnya, ada dua strategi yang menjadi rekomendasi dalam pengelolaan kawasan konservasi ini, yaitu saling berkolaborasi dan bertanggung jawab.

“Strategi ini juga diimbau agar dapat dilakukan, baik dari pemerintah pusat hingga pemerintah lokal,” ucapnya.

Diketahui, Yayasan WWF Indonesia didukung oleh kelompok masyarakat lokal, seperti Pokdarwis Sumping Nusa dan Asosiasi Guide Snorkeling Derawan (AGSD), Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, telah melakukan pemantauan di lokasi rehabilitasi terumbul karang sebanyak empat kali, yaitu pada bulan Januari, Mei, September dan November 2023.

Saat ini pertumbuhan rekrutmen karang paling signifikan terlihat pada pemantauan di bulan Mei hingga November 2023 yang menunjukkan adanya koloni karang yang menempel pada struktur rock pile.

Hal ini menunjukkan bahwa rock pile berperan secara efektif sebagai media alami menempelnya planula karang dan dapat menjadi metode rehabilitasi terumbu karang yang direkomendasikan.

Salah satu perwakilan tim pengelola di lokasi rehabilitasi terumbu karang, Rahmat menyampaikan, berdasarkan hasil pemantauan, hingga saat ini sudah mulai terlihat bagaimana karang kecil yang menempel di rock pile.

“Dapat dikatakan, rock pile menunjukkan hasil positif terhadap pemulihan ekosistem di lokasi tersebut. Rock pile ini akan dikelola oleh pemerintah kampung dan kelompok masyarakat Pulau Derawan,” ungkapnya.

Kata dia, rancangan besar rock pile yang telah dibuat dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak agar dapat menjadi destinasi wisata selam alternatif, penelitian, dan edukasi bagi masyarakat. “Serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” bebernya.

Site Coordinator for Derawan MPA WWF-Indonesia, Irvan Ahmad Fikri mengatakan, pasca berakhirnya proyek EU-Ocean Governance ini, Kawasan Konservasi Kepulauan Derawan diharapkan dapat menjadi percontohan di wilayah Kalimantan.

“Dan juga nasional dalam pengelolaan kawasan konservasi yang efektif,” pungkasnya. (Riska)

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x