src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
(Foto: AFP/KEMAL ASLAN)
HEADLINEKALTIM.CO – Fenomena hujan meteor Geminid kembali menjadi momen langka yang ditunggu para pecinta astronomi. Hujan meteor Geminid diprediksi akan mencapai fase paling aktif pada pertengahan Desember dan dapat disaksikan langsung di berbagai wilayah Indonesia.
Dilansir dari CNN Indonesia, hujan meteor Geminid akan mencapai puncaknya pada Jumat (14/12) malam hingga Senin (15/12) pagi, menjadikannya salah satu fenomena langit paling menarik di penghujung tahun. Fenomena hujan meteor Geminid ini dikenal sebagai salah satu hujan meteor teraktif, dengan jumlah lintsan meteor yang sangat tinggi.
Hujan meteor Geminid tahun ini berlangsung pada 4–20 Desember, namun intensitas terbesar terjadi dalam rentang dua hari tersebut. Dalam kondisi ideal, pengamat bisa menyaksikan hingga 120 meteor per jam yang melintas dari arah rasi bintang Gemini.
Hujan meteor Geminid terjadi saat kerikil dan debu antariksa memasuki atmosfer Bumi dan terbakar, menciptakan jejak cahaya yang sering tampak sebagai bola api kecil. Material pembentuk hujan meteor Geminid berasal dari asteroid Phaethon, objek langit yang memerlukan waktu sekitar 1,4 tahun untuk mengitari Matahari. Proses ini menjadikan hujan meteor Geminid sebagai salah satu fenomena yang paling konsisten setiap tahunnya.
Fenomena hujan meteor Geminid dapat diamati mulai pukul 21.00 WIB hingga menjelang pagi. Tak perlu teleskop atau alat khusus, karena hujan meteor Geminid dapat terlihat dengan mata telanjang selama pengamat berada di area minim polusi cahaya. Semakin gelap lokasi, semakin jelas pula meteor-meteor Geminid terlihat melintas.
Tahun ini, kondisi langit diperkirakan cukup mendukung karena Bulan telah melewati fase sebagian, sehingga cahayanya tidak terlalu mengganggu aktivitas pengamatan. Meski demikian, beberapa daerah sudah memasuki puncak musim hujan, sehingga awan tebal berpotensi menutupi langit ketika hujan meteor Geminid mencapai puncaknya.
Secara historis, hujan meteor Geminid dikenal memiliki warna cahaya yang lebih kaya dibanding hujan meteor lain. Mayoritas meteor Geminid berwarna kekuningan, dengan kecepatan lintasan yang relatif lebih lambat dibanding meteor Perseid atau Leonid, membuatnya lebih mudah diamati dan dinikmati.