src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Gubernur Isran diwawancarai bersama paman dari Vino, bocah yang menjalani isoman seorang diri di Kubar. (ist)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Sebagai bentuk empati pada nasib Vino, bocah yatim piatu karena orang tuanya jadi korban COVID-19, Gubernur Kaltim Isran Noor berniat untuk mengangkat bocah 10 tahun itu menjadi anak angkat.
Vino sendiri adalah siswa 3 SD di Kampung Linggan, Purworejo, Kabupaten Kutai Barat. Kedua orangtuanya meninggal setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit lantaran terpapar COVID-19.
Bocah ini juga masih menjalani isolasi mandiri di rumahnya seorang diri setelah hasil swab antigennya dinyatakan positif COVID-19.
“Saya sudah bicara dengan istri saya, anak-anak saya. Saya akan berkomunikasi, saya akan ambil dia sebagai anak angkat saya, sebagai anak sendiri,” ucapnya saat diwawancarai salah satu stasiun televisi swasta nasional, tadi malam.
Terkait dengan legalitas dokumen pengangkatan anak jika memang Vino bersedia diambil anak oleh orang nomor satu tersebut, tidak menjadi masalah.
Dikatakan Isran, dirinya hanya ingin masa depan Vino lebih baik, khususnya dalam hal pendidikan.
“Saya tidak berfikir legal, tidak legal. Tapi saya ingin anak itu bisa berkembang seperti biasanya. Dengan kondisinya selama ini seperti yang disampaikan Pak Margono pamannya, dia baik-baik saja, tidak merasa tertekan, tidak merasa sedih karena anaknya masih berusia di bawah 10 tahun. Saya punya empati, kata ibu (Istri Gubernur Kaltim Isran Noor, red), iya tidak masalah kita ambil, kalau dia mau. Kalau dia tidak mau, ya kita tetap melakukan pembinaan pendidikan sampai ke perguruan tinggi,” kata mantan Bupati Kutim ini.
Dikatakannya, nasib Vino diketahuinya setelah membaca berita dari media online. Dalam waktu 6 jam setelah orangtua Vino meninggal, dirinya juga telah menerima informasi tersebut.
“Saya baca dari media online, itu yang saya dapatkan. Pada saat meninggalnya bapak dan ibunya, kira-kira 6 jam, saya sudah terima informasinya, kalau orangtua Vino meninggal karena COVID dan Vino sendiri positif. Karena laporan zaman sekarang ini kan cepat, kalau yang begitu pasti kemana-mana WA dan sebagainya,” katanya.
Paman Vino, Margono menceritakan, saat ini kondisi Vino jauh lebih membaik. Walaupun melakukan isolasi mandiri seorang diri, namun kondisi Vino masih stabil.
Tak hanya itu saja, pihak keluarga juga terpaksa hanya menemani Vino dari teras rumahnya. Sedangkan untuk aktivitas keseharian seperti cuci pakaian, Vino melakukan sendiri. Pihak keluarga juga memberikan makan, minum dan dukungan psikis.
“Vino keadaannya sekarang baik-baik saja. Biasanya nangis, sedih tapi sudah tidak tertekan. Kami anggap itu wajar tapi tidak sampai drop. Dia masih isolasi mandiri sampai tanggal 24 Juli 2021 (hari ini, Red). Dan saat ini tidak ada gejala dan tidak ada keluhan,” katanya saat diwawancarai di acara TV yang sama.
Terkait dengan niat Gubernur Kaltim untuk mengangkat Vino sebagai anak, Margono mengaku masalah itu harus dibicarakan terlebih dahulu dengan kerabatnya yang lain.
“Kami selaku keluarga sebetulnya terima kasih atas niatan Gubernur. Mohon maaf sebenarnya kami pihak keluarga belum bisa memberikan jawaban karena kondisi anak Vino yang lebih berkuasa hak asuhnya kan embahnya (neneknya, red) di Jawa. Kami akan rundingkan dulu dengan pihak yang lebih berhak,” katanya lagi.
Dikatakan Margono, awal mula diketahui kedua orangtua Vino terpapar COVID-19 yakni pada 11 Juli 2021 lalu, diawali oleh ayahnya yang merasakan badannya tidak sehat.
Berselang 4 hari kemudian, sang ayah dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan ibunya, juga terpaksa dilarikan ke rumah sakit pada 12 Juli 2021 lantaran kondisinya melemah dan mengalami sesak nafas.
Namun beberapa hari dirawat, keduanya menghembuskan nafas terakhir. Sang ibu meninggal lebih dulu dalam kondisi hamil 5 bulan. Sehari kemudian, ayah Vino menyusul istrinya tersebut.
“Sebelum tanggal 11 Juli 2021 muntah, makan, muntah (Bapak Vino, red) . Dia punya riwayat tipes. Kalau ibunya hamil 5 bulan, waktu itu istrinya nafasnya berat makanya disarankan dibawa ke rumah sakit. Kalau bapaknya ini sehari-hari berjualan pentol,” cerita Margono mengenang sang adik.
Penulis : Ningsih
Editor: MH Amal