src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Waspada! Anjing dan Kucing Juga Bisa Terkena Diabetes, Ini Penjelasannya

Waspada! Anjing dan Kucing Juga Bisa Terkena Diabetes, Ini Penjelasannya

3 minutes reading
Tuesday, 29 Jul 2025 14:03 233 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Tahukah kamu bahwa diabetes melitus bukan hanya ancaman bagi manusia, tetapi juga bagi hewan peliharaan seperti anjing dan kucing? Gangguan metabolisme ini ternyata juga bisa menyerang anabul, apalagi jika mereka mengalami obesitas, kurang gerak, atau diberi makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan biologisnya.

Dr drh Leni Maylina, dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, mengungkap fakta ini dalam IPB Podcast bertajuk “Diabetes Melitus pada Hewan Kesayangan, Apakah Sama dengan Manusia?”

“Penyakit diabetes mellitus ini sebenarnya adalah gangguan metabolisme yang dimana tubuh dari hewan kesayangan kita, anjing dan kucing, tidak mampu memproduksi atau tidak bisa menggunakan yang namanya hormon insulin di dalam tubuhnya,” jelasnya, dikutip Minggu (13/4).

Akibatnya, kadar glukosa dalam darah meningkat dan bisa memicu berbagai gangguan kesehatan. Salah satu tanda awal yang bisa diwaspadai adalah jika urine hewan peliharaan menarik perhatian semut. Ini bisa jadi sinyal bahwa ada glukosa dalam urine mereka—indikasi umum dari diabetes.

“Ketika glukosa di dalam darah ini naik, maka biasanya kemampuan kapasitas ginjal (anabul) juga terbatas ya untuk menyaring glukosa. Sehingga glukosanya juga keluar nih ke urine atau ke pipis ya,” tambah Leni.

Seperti halnya manusia, diabetes pada hewan peliharaan terbagi menjadi dua tipe:

Tipe 1: Umumnya terjadi pada anjing, disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas sehingga tubuh tidak mampu memproduksi insulin.

Tipe 2: Lebih sering menyerang kucing, ditandai dengan resistensi terhadap insulin meski produksinya masih ada.

“Tipe 1 ini biasanya di anjing yang paling sering. Kalau tipe 2 ini biasanya di kucing. Dan biasanya di manusia juga seringkali tipe 2,” terang Leni.

Leni menjelaskan bahwa penyebab diabetes pada anabul bersifat multifaktorial. Beberapa faktor utama yang meningkatkan risiko antara lain:

Genetik : Ras kucing seperti Burmese dan Siamese, serta anjing ras Beagle, Dachshund, dan Australian Terrier punya kecenderungan lebih tinggi.

Obesitas : “Kalau hewan-hewan yang besar, yang gendut, itu bukan lucu. Ini justru rentan terhadap diabetes,” tegas Leni.

Usia : Risiko meningkat pada hewan yang berusia di atas 7 tahun.

Pola makan tidak tepat: Kucing seharusnya mengonsumsi makanan tinggi protein sebagai karnivora sejati. Namun, banyak pemilik masih memberi nasi dan ikan asin yang tinggi karbohidrat.

“Kucing itu karnivora sejati… tapi kucingnya dikasih nasi sama ikan asin. Nasinya juga salah nih, karbohidratnya tinggi sekali sehingga inilah yang seringkali me-develop adanya diabetes,” ungkap Leni.

Kurang aktivitas: Apalagi setelah disterilkan, gaya hidup anabul yang hanya makan dan tidur bisa memperbesar risiko diabetes.

“Biasanya kerjanya antara makan dan tidur saja,” tambah Leni.

Agar anabul tetap sehat, pemilik dianjurkan untuk:

  • Memberikan makanan yang sesuai kebutuhan biologis hewan
  • Mengontrol berat badan
  • Mendorong aktivitas fisik secara rutin
  • Menjalani pemeriksaan rutin ke dokter hewan untuk deteksi dini

Diabetes pada anjing dan kucing memang terdengar mengkhawatirkan, namun dengan pola asuh yang tepat, risiko tersebut bisa dicegah. Yuk, lebih peduli terhadap kesehatan si anabul!

Artikel Asli baca di liputan6.com

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya

LAINNYA
x