src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO – Kisah Nenek Jumariah, jemaah haji lansia asal Maros, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan pada musim Haji 2026. Perempuan sebatang kara itu berhasil mewujudkan impiannya melihat Ka’bah setelah puluhan tahun menabung demi berangkat ke Tanah Suci. Perjalanan hidupnya kini bahkan menjadikannya ikon global Haji 2026 melalui dokumenter Makkah Route.
Dilansir dari Kementerian Agama RI – Haji.go.id, Jumariah tak kuasa menahan haru saat pertama kali melihat Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Minggu (10/5/2026). Air mata perempuan lanjut usia itu langsung tumpah ketika bangunan suci yang selama ini hanya ia panjatkan dalam doa akhirnya berdiri di depan matanya.
“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucap Jumariah lirih saat ditemui di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah.
Jumariah diketahui merupakan jemaah haji asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di usia yang diperkirakan telah memasuki 70-an tahun, ia menjalani hidup seorang diri di kampung halamannya.
Setiap hari, Jumariah menghabiskan waktunya dengan merawat ayam peliharaan, membersihkan rumah panggungnya, hingga bekerja di kebun dan sawah. Dengan kondisi hidup sederhana, ia tetap menyimpan tekad besar untuk bisa berangkat haji.
Perjuangan itu dimulai sekitar 20 tahun lalu. Meski tidak bisa membaca maupun menulis karena tak pernah mengenyam pendidikan formal, Jumariah tetap menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit.
Ia menyimpan uang hasil bekerja di dalam ember di rumahnya secara diam-diam. Dari pendapatan harian yang diperoleh, sebagian uang selalu ditabung demi mewujudkan impian berangkat ke Tanah Suci.
“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” tuturnya.
“Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” sambungnya.
Pada 2011, tabungan Jumariah akhirnya mencapai Rp25 juta dan digunakan untuk mendaftar haji dengan bantuan kerabatnya. Setelah resmi terdaftar, semangatnya untuk menabung dan mempersiapkan diri semakin besar.
Ia bahkan tercatat mengikuti lebih dari 80 kali sesi manasik haji tanpa pernah absen. Jarak sekitar 15 kilometer dari rumah menuju lokasi manasik tak menjadi hambatan bagi dirinya.
Kegigihan Jumariah kemudian menarik perhatian Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Maros. Kisah hidupnya dinilai menginspirasi hingga diajukan menjadi pemeran dalam video dokumenter “Makkah Route” milik Pemerintah Arab Saudi.
“Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi,” ungkap Ketua Kloter UPG-14, Sitti Hawaisyah.
Video dokumenter tentang kehidupan sederhana Jumariah di Maros itu kini menjadi bagian dari materi promosi internasional untuk menyambut musim Haji 2026. Sosoknya pun dikenal luas sebagai ikon inspiratif musim haji tahun ini.
Meski telah berusia lanjut, kondisi fisik Jumariah disebut masih sangat prima. Ia mampu menjalani berbagai rangkaian ibadah di Madinah dan Makkah tanpa keluhan berarti.
Sejak tiba di Makkah pada Sabtu (9/5/2026), Jumariah bahkan telah menuntaskan tiga kali umrah, terdiri dari satu umrah wajib dan dua umrah sunnah.
“Di tanda pengenal saya ini ada tanda merah, artinya saya punya riwayat sakit. Tapi di gelang Nenek Jumariah bersih, dia sehat total,” kata Sitti Hawaisyah.
Tetangganya sekaligus rekan satu kloter, Marwati, juga mengaku kagum dengan semangat Jumariah selama menjalankan ibadah.
“Selama umrah beliau paling semangat. Kita yang muda ini sudah kecapekan, beliau masih mau jalan,” ujar Marwati.
Saat ditanya mengenai rahasia kesehatannya, Jumariah mengaku rutin bekerja di sawah setiap hari dan banyak minum air putih. Ia juga berusaha menjaga pikiran tetap tenang dan tidak memilih makanan.
Kini, Jumariah tengah bersiap menjalani puncak ibadah haji di Padang Arafah. Penantian panjang yang ia simpan selama puluhan tahun akhirnya perlahan terwujud di Tanah Suci.