23.5 C
Samarinda
Sunday, October 24, 2021

3 Mei, Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia dan Sejarah Penetapannya

HEADLINEKALTIM.CO, JAKARTA – Hari ini, tepat 3 Mei adalah peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day.

Perayaan ini bertujuan untuk mengingatkan komitmen pemerintah di seluruh dunia untuk menjunjung tinggi hak kebebasan bersuara seperti yang tercantum dalam Pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (HAM) 1948.

Pasal tersebut menyatakan bahwa, “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”

Dengan demikian, kebebasan pers tidak hanya krusial bagi para juru warta, tetapi juga masyarakat umum. Itu karena pers yang bebas dapat mendukung warga negara untuk berperan aktif dalam demokrasi.

Bagaimana sejarah ditetapkannya 3 Mei sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia? Simak penjelasannya berikut ini:

Melansir laman UNESCO, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menetapkan 3 Mei sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia pada Sidang Umum tahun 1993. Tanggal 3 Mei dipilih untuk memperingati diselenggarakannya Deklarasi Windhoek di ibu kota Namibia pada 29 April-3 Mei 1991.

Deklarasi Windhoek sendiri merupakan inisiatif dari pekerja pers Afrika untuk memperjuangkan media yang bebas, independen, dan pluralistik di tengah tekanan dan kekerasan yang terus-menerus terjadi pada jurnalis.

Isi dari deklarasi tersebut adalah:

-Negara harus proaktif dalam melindungi jurnalis dan mengupayakan agar warga negara dapat menggunakan kebebasan berekspresi.

-Negara harus menghindari pengendalian media.

-Mencegah monopoli negara atas media.

-Negara memastikan dukungan hukum dan dukungan praktis lainnya untuk sektor-sektor seperti pelayanan publik dan media komunitas.

Sejak 1993, Hari Kebebasan Pers diperingati setiap tahun. Hal ini dimaksudkan untuk menginformasikan publik bahwa masih banyak negara yang melakukan sensor, memberlakukan denda, atau menghentikan beroperasinya media massa. Jurnalis, editor, dan penerbit bahkan menjadi korban penyerangan, dipenjara, hingga dibunuh.

Hari Kebebasan Pers Sedunia juga menjadi momentum untuk mendukung media yang menjadi sasaran pengekangan, sekaligus mengenang para jurnalis yang kehilangan nyawa dalam menjalankan tugasnya.

Tema Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun ini adalah “Information as a Public Good” atau informasi sebagai milik publik. Pentingnya mengakses informasi yang dapat dipercaya, terutama melalui jurnalisme telah dibuktikan oleh pandemi COVID-19.

Kurangnya data dan informasi yang valid dan mudah diakses oleh publik telah menciptakan celah untuk konten yang memiliki potensi bahaya seperti hate speech, disinformasi, dan teori konspirasi. Krisis kesehatan masyarakat seperti pandemi COVID-19 menunjukkan peran penting yang dimainkan oleh media independen di seluruh dunia.

Para pekerja media telah memberikan kontribusi yang signifikan. Seperti mengolah informasi dan data ilmiah yang kompleks menjadi lebih mudah dicerna oleh publik, menyediakan data yang diperbarui secara berkala, dan melakukan pengecekan fakta.(*)

Artikel ini tayang di kumparan.com, Senin 3 Mei 2021 dengan judul Sejarah Hari Kebebasan Pers Sedunia yang Diperingati Setiap 3 Mei

Komentar
- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU