src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Tambang Ilegal Menggurita di Kaltim: Dari Hutan Pendidikan Unmul hingga Longsor Bontang

Tambang Ilegal Menggurita di Kaltim: Dari Hutan Pendidikan Unmul hingga Longsor Bontang

3 minutes reading
Thursday, 24 Apr 2025 10:09 672 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Sorotan publik Kalimantan Timur (Kaltim) tengah mengarah tajam pada praktik tambang ilegal yang kian merajalela. Tidak hanya menodai kawasan hutan pendidikan Universitas Mulawarman (Unmul), aktivitas liar ini kini menjalar ke Kota Bontang, menyisakan kehancuran lingkungan dan ketakutan warga yang hidup berdampingan dengan longsor akibat pengerukan liar.

Tambang ilegal Kalimantan Timur menjadi isu mendesak yang tidak bisa lagi diabaikan. Menyeruak dari laporan lama yang tidak pernah ditindak, hingga kini mengemuka dalam potret viral longsor yang menyeret perumahan warga, kondisi ini menguak lemahnya pengawasan dan ketidaktegasan pemerintah dalam menjaga ruang hidup masyarakat.

Hutan Pendidikan Unmul selama ini dikenal sebagai laboratorium alam dan paru-paru kota Samarinda. Namun, belakangan kawasan ini berubah menjadi “ladang emas hitam” yang digali tanpa izin. Bukan tanpa upaya, pihak Unmul melalui laboratorium kehutanan telah melaporkan kejanggalan aktivitas tersebut ke pihak berwenang. Namun, laporan demi laporan hanya berakhir di meja birokrasi yang beku.

Purwadi Purwoharsojo, pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman, mengaku tak habis pikir dengan lambannya respons pemerintah. “Ini kan sudah lama dikeruk-keruk. Bahkan sudah masuk laporan lama tahun-tahun yang lalu,” tegasnya.

Ia menambahkan, pembiaran ini bukan semata soal kelalaian, tetapi mencerminkan lemahnya sinergi antar instansi, dari Dinas ESDM, DLH, hingga aparat penegak hukum. Tak heran jika penambangan ilegal menjamur layaknya jamur di musim hujan.

Tak hanya Unmul, kini giliran Bontang menjadi korban. Aktivitas galian C liar menyebabkan longsor di area perumahan warga. Ruang terbuka hijau yang semestinya menjadi benteng alam, berubah menjadi lahan yang menganga dan membahayakan.

Kejadian ini membuat masyarakat mulai bertanya: ke mana saja para pejabat saat kerusakan ini mulai terjadi? Apakah semua harus menunggu viral dulu agar ada tindakan?

Di balik tambang ilegal, terdapat sistem yang lebih kompleks—pasar gelap batu bara. Purwadi membeberkan bagaimana hasil tambang ilegal dijual ke pengepul dan akhirnya diekspor melalui perusahaan yang memiliki izin legal. Di sinilah transaksi haram itu mendapat topeng hukum.

Satu unit alat berat yang disewa dengan harga Rp150 juta bisa menghasilkan batu bara senilai hingga Rp1 miliar. “Kalau tidak dipotong pajak, siapa yang tidak tergiur?” sindir Purwadi.

Pasar gelap menciptakan permintaan tinggi, memancing lebih banyak penambang ilegal terjun ke lapangan. Ini bukan sekadar persoalan pelanggaran hukum, tapi perusakan sistem ekonomi negara.

Tidak kalah mencengangkan, data dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengungkap adanya 21 Izin Usaha Pertambangan (IUP) palsu yang beroperasi di Kaltim. Di sisi lain, 50 anak meninggal di lubang tambang, dan kasusnya masih menggantung tanpa kejelasan hukum.

“Kita bicara nyawa manusia, bukan sekadar data statistik,” ujar Purwadi geram.

Selain itu, berdasarkan catatan Konsorsium Inisiatif Kalimantan Timur (KIKA), jumlah titik tambang ilegal meningkat tajam dari 56 titik pada November 2023 menjadi 168 titik pada Juli 2024.

Menanggapi maraknya tambang ilegal, Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menegaskan komitmennya. Ia mengakui keterbatasan personel pengawas tambang, namun menjamin peningkatan koordinasi dengan aparat hukum dan kementerian terkait.

Rudy juga menyoroti soal 1.743 lubang tambang yang belum direklamasi, yang mengancam keselamatan warga dan mencemari lingkungan. “Ini soal nyawa dan masa depan anak-anak kita,” ucapnya penuh empati.

Ia membuka peluang untuk mengubah lubang-lubang itu menjadi taman rekreasi atau lahan pertanian, namun tetap harus melalui kajian matang.

Artikel Asli baca di antaranews.com

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

LAINNYA
x