src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Layanan kesehatan Puskesmas Tabang.(sumber : FB Puskesmas Tabang)
HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Menjabat Camat Tabang sejak 6 Februari 2026, Asmi Riyandi Elvandar menemukan tugas yang cukup berat yaitu persoalan kesehatan di daerah paling ujung Kukar yang jauh dari kata ideal. Persoalan kesehatan di sini sulit diurai.
”Masalahnya, Puskesmas Tabang tidak ada dokternya sampai sekarang,” ucap Camat Elvandar, Selasa 7 April 2026.
Upaya yang dilakukan pemerintah agar masyarakat bisa berobat adalah mengarahkan ke Puskesmas Ritan Baru. Namun, dokter cuma satu orang. ”Dokter di Puskesmas Ritan Baru kadang sakit sehingga tidak maksimal pelayanan kepada warga Tabang,” jelasnya.
Dengan kondisi yang ada, dokter hanya memberikan rujukan ke Puskesmas kecamatan lain, termasuk ke RSUD Dayaku Raja Kota Bangun atau ke RSUD AM Parikesit Tenggarong.
Dia sudah berkali-kali mengadu ke Dinkes Kukar untuk penempatan dokter di wilayah Tabang.
”Sampai sekarang belum ada penugasan dokter baru di dua Puskesmas tersebut,” keluhnya.
Memang ada praktek dokter mandiri yang bisa memberikan layanan kepada masyarakat. Namanya dokter Dedi, mantan dokter puskesmas Tabang. ”Itu pun sebulan sekali buka praktek,” jelasnya.
Elvandar mengaku akan meminta bantuan ke PT Bayan agar bisa menugaskan dokter dari klinik perusahaan melayani masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial. ”Kita minta dalam satu pekan, beri dua kali pelayanan kesehatan ke masyarakat,” harapnya.
Bukan hanya krisis dokter, persoalan lainnya adalah Puskesmas di Tabang krisis obat-obatan. Jika masyarakat ada yang sakit, terkadang tidak ada obatnya. ”Saya kasihan dengan masyarakat saya, kayaknya lebih banyak menahan rasa sakit, menyesuaikan dengan keadaan yang dialami daerah kami,” ucapnya.
Masalah lainnya, tambah Camat, Puskesmas di Tabang tidak memiliki unit ambulans. Saat ini, ada ambulans bantuan dari Palang Merah Indonesia(PMI) Kukar. ”Padahal puskesmas Tabang sudah berlakukan rawat inap, tapi belum punya mobil ambulans,” pungkasnya.
Anggota DPRD Kukar Sri Muryani, pekan lalu, meninjau Puskesmas di Tabang juga ikut merasa prihatin dengan kondisi tersebut. “Dokter tidak ada, obat-obatan terbatas, dan bangunan Puskesmas masih kurang layak untuk layanan,” ujarnya.
Sri meminta kepada Dinkes Kukar untuk membenahi persoalan kesehatan yang dialami Tabang karena kesehatan merupakan pondasi dasar kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah.
Kabid Layanan Kesehatan Dinkes Kukar, dr Waode Nuraida menjelaskan, Pemkab Kukar tidak tinggal diam dengan persoalan yang ada di Tabang. Upaya membuka lowongan dokter di kecamatan tersebut tak diminati.
Jika menempuh cara menggeser dokter yang ada di Puskesmas lain untuk bertugas di Tabang juga sulit karena masih alami kekurangan dokter. Idealnya satu Puskesmas punya dua dokter. Ternyata masih ada yang hanya satu dokter.
”Pertimbangan pendapatan kemungkinan yang membuat dokter tidak mau mengabdi di Tabang,” jelasnya.(Andri)