src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Book Party Edisi Belajar Bahasa Isyarat Bareng. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)BAHASA isyarat menjadi jembatan komunikasi bagi penyandang tunarungu atau orang yang memiliki gangguan pendengaran. Namun, ini bukan hanya soal gerakan tangan saja, tetapi juga melibatkan ekspresi wajah untuk menyampaikan pesan dan makna.
Berada di luar ruangan dengan suasana sore yang cerah. Hadi Prabowo, salah satu pengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tanjung Redeb tampak rapi mengenakan pakaian berwarna biru dan celana jeans. Ia dengan sabar memperagakan bahasa isyarat kepada para peserta. Mulai dari hal yang sederhana hingga ungkapan yang lebih kompleks seperti kalimat atau pertanyaan. Tangannya bergerak dengan lincah, diikuti ekspresi wajah saat menyampaikan pesan.

Masyarakat Bumi Batiwakkal khususnya anak muda sangat bersemangat mengikuti kegiatan ‘Book Party Edisi Belajar Bahasa Isyarat Bareng’ guna memperluas kemampuan komunikasi mereka. Kegiatan ini diinisiasi oleh Komunitas Gerobak Buku Berau dan Forum Peduli Anak Berkebutuhan Khusus Berau pada Sabtu, 14 Juni 2025 di Story Mount Cafe and Restaurant.
Puluhan peserta duduk dengan rapi di kursi yang telah disediakan. Mereka memperhatikan dengan cermat instruktur di depan dan mencoba mengikuti gerakan tangan tersebut. Dengan mata berbinar, Hadi memperlihatkan raut wajah yang senang. Peserta begitu antusias untuk belajar bahasa isyarat bareng. Kegiatan tersebut pun mendapatkan respons yang positif.
Salah satu peserta, Rahmahwati Nurazizah menyampaikan, kegiatan belajar bahasa isyarat bareng ini dinilai sangat menarik dan bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan komunikasi. Menurutnya, acara ini pertama kali diadakan di Kabupaten Berau. Terlebih lagi, bahasa isyarat juga mulai banyak diminati orang.
“Kegiatan belajar bahasa isyarat bareng sangat menyenangkan. Aku juga merasa bangga dengan antusias teman-teman di Berau,” ucapnya.
Perempuan berusia 24 tahun ini mengatakan, antusiasme peserta yang hadir juga menandakan bahwa minat untuk belajar bahasa isyarat dan mewujudkan inklusivitas di Berau cukup tinggi. “Aku juga berharap semoga kegiatan ini menjadi pemantik buat teman-teman di Berau agar melek terhadap bahasa isyarat,” tuturnya.
Rahmahwati menceritakan bahwa dirinya adalah pendatang yang berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, yang pernah ikut komunitas tuli. Dirinya mengaku pernah belajar bahasa isyarat untuk level 1 BISINDO di Jawa Barat tahun 2021, kemudian mengambil level 2 tahun 2025.
Saat ini ia tinggal di Tasuk, Gunung Tabur. Selama tinggal di Kabupaten Berau ia belum pernah bertemu dengan penyandang tunarungu. “Waktu datang ke kegiatan ini, ternyata ada yah teman tuli di Berau. Soalnya aku hampir dua tahun di Berau belum ketemu sama sahabat tuli,” ungkapnya.
Ia juga merasa senang sekali karena di Berau juga ada komunitas yang konsen dengan bahasa isyarat. Rahmahwati berharap kegiatan belajar bahasa isyarat bareng ini dapat menyadarkan teman-teman dengan kondisi yang ada di Berau. Kemudian menjadi motivasi untuk mau belajar bahasa isyarat serta berkomunikasi dengan teman tuli.
“Aku harap ini bisa jadi salah satu kegiatan yang terus berkelanjutan karena bahasa itu kan harus terbiasa. Jadi gak bisa kalau belajarnya hanya sekali saja,” bebernya.
Penggerak Komunitas Gerobooks atau Gerobak Buku Berau, Risna Herjayanti menyebutkan, kegiatan belajar bahasa isyarat bareng ini diinisiasi oleh Gerobak Buku Berau dan berkolaborasi dengan Forum Peduli Anak Berkebutuhan Khusus Kabupaten Berau.
“Kita pengen buat kegiatan yang universal bisa dinikmati oleh seluruh penutur, tidak hanya dari sahabat dengar tetapi juga sahabat tuli,” ucapnya.
Guru Seni Budaya di SMAN 2 Berau ini ingin membuat kegiatan yang bisa berkelanjutan dan inklusif. Belajar bahasa isyarat bareng ini baru edisi pertama. Ke depan, dirinya berencana untuk membuat kegiatan serupa atau kegiatan menarik lainnya yang bisa mengundang sahabat tuli.
Keinginan untuk belajar bahasa isyarat ini ada saat kegiatan Lokakarya Penulisan Buku Cerita Anak Bergambar bulan Oktober 2024 lalu. Komunitas Gerobak Buku Berau melakukan kerja sama dengan SLB Negeri Tanjung Redeb untuk berpartisipasi. Pelajar bernama Dimas Syaiful Aqil dan Celsie Olivia turut andil menjadi ilustrator pada kegiatan tersebut.
“Saat berkomunikasi dengan mereka, saya mengalami kesulitan. Dari situlah saya berkeinginan untuk belajar bahasa isyarat dan membuat kegiatan ini. Alhamdulillah disambut dengan antusias dari teman-teman di Berau,” ujarnya.
Risna juga mencoba untuk menciptakan kegiatan-kegiatan literasi yang menarik agar tidak terasa monoton. Guna meningkatkan dan mengembangkan literasi di Kabupaten Berau, Komunitas Gerobak Buku Berau mencoba untuk membuat acara Book Party yang kreatif dan edukatif.
“Di sini kami juga menyediakan bahan bacaan yang bisa dimanfaatkan peserta. Jadi tidak hanya membaca saja tetapi akan ada kegiatan lainnya yang menyenangkan sambil belajar hal-hal baru,” demikian Risna. (Riska)
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya