src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Begini Saran Psikolog Soal Mahasiswi yang Membunuh Janinnya di Kamar Kos

Begini Saran Psikolog Soal Mahasiswi yang Membunuh Janinnya di Kamar Kos

2 minutes reading
Thursday, 30 Sep 2021 14:02 261 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kasus aborsi yang dilakukan seorang mahasiswi asal Kota Bontang berinisial NA (25) di indekosnya, Jalan Wolter Monginsidi, Gang 2, RT 22, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda Rabu, 22 September 2021, menggegerkan warga.   

Sebab, perilaku mahasiswi semester akhir di salah satu universitas swasta ini  mengubur sang jabang bayi dalam pot plastik dan disimpan di kamar kosnya.   

“Masa iya tidak ada rasa empatinya seorang ibu, apalagi ini (janin) sudah wujud manusia. Kalau dugaan gangguan jiwa berat sepertinya tidak karena sang ibu masih bisa ke rumah sakit dengan kesadarannya sendiri. Kepolisian harusnya tetap diarahkan kepemeriksaan kejiwaan si ibu tersebut,” ungkap Psikolog  Ayunda Ramadhani, Kamis 30 September 2021.   

Menurut Psikolog yang lama bekerja di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Atma Husada ini, jika menelaah lebih jauh dari pengakuan dan fakta yang ditemukan kepolisian dari kasus aborsi tersebut, ada yang memerlukan pendalaman sisi kejiwaan pelaku. 

“Karena ada gap antara pengakuan si ibu janin dan fakta yang ditemukan. Kalau alasan  tidak direstui karena beda agama dan lainnya ini juga menjadi pertanyaan. Kenapa kandungannya itu dipertahankan sekian lama? Pertanyaan ini harus digali lebih dalam tentunya,” jelasnya.  

Lanjut Ayunda, bisa saja sebelumnya NA pernah melakukan upaya aborsi saat kandungannya masih berusia dini, tapi gagal. Kemudian, kondisi bayi aborsi yang dimasukkan ke dalam pot ini menimbulkan pertanyaan besar. Sebab, seorang ibu selalu mempunyai insting melindungi. 

“Apakah depresi karena diduga si ibu coba melakukan aborsi dari dulu tapi selalu gagal hingga akhirnya ia merasa tertekan. Jadi indikasi gangguan kejiwaannya juga harus diperiksa,” tambahnya.  

Jika nantinya  dari pemeriksaan NA ditemukan indikasi  depresi, maka Ayunda menyarankan kepolisian terlebih dulu melakukan perawatan. Kondisi depresi bisa menjadi dasar terjadinya perilaku menyimpang. 

Dalam ilmu kejiwaan, bebernya, depresi pelaku bisa terjadi dalam dua jenis. Pertama, depresi postartum, di mana kondisi ini adalah depresi pascamelahirkan dengan keadaan tertekan lantaran tidak ada suami sehingga suasana hatinya kacau murung dan merasa tidak berdaya.  

“Kasus kedua lebih parah, bahkan bisa menyebabkan kondisi psikotic postartum yang bisa memicu perilaku agresif seorang ibu untuk membunuh anaknya atau si ibu melakukan tindakan bunuh diri. Jadi depresinya itu terlebih dulu harus dipulihkan dan dirawat. Karena logikanya kalau orang sakit tidak diobati dan ditahan malah justru jadi lebih sakit nantinya, ‘kan,” tukasnya.  

Dikatakannya, dari pemeriksaan kejiwaan itu juga nantinya aparat penegak hukum bisa mengungkap motif sesungguhnya dari pelaku aborsi sehingga memperlakukan bayinya sedemikian sadis. 

“Ini sudah di luar kelaziman. Ini tidak masuk dalam perilaku normal. Makanya ini perlu pemeriksaan medis kejiwaannya,” pungkasnya. 

Penulis: Riski 

Editor: MH Amal 

LAINNYA
x