src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Titian ulin Bontang Mangrove Park dengan panjang 2,15 kilometer membentang di hutan mangrove seluas 279 hektare. (Antara Kaltim/Ahmad Rifandi). HEADLINEKALTIM.CO, BONTANG – Bontang Mangrove Park (BMP) di Kota Bontang, Kalimantan Timur, kian mencuri perhatian sebagai destinasi wisata alam sekaligus contoh sukses kolaborasi konservasi. Kawasan hutan mangrove seluas 279 hektare ini bukan hanya benteng ekologis pesisir, tetapi juga sumber ekonomi dengan nilai manfaat ditaksir mencapai Rp6,47 miliar per tahun.
Dilansir dari Antara Kaltim, kawasan yang diresmikan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni pada 19 Maret 2018 ini menghadirkan kombinasi unik antara konservasi, edukasi, dan wisata petualangan. Dari jembatan kayu ulin sepanjang 2,15 kilometer, pengunjung bisa menikmati hijaunya kanopi mangrove sekaligus belajar tentang beragam jenis tanaman bakau, mulai dari Rhizophora sp hingga Sonneratia sp.
Menurut Budi Isnaini, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Kutai, BMP dirancang untuk menjadi ruang kelas alam yang ramah bagi siapa saja.
“Kawasan ini adalah wisata yang banyak bersentuhan dengan hutan mangrove. Anak-anak kita bisa belajar banyak tentang alam,” ujarnya.
Selain menjaga ekosistem, BMP juga memberi penghidupan nyata bagi masyarakat sekitar. Aktivitas wisata berupa tracking mangrove dan berperahu mampu menghasilkan pendapatan Rp117,12 juta hanya dalam tiga bulan. Warung, penyedia jasa tur, hingga pedagang kecil turut merasakan manfaatnya.
Studi yang dilakukan Rina Marsela Safitri mengungkap bahwa nilai ekonomi BMP berasal dari beragam aktivitas wisata yang berjalan beriringan dengan upaya konservasi. Dengan kata lain, hutan ini bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga “mesin ekonomi hijau” yang menggerakkan roda kehidupan warga pesisir.
Keberhasilan pengelolaan BMP bahkan menarik perhatian Komisi IV DPR RI. Rombongan legislator yang dipimpin Panggah Susanto mengunjungi kawasan ini untuk melihat langsung bagaimana konservasi bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.
Usai menanam pohon dan berdialog dengan pengelola, mereka sepakat bahwa kunci sukses BMP adalah gotong royong. Pemerintah, perusahaan swasta, dan warga bahu membahu menjaga hutan bakau agar tetap lestari sekaligus produktif.
Syaiful Bahri, Kepala Balai Taman Nasional Kutai, menegaskan dukungan pemerintah daerah dan pihak swasta sangat berperan dalam percepatan perkembangan BMP.
“Hasilnya bukan main. Mangrove Park di Bontang menjadi salah satu destinasi unggulan. Warung-warung jadi laku, penyedia jasa tur tersenyum, dan ekonomi warga ikut menggeliat,” jelasnya.
Saking terkesan, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, menyebut BMP sebagai salah satu hutan mangrove terbaik di Indonesia.
“Ini contoh keren kolaborasi yang berhasil. Harusnya model seperti di Bontang ini bisa ditiru di tempat-tempat lain di Indonesia,” ucapnya.
Meski sukses, tantangan tetap ada, mulai dari risiko konversi lahan, penebangan liar, hingga potensi kebakaran hutan. Berbagai langkah antisipasi telah disiapkan, termasuk penegakan hukum dan penguatan program ekowisata berbasis masyarakat.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Gubernur Rudy Mas’ud menggagas penanaman pohon Paulownia, yang dikenal mampu menyerap karbon lebih cepat sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi.
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya