Beranda BUMI ETAM ‘The Bengkers’, Kreativitas dan Sosok Seniman Inspiratif di Balik Tembok Penjara

‘The Bengkers’, Kreativitas dan Sosok Seniman Inspiratif di Balik Tembok Penjara

Zairin Zain bersama para warga binaan di depan workshop 'the Bengkers'. (foto: istimewa)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG–Kreativitas tanpa batas. Tidak ada satu pun orang hingga ruang yang  dapat menghalangi kreativitas manusia untuk berkarya. Bahkan, tembok penjara sekalipun.

Itu yang dibuktikan para penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Tenggarong. Jeruji besi hanya membatasi persentuhan mereka dengan sanak famili. Namun, soal berimprovisasi dan berkarya, sebuah wadah bernama ‘the Bengkers’ membebaskan potensi mereka. Para narapidana itu merasa ‘merdeka’.

Banyak karya-karya bernilai ekonomis dihasilkan melalui tangan-tangan terampil narapidana Lapas Tenggarong. Mulai dari kursi lipat kayu, lemari, asbak kaca, meja kayu dan drum bekas, serta produk-produk kerajinan bernilai seni lainnya.

Advertisement

Produk ‘the Bengkers’ punya nilai ekonomis tinggi. Karya kerajinan dari balik tembok penjara ini kerap hadir dalam sejumlah even pameran. Peminat juga berdatangan untuk membeli.

Di balik itu semua, ada sosok bernama Zairin Zain, lelaki berperawakan gempal dan kekar. Dialah yang meng-orkestra para napidana dalam wadah ‘the Bengkers’. Dia yakinkan warga binaan untuk terus melakoni hidup menjadi manusia seutuhnya sebagaimana manusia di luar sana.

Zairin Zain dalam sebuah pentas. (sumber: dokumen pribadi)

Namun, tidak mudah memang untuk menghidupkan sebuah unit keterampilan yang peralatannya sempat teronggok lama. Nyaris  tak terurus di pojokan Lapas Tenggarong. Butuh waktu juga untuk meyakinkan orang-orang yang kebebasannya dipasung untuk sementara waktu.

Hampir 27 tahun lamanya bertugas di Lapas dan nyaris tak berjarak dengan para napi. Inilah yang membuat anak pasangan almarhum Djailani Samad dan Ramlah Sampoerna ini berpikir keras bagaimana cara memberdayakan warga binaan. Langkah awalnya dari mana?

“Beruntung saya termasuk orang yang menggeluti dunia seni teater sehingga proses pencarian ide-ide segar, terus terasah dan terpola dengan baik. Bagaimana memunculkan sebuah karya dari tangan para binaan yang mampu dilirik oleh orang di luar Lapas serta menghasilkan nilai ekonomis yang membantu keuangan mereka maupun keluarganya,” jelas Zairin kepada Headlinekaltim.co.

Meja lipat merupakan hasil kerja perdana anak-anak The Bengkers. Zairin kemudian berinisiatif mengunggah foto hasil kerajinan tersebut di akun Facebook pribadinya.

Di luar dugaan, masyarakat sangat mengapresiasi. Tentu, ini jadi suplemen semangat para napi untuk terus berkarya. Waktu terus berjalan, hingga 500-an produk berbagai jenis kerajinan telah dihasilkan dari balik tembok penjara.

Setelah tahap produksi lancar, fase selanjutnya adalah pemasaran. Dalam dunia marketing, tentu penjenamaan (branding) tak bisa diabaikan. Terpilihlah nama ‘the Bengkers’.

“Berjalan sejak tahun 2017, setahun berikutnya kegiatan para napi ini dilirik oleh Kementerian Hukum dan HAM dengan membantu mengucurkan dana pelatihan. Selain pelatihan seni kriya, dilakukan pula pelatihan keterampilan barista kopi dan barbershop untuk para napi walaupun dananya terbatas. Namun itu sudah luar biasa, karena jarang sekali mereka mendapatkan apresiasi seperti itu,” ungkap pria yang menjabat Kasub Seksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan di bawah Kepala Lapas Tenggarong Agus Dwi Rijanto.

Kreativitas ‘the Bengkers’ sangat menginspirasi. Tak hanya “melompati” tembok penjara. Bahkan, menular hingga ke sejumlah Lapas yang ada di Kalimantan Timur.  “Kerja kami diikuti oleh kawan-kawan di lapas lainnya di Kaltim,” ungkap Zairin.

Soal pembagian keuntungan, berdasarkan aturannya, hasil penjualan didapatkan pembagian sebesar 50 persen untuk upah para Napi. Adapun 35 persen sisanya untuk modal ulang atau dana pembinaan. Sisanya, 15 persen masuk menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Pada tahun 2020 ini, ada beberapa item pelatihan yang diberikan untuk ribuan warga binaan penghuni Lapas Kelas II Tenggarong yang dananya bersumber dari Kemenkumham. Tahun depan, ada bantuan modal alat produksi dengan harapan pada tahun berikutnya, Lapas Tenggarong dapat menyumbang PNBP lebih baik lagi.

SENIMAN YANG SIPIR, SIPIR YANG SENIMAN

Zairin Zain bukan nama baru dalam dunia seni di Kota Raja, Tenggarong. Dia menggeluti dunia teater sejak tahun 1987. Karyanya kerap dipentaskan. Pada tahun 1988, dirinya terlibat dalam proyek pembuatan drama televisi terkait penyuluhan yang disponsori Kementerian Kehakiman, saat itu.

Usai proyek tersebut, sebuah tawaran menghampiri dirinya. Zairin ditawari bekerja sebagai sipir penjara dengan modal ijazah SMP. “Kala itu staf di Kementerian Kehakiman menawari pekerjaan. Datang ke rumah. Saya bilang, saya masih sekolah. Waktu itu masih kelas II SMA,” kenangnya.

Namun, petugas itu tetap memintanya ikut tes. Pada masa itu amat dibutuhkan tenaga sipir penjara untuk golongan I.  Hasilnya, Zairin lulus tes. “Sembari saya bersekolah menyelesaikan satu semester terakhir, saya  lantas pindah sekolah karena diangkat dan bertugas di Rutan Tanah Grogot (Kabupaten Paser). Di sana, saya membuka kelompok Teater Satu di SMA Negeri 1 Tanah Grogot,” ucapnya.

Tahun 1995, dia diajak salah satu seniman Kutai Kartanegara, almarhum Syamsul Khaidir. Pria ini merupakan mantan guru Zairin di SMA Widya Praja Samarinda.

Zairin diminta membantu mengembangkan kelompok Bina Teater Kutai. Tawaran ini disambutnya dengan senang hati. Dirinya bermohon pindah tugas ke Rutan Tenggarong setelah 5 tahun bertugas di Grogot.  Di Kota Raja juga, ia melanjutkan pendidikan sarjana (S1).

“Dari tahun 1995-1998 di Bina Teater Kutai. Saya kemudian mendirikan Kelompok Sandiwara H, hal ini dimaksudkan untuk tetap mempertahankan idealisme sebagai seorang seniman teater. Pementasan terus berlanjut bersama kawan-kawan, terakhir pada 2012 lalu kami mentas dengan judul Para Penjudi,” ucapnya.

Kini, dunia teater dengan segala hiruk-pikuknya, tentu sudah banyak mengalami perubahan besar. Terlebih, anggaran pementasan tidak lagi dapat dikatakan sedikit. Zairin sempat mengakalinya dengan membuat film berjudul Bapakku Mulang, dengan pola teatrikal di dalamnya.

Tokoh senior teater di Kutai Kartanegara ini mengakui, totalitasnya sudah berkurang. Dia berfokus membina ‘the Bengkers’, melalui seni kriya produksi. Tak dipungkirinya, ini jauh dari seni teater yang digelutinya bertahun-tahun. Namun, pengalaman menjadi pemain hingga sutradara memudahkannya dalam hal manajemen kerja.

“Masa lalu adalah sejarah, masa depan adalah harapan. Itulah yang saya tekankan dimanapun saya beraktivitas baik dalam pekerjaan maupun seni teater. Teruntuk anak-anak di Kutai Kartanegara yang menggeluti dunia seni teater dan apapun itu, mereka harus berkeyakinan untuk terus maju. Tempat boleh terbatas, kreativitas tidak mengenal batas,” ucapnya, menutup wawancara.

Penulis: RJ Warsa

 

Komentar
Advertisement