src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Apa yang Terjadi Jika El Nino Bertahan Sampai Februari 2027?

Apa yang Terjadi Jika El Nino Bertahan Sampai Februari 2027?

waktu baca 6 menit
Selasa, 13 Okt 2026 10:13 24 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, JAKARTA  – Fenomena Super El Niño yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027 memunculkan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan, ekonomi, dan ketahanan pangan global. Indonesia termasuk negara yang berisiko mengalami dampak serius, mulai dari peningkatan suhu ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga ancaman gagal panen dan kenaikan harga beras.

Dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (9/10/2026), laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia atau *World Meteorological Organization* (WMO) pada Kamis (8/10/2026) menyebut fenomena El Niño telah berkembang dengan intensitas kuat dan meningkat dengan cepat. Prakiraan yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan kemungkinan hampir 100 persen fenomena ini berlanjut hingga Februari 2027.

Peningkatan suhu permukaan laut yang berkaitan dengan El Niño dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah. Di Indonesia, kondisi tersebut berpotensi memperparah kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika curah hujan berkurang dalam periode yang panjang.

Indeks Niño 3.4 dilaporkan mencapai 2,5 derajat Celsius pada Agustus 2026. Para ahli memperkirakan indeks tersebut berpotensi meningkat hingga melampaui anomali positif 3 derajat Celsius dan bertahan sampai tahun depan.

Jika kondisi tersebut terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan melalui cuaca panas, tetapi juga dapat meluas ke sektor kesehatan, pertanian, ketenagakerjaan, dan perekonomian masyarakat.

### Super El Niño Berpotensi Menyebabkan Ratusan Ribu Kematian

Penelitian kelompok Climate Impact Lab dari Universitas Chicago memperkirakan gelombang panas yang berkaitan dengan Super El Niño tahun ini berpotensi menyebabkan sekitar 451.000 kematian.

Pendiri Climate Impact Lab, Michael Greenstone, menyampaikan bahwa angka tersebut merupakan perkiraan risiko kematian akibat paparan panas ekstrem dalam beberapa bulan mendatang.

“Hasil studi menunjukkan ada sekitar 451 ribu orang yang berisiko meninggal dalam beberapa bulan ke depan akibat El Nino,” kata Michael Greenstone, pendiri Climate Impact Lab.

Dalam proyeksi tersebut, Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 19.300 kematian. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan kedua negara dengan risiko kematian tertinggi setelah Nigeria, yang diperkirakan mencapai 31.400 jiwa.

Perkiraan tersebut disusun berdasarkan data historis selama beberapa dekade yang menghubungkan perubahan suhu dengan angka kematian di setiap wilayah. Perhitungan ini berfokus pada risiko kematian akibat paparan panas ekstrem dan belum mencakup kematian yang mungkin terjadi akibat kekeringan, kebakaran hutan, maupun banjir.

Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap kondisi panas ekstrem adalah lanjut usia dan bayi. Direktur Energy & Climate di Rhodium Group, Emily Grover-Kopec, menyoroti kerentanan kedua kelompok tersebut terhadap dampak peningkatan suhu.

Karena itu, jika El Niño berlangsung lebih lama dari perkiraan awal, upaya perlindungan kesehatan masyarakat menjadi semakin penting, khususnya bagi kelompok yang memiliki kemampuan lebih terbatas untuk menghadapi suhu tinggi.

### El Niño Ancam Produksi Beras dan Picu Inflasi Pangan

Dampak Super El Niño juga berpotensi merambat ke sektor pertanian dan memengaruhi stabilitas harga kebutuhan pokok. Kekeringan berkepanjangan dapat mengganggu jadwal tanam, mengurangi ketersediaan air untuk irigasi, serta menekan produktivitas lahan pertanian.

Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung (ITB), Djoko Santoso Abi Suroso, bersama Manajer Riset dan Proyek di Pusat Perubahan Iklim ITB, Isnan Fauzi, mengkaji hubungan fenomena El Niño dengan produktivitas pertanian melalui pengalaman pada periode 2015–2016 dan 2023–2024.

Kajian tersebut menemukan adanya penurunan produktivitas lahan pertanian yang turut menekan produksi padi selama periode El Niño.

Mereka memperingatkan bahwa apabila Super El Niño berlangsung hingga awal 2027, perubahan pola musim dapat mengganggu jadwal tanam dan panen di Indonesia.

“Jika Super El Niño ini benar terjadi hingga awal 2027, maka terdapat potensi pergeseran jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027, sehingga jadwal panen akan terancam dan merambat menjadi persoalan pasokan dan kenaikan harga pangan, khususnya beras,” tulis mereka di The Conversation.

Pergeseran jadwal tanam dapat membuat produksi pangan tidak berjalan sesuai rencana. Apabila kondisi tersebut terjadi secara luas, pasokan beras berisiko tertekan dan berpotensi mendorong kenaikan harga di pasar.

Situasi ini dapat menjadi beban tambahan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah karena beras merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia.

### Suhu Ekstrem Turunkan Produktivitas Pekerja

Selain sektor pertanian, peningkatan suhu akibat El Niño juga berpotensi memengaruhi produktivitas tenaga kerja dan pendapatan masyarakat.

Tim dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), bersama Department of Economics College of William and Mary, mengungkapkan adanya hubungan antara kenaikan suhu udara dengan penurunan produktivitas dan pendapatan.

Peneliti Esa Azali Asyahid menjelaskan bahwa paparan suhu tinggi dapat memicu tekanan fisik sehingga pekerja cenderung memperlambat aktivitas dan lebih sering beristirahat. Kondisi panas juga berpotensi mengganggu kemampuan kognitif ketika seseorang mengambil keputusan.

“Paparan suhu tinggi menyebabkan tekanan fisik yang membuat pekerja melambat dan lebih sering beristirahat. Suhu panas juga mengganggu kemampuan kognitif pekerja dalam mengambil keputusan, sehingga memperlambat reaksi dan mengurangi akurasi kerja,” kata Esa Azali Asyahid, dikutip dari situs resmi UGM.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam laporan tersebut, produktivitas cenderung optimal pada temperatur rata-rata tahunan sekitar 25–26 derajat Celsius. Ketika suhu meningkat melampaui kisaran itu, produktivitas dapat mengalami penurunan signifikan.

Dampak tersebut berpotensi dirasakan oleh pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, termasuk sektor pertanian dan pekerjaan lapangan lainnya. Penurunan produktivitas dalam skala luas pada akhirnya dapat memengaruhi pendapatan rumah tangga dan kegiatan ekonomi.

### Dampak El Niño Bisa Berlanjut hingga Tahun Berikutnya

Ekonom di Departemen Penelitian dan Dampak Pembangunan Ekonomi Asian Development Bank (ADB), Roshen Fernando, mengingatkan bahwa dampak El Niño dapat berlangsung lebih lama dibandingkan periode cuaca ekstrem itu sendiri.

Negara berkembang yang bergantung pada sektor pertanian dinilai lebih rentan, terutama ketika kekeringan memicu gagal panen dan mengurangi sumber pendapatan masyarakat pedesaan.

Menurut Fernando, rumah tangga miskin membutuhkan waktu lebih panjang untuk memulihkan kondisi ekonomi setelah mengalami kerugian akibat cuaca ekstrem. Ketika hasil panen menurun, keluarga dapat terpaksa menjual aset produktif atau mengurangi pengeluaran penting demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Keluarga yang menjual ternaknya, memakan hasil panen berasnya sendiri, atau mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah untuk bertahan hidup di tahun yang buruk, akan memulai tahun berikutnya dengan lebih miskin dan kurang produktif,” tulis Fernando di laman ADB, Jumat (9/10).

Ia juga menyoroti bahwa tekanan terhadap perekonomian dapat semakin berat ketika negara menghadapi persoalan lain, seperti peningkatan utang pascapandemi, konflik di Timur Tengah, perang di Ukraina, serta gangguan jalur pengiriman melalui Laut Merah.

Kombinasi berbagai faktor tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap perekonomian, terutama bagi negara dan kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan terbatas untuk menghadapi guncangan.

Apabila Super El Niño benar bertahan hingga Februari 2027, dampaknya berpotensi melampaui persoalan cuaca panas. Risiko terhadap kesehatan, produksi pangan, pendapatan pekerja, dan kondisi ekonomi rumah tangga dapat saling berkaitan dan memperpanjang masa pemulihan masyarakat yang terdampak.

LAINNYA
x