24.9 C
Samarinda
Monday, October 18, 2021

Motus Animi Continuus

Oleh: Yanuardi Syukur*

Setelah tetes terakhir teh meninggalkan cangkirnya, Aschenbach mendambakan udara segar, sebab sejak matanya terbuka di pagi hari tadi, pekerjaan telah menyita perhatiannya. Pekerjaan Aschenbach sungguh menyiksa, meresahkan batin dan menguras tenaga…hingga akhirnya setelah makan siang, Aschenbach tak lagi memiliki semangat melanjutkan karya itu, tak lagi dapat merasakan motus animi continuus…” [Thomas Mann, ‘Death in Venice’]

Stuck yang dialami oleh tokoh Aschenbach dalam novel novelis Jerman Thomas Mann (1875-1955) di atas sering juga dialami oleh kita semua. Ketika tugas lagi banyak-banyaknya, kita pun terjebak dalam kebuntuan. Kita tak lagi bersemangat. Namun, aktivitas ‘motus animi continuus’, sebuah ‘perpetual effort of mind; to continually arouse the consciousness’, upaya untuk terus membangkitkan kesadaran, kata negarawan Romawi Markus Tullius Cicero (w. 43 SM), harus terus dilakukan.

Di masa pandemi seperti sekarang juga kita harus bangkitkan pikiran sadar tersebut. Bahwa ujian ini belum berakhir dan kesadaran untuk beradaptasi dan berinovasi harus berjalan beriringan bersosialisasi dan berkontribusi. Sesulit apapun medan yang kita hadapi, yakinlah bahwa selalu ada jalan untuk tiba pada tujuan.

Upaya membangkitkan kesadaran dapat dilakukan dengan beragam cara. Masyarakat Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, punya tradisi unik: membuat kuburan di dalam rumah; samping ruang makan atau ruang tamu (liputan6.com, 18/6/2016). Tradisi itu sudah berlangsung sejak lama yang dipengaruhi sistem kerajaan di Siau ketika itu. Yan Pointi, warga Kelurahan Paniki, Kecamatan Siau Barat menjelaskan, “Zaman kerajaan dulu, yang bisa dimakamkan pada satu lahan tertentu hanyalah keluarga kerajaan. Makanya, sebagai warga umum menggunakan lahan kosong milik pribadi, seperti samping (rumah), untuk dijadikan lahan pemakaman.”

Selain faktor struktur, tradisi itu secara kontinyu melahirkan kesadaran lapisan realitas eksistensial, yakni kehidupan dan kematian yang sangat dekat. Sebagian masyarakat ada yang percaya bahwa roh orang yang wafat itu masih ada di sekitar kita jika mereka di antar ke alam gaib lewat ritual tertentu. Bedanya, ada yang memahami bahwa roh tersebut memiliki power atau tidak punya power. Pemahaman tentang power roh itu sangat beragam antara satu dan lainnya.

Salah seorang alim ada yang membuat kuburan di rumahnya. Bahkan, sesekali ia tidur di dalamnya. Sangat mungkin itu agar membangkitkan kesadaran spiritual terkait kehidupan pasca dunia. Sebuah realitas yang hanya disadari oleh orang yang beragama. Yang tidak percaya agama hanya yakin bahwa realitas itu hanya temporal saja, dunia saja, setelah berakhir dunia, kembali kembali tiada. Berbeda dengan umat beragama yang yakin ada balasan pasca semua berakhir.

Soal balasan pasca kehidupan ini sifatnya proporsional. Artinya, siapa berbuat baik atau buruk maka dia akan dibalas proporsional, sebanding dengan keadilan dalam mahkamah akhirat. Dalam sebuah doa Islam, misalnya, ada teks agar balasan kepada orang zalim diberikan secara proporsional. Itu jadi pengingat bahwa kepada orang jahat sekalipun, kita tetap harus berlaku adil dan proporsional: “….Jadikan pula balasan kami kepada orang yang menzalimi kami dengan balasan yang sesuai untuknya (tidak melampaui batas).” Petikan doanya sebagai berikut:

“Ya Allah! Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu. Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu. Berikan pula keyakinan yang dengannya terasa ringan bagi kami segala musibah yang menimpa kami. Berilah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami. Jadikanlah semua itu sebagai pewaris dari kami. Jadikan pula balasan kami kepada orang yang menzalimi kami dengan balasan yang sesuai untuknya (tidak melampaui batas). Tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. Jangan Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami. Jangan pula Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar. Jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami. Jangan jadikan orang yang tidak menyayangi kami dapat menguasai kami.”” (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim)

Dalam doa ini, kita juga diajarkan untuk menghadirkan kesadaran untuk tidak silau dengan dunia: “Jangan pula Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar.” وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا. Kemudian, jangan juga ilmu kita hanya berorientasi kepentingan dunia: “Jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami.” وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا.

Melahirkan keadaran harus dilatih setiap waktu. Melihat fenomena tertentu, kita merenungkan, bahwa itulah tabiat dunia. Dulu kawan sekarang lawan, dulu nelangsa kini berjaya, dan dulu dipuja kini dicerca. Cepat sekali berubah pandangan orang tentang sesuatu. Maka, kalau hanya fokus dengan ‘apa kata orang’, kita nggak akan pernah bahagia. Kita nggak akan orisinal jadi diri sendiri. Sebaliknya kita terjerat, jadi budak dari pandangan orang terhadap diri kita.

Menginjak usia 40 tahun, Rasulullah saw. gemar berkhalwat, yakni menyendiri di Gua Hira beberapa malam hingga hitungan bulan. Ketika bertahannus di gua yang terletak di Jabal Nur, sebelah barat laut kota Mekkah tersebut beliau yang mulia menghadirkan kesadaran spiritual tentang diri dan masyarakatnya. Tindakan mengambil jarak dari masyarakat itu adalah bagian dari persiapan mengemban tugas besar kenabian.

Ulama asal Damaskus, Al-‘Allamah M. Said Ramadhan Al-Buthy (1929-2013) dalam Sirah Nabawiyah menjelaskan bahwa salah satu hikmah terbesar dari khalwat adalah menghilangkan penyakit yang tidak bisa diobati, serta merenungi diri sendiri dengan menjauhkan diri dari hiruk-pikuk dunia dan gemerlap isinya. Anasir-anasir kesombongan, ujub, riya, dengki, dan cinta dunia adalah penyakit yang merasuki jiwa, kemudian bercokol di dalam hati dan dapat menghancurkan batin manusia.

Penyakit batin seperti itu sulit disembuhkan kecuali dengan menyendiri beberapa saat untuk memikirkan hakikat-Nya, Kebesaran-Nya, dan zat-Nya yang Maha Agung lagi Maha Menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Perenungan panjang itu akan membuat hati kembali jernih di bawah cahaya pengetahuan dan keimanan.

Orang yang selalu menghadirkan kesadaran sesungguhnya mengamalkan ayat ini: “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191).

Orang yang punya kesadaran akan memiliki Al-’Azm, yaitu tekad yang bulat untuk melakukan perjalanan, siap menghadapi segala rintangan dan mencari penuntun yang dapat menghantarkan ke tujuan. Seberapa jauh seseorang memiliki kesadaran, maka sejauh itu pula tekadnya, dan seberapa jauh tekad yang dimilikinya, maka sejauh itu pula persiapan yang dilakukannya. Tekad itu haruslah dijaga, baik tekad pada permulaan perjalanan maupun tekad saat berada di dalam perjalanan.

Tekad itu kemudian akan membawa kita pada keteguhan dan membebaskan diri dari keragu-raguan. Kemudian kita jadi berani menyingkirkan segala rintangan dan akan menghadapi semua penghalang. Sebagai pejalan menuju kebaikan, kita akan menjadi pribadi yang haus untuk mereguk cawan pengetahuan dan mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bijaksana.

Perjalanan menghadirkan kesadaran memang tidak mudah. Akan tetapi tiap orang dapat melakukannya, karena dia memiliki otonomi dalam berkehendak sebagai manusia. Otonomi itu membuatnya memilih ingin sadar atau ingin tidak sadar. Tapi pribadi yang bijaksana akan memilih pilihan untuk membangkitkan kesadaran terus menerus untuk mengikuti jalan yang lebih terang.

*Penulis adalah Antropolog, Presiden Rumah Produktif indonesia.

Komentar
- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU