src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Satu unit alat berat milik Dinas PUPR Samarinda dikerahkan untuk membuka sekaligus memperdalam jalur air menuju Benanga, Selasa (29/9/2026). (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Debit air di Bendungan Benanga, Lempake, Samarinda Utara, terus menurun selama musim kemarau. Setelah aliran dari kawasan track dayung belum mampu menjaga pasokan secara stabil, satu unit alat berat milik Dinas PUPR Samarinda kini dikerahkan untuk membuka sekaligus memperdalam jalur air menuju Benanga.
Alur yang dikerjakan memiliki panjang sekitar 300 meter. Pengerukan ini menjadi upaya terbaru untuk membuat air dari kawasan track dayung bisa bergerak menuju Benanga dengan mengandalkan aliran alami, tanpa terus bergantung pada pompa.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso mengatakan langkah tersebut diambil setelah beberapa metode sebelumnya belum mampu mempertahankan debit air dalam waktu lama.
Sebelumnya, Pemkot Samarinda bersama PUPR, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV dan Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) mencoba mengalirkan air dari track dayung ke Benanga menggunakan pipa.
“Kita mencari solusi karena air baku di intake Benanga terganggu. Sebelumnya kita mencoba memasang pipa dari track dayung menuju Benanga. Waktu itu sempat berjalan, produksi yang biasanya 40 persen bisa kita naikkan menjadi 60 persen,” kata Suwarso, Selasa, 29 September 2026.
Namun, aliran melalui pipa kemudian terkendala kondisi elevasi. Pemerintah lalu mencoba cara lain dengan menggunakan pompa untuk mendorong air melewati tanggul menuju intake Benanga.
Cara tersebut sempat memberikan hasil lebih tinggi. Produksi air baku yang sebelumnya berada di kisaran 60 persen dapat didorong hingga sekitar 80 persen. “Plan B kita gunakan pompa air dengan jalur melewati atas tanggul. Sempat dari 60 persen kita coba naikkan menjadi 80 persen di intake,” tambah dia.
Masalahnya, peningkatan tersebut hanya bertahan sekitar dua hari. Debit air kembali turun sehingga penggunaan pompa dinilai belum cukup untuk menjaga pasokan secara berkelanjutan. Dari kondisi itu, penanganan kemudian diarahkan pada jalur aliran. Satu unit alat berat PUPR digunakan untuk mengeruk dan memperdalam alur sepanjang sekitar 300 meter dengan harapan air dapat mengalir menuju Benanga secara lebih alami.
“Kita coba kembali dengan melakukan pendalaman alur di Benanga supaya sistemnya mekanis dan tidak menggunakan mesin,” jelas Suwarso.
Pekerjaan tersebut masih dipantau untuk melihat seberapa besar tambahan air yang bisa masuk ke Benanga. Jika debit kembali melemah, Pemkot telah berkoordinasi dengan BWS Kalimantan IV untuk menyiapkan pompa mobile sebagai alternatif.
Suwarso menyebut satu kendaraan pompa tersebut memiliki dua unit mesin dengan kemampuan memompa air sekitar 500 liter per detik. Pompa itu belum menjadi langkah utama, melainkan disiapkan apabila pendalaman alur belum mampu menjaga pasokan air baku.
“Kalau nanti bahan baku airnya kembali menurun, kita sudah komunikasi dengan BWS Kalimantan IV untuk menggunakan mesin pompa mobile. Satu mobil ada dua unit dan bisa memompa sekitar 500 liter per detik,” tutur dia.
Masalah lain muncul karena sumber air dari kawasan track dayung juga masih dimanfaatkan petani di sekitarnya. Air tersebut digunakan untuk menyiram berbagai tanaman, termasuk sayuran dan jagung.
Oleh karena itu, penambahan aliran menuju Benanga tidak bisa dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan petani. BPBD bersama pihak terkait akan memantau kondisi tersebut setiap hari agar kebutuhan air baku dan pertanian tetap bisa berjalan.
“Di track dayung ini sebagian besar petani di kanan-kirinya masih menggunakan air untuk penyiraman sayuran, jagung dan lainnya. Jadi setiap hari kita evaluasi supaya petani lokal tetap bisa menggunakan air, tetapi intake juga tetap berproduksi,” lanjutnya.
Kondisi Benanga sendiri sebelumnya telah berada pada level kritis. Tinggi muka air sekitar 6,4 meter, sementara batas terendah untuk pengambilan air baku berada di sekitar 6 meter. Kondisi tersebut membuat tambahan sumber air dibutuhkan untuk menjaga produksi air bersih.
Sebelum pengerukan dilakukan, aliran dari track dayung dilaporkan baru mampu menaikkan muka air Benanga sekitar 30 sentimeter. Kondisi itu mendorong pencarian cara lain agar tambahan debit yang masuk bisa lebih optimal.
Suwarso mengatakan target sementara adalah mempertahankan produksi air baku hingga sekitar 80 persen. Angka tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan warga di tengah pasokan air bersih di kawasan Lempake yang masih terganggu.
“Yang penting dua-duanya berjalan. Kita maksimalkan, mudah-mudahan bisa sampai 80 persen. Intake tetap bisa berproduksi untuk memenuhi kebutuhan warga walaupun belum 100 persen,” demikian Suwarso. (Retno)