src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Panaskan Mesin Alat Berat, Operator Ditemukan Meninggal di Dalam Kabin

Panaskan Mesin Alat Berat, Operator Ditemukan Meninggal di Dalam Kabin

waktu baca 4 menit
Kamis, 1 Okt 2026 19:48 52 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Unit crane itu mesinnya menyala. Namun, tak ada pergerakan. Apa yang dilakukan operator alat berat itu di dalam ruang kendali? Curiga, Manager Operasional PT Suryanusa Permatabahari, Dobby mendekat. Di dalam kabin alat berat yang beroperasi di area PT Suryanusa Permatabahari, Jalan KH Mas Mansyur, Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, itu, pria MK (55) tampak tergeletak tak bergerak, Kamis, 1 Oktober 2026.

Belakangan diketahui warga Jalan Otto Iskandar Dinata, Samarinda ini sudah meninggal. Korban diketahui telah bekerja di perusahaan tersebut selama hampir 11 tahun.

Dobby, menuturkan, dirinya masih sempat melihat MK berada di sekitar crane pada pukul 14.00 WITA. Saat itu, korban terlihat sedang menghidupkan crane. Dobby mengaku tidak terlalu memperhatikan aktivitas MK karena sedang menemui sejumlah sales yang datang ke lokasi perusahaan.

“Ini sekitar jam 2-an, kira-kira. Saya kebetulan tadi datangin sales-nya, sales crane ini. Saya lihat dia memang lagi hidupin crane. Saya juga nggak terlalu mantau, perhatikan,” kata Dobby saat diminta keterangan.

Setelah urusannya bersama para sales selesai, Dobby kemudian kembali memperhatikan crane tersebut. Ia melihat alat masih menyala, tetapi tidak tampak adanya pergerakan dari korban. Kondisi itu membuat Dobby merasa curiga. Sebab, menurutnya, keadaan tersebut tidak seperti biasanya. Ia akhirnya mendatangi crane untuk memastikan kondisi MK.

Dobby mengaku sempat memegang dan menggerakkan kaki korban. Namun, MK tidak memberikan respons. Melihat kondisi tersebut, ia langsung panik dan meminta bantuan pekerja lain untuk melakukan pengecekan. Ia meminta beberapa pekerja lain untuk mengecek kondisi korban. Sejumlah rekan MK kemudian naik dan memeriksa tubuh korban.

Dari pengecekan tersebut, para pekerja menyampaikan kepada Dobby bahwa korban diduga sudah tidak menunjukkan respons. “Teman-teman bilang, kayaknya udah nggak ada nih, Pak. Nah, habis itu saya langsung telepon Pak RT. Saya lapor ke Pak RT dulu, terus dari Pak RT baru panggil pihak dari kepolisian dan lain-lain. Sampai sekarang prosesnya seperti itu aja,” jelas Dobby.

Selama ia mengenal dan bekerja bersama MK, korban tidak pernah menyampaikan keluhan mengenai kondisi kesehatan. Kata Dobby, korban selama ini terlihat beraktivitas seperti biasa. Namun, pihak perusahaan kemudian memperoleh informasi dari rekan kerja yang sempat berkomunikasi dengan keluarga korban.

Berdasarkan informasi tersebut, MK sempat berpamitan kepada istrinya pada Kamis pagi sebelum beraktivitas. “Kalau sama saya sih nggak ada keluhan sakit , biasa-biasa saja, tapi tadi terakhir katanya dari pihak teman-teman dari kantor, kan sempat ketemu sama istrinya, katanya istrinya bilang tadi pagi dia sempat pamit sudah sama istrinya. Kayaknya waktu itu udah dekat, dan begitu disampaikan istrinya, istrinya udah nggak kaget, malah anaknya yang syok. Informasinya seperti itu,” ungkap dia.

Setelah laporan diterima, kepolisian bersama tim Inafis datang ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap korban.

Pamapta II Polresta Samarinda, Ipda Fardhan Wijaya, mengatakan informasi mengenai kejadian tersebut diterima dari warga. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan terhadap kondisi korban yang ditemukan di dalam kabin crane. Dari pemeriksaan awal Inafis, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh MK. Informasi sementara yang diterima petugas mengarah pada dugaan kelelahan. Namun, penyebab pasti kematian korban masih memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.

“Beliau meninggal dengan keadaan tanpa adanya kekerasan, informasi awal karena kelelahan. Pada saat dicek tidak ada temuan kekerasan apapun,” kata Fardhan.

Fardhan membenarkan identitas korban sebagai warga Jalan Otto Iskandar Dinata. Ia juga menyebut MK telah bekerja di PT Suryanusa Permatabahari selama kurang lebih 11 tahun. Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda untuk menjalani proses visum. Setelah proses tersebut selesai, jenazah akan diserahkan kepada pihak keluarga.

“Kita evakuasi ke Rumah Sakit AWS untuk dilakukan visum. Setelahnya mayat tersebut akan dibawa keluarga,” tambah dia.

Fardhan juga menjelaskan bahwa saat sebelum ditemukan, korban tidak sedang mengoperasikan crane untuk aktivitas pekerjaan, melainkan tengah melakukan pemanasan terhadap alat tersebut. Beberapa jam setelah korban terlihat memanaskan crane, MK kemudian ditemukan dalam kondisi tidak bergerak di dalam kabin.

“Beliau pada saat kejadian ini sedang memanasi crane, dengan unit bawaannya dia sendiri. Kemudian selang beberapa jam diketemukan oleh beliau (manager) dengan kondisi tidak bergerak,” demikian Ipda Fardhan Wijaya. (Retno)

LAINNYA
x