src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Dafip Haryanto. (Andri/headlinekaltim.co) HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Pendapatan desa berpotensi mengalami penurunan tiap tahunnya. Ini imbas dari Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang diterima pemerintah daerah dari pusat juga kian menipis.
Oleh karena itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kutai Kartanegara akan mendorong Pemdes untuk memaksimalkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“ADD yang diterima desa tiap tahunnya berpotensi menurun terus karena menyesuaikan dengan APBD kabupaten, ” jelas Kepala DPMD Kukar, Dafip Haryanto, baru-baru ini, di ruang kerjanya.
Untuk itu, DPMD akan memfokuskan bagaimana BUMDes bisa maju mengembangkan usahanya. BUMDes didorong menciptakan produk layak jual. Bahkan, tahun ini, digitalisasi BUMDes seperti yang dicanangkan Kementerian Desa akan dimulai. Dimulai dengan menggandeng beberapa marketplace.
“Kita punya gambaran produk BUMDes Kukar bisa terpasang di Bukalapak atau Shopee. Namun akan kita siapkan dulu dengan Pemdes, agar konsepnya lebih matang, ” ucap mantan Kabag Humas Pemkab Kukar ini.
Dafip menyebut, saat ini, ada BUMDes di Kukar yang sudah masuk kategori mandiri karena pendapatannya besar. Bisa memberi desa sampai Rp 300 juta per tahunnya.
“Usaha yang dilakukan BUMDes menyesuaikan dengan karateristik dan potensi desa masing-masing. Dalam menjalankan usaha, BUMDes tidak boleh menyaingi usaha masyarakat, tapi harus menjadi mitra yang sama-sama saling menguntungkan, ” jelasnya.
Kades Tuana Tuha, Tomi mengatakan, BUMDesnya sudah punya produk inovatif yakni gula merah kelapa yang dikemas secara baik. Ada berbagai varian rasa. Namun, ongkos produksinya terbilang mahal sehingga harga jual turut terkerek.
Menurut dia, jika masuk ke pemasaran secara daring di marketplace, dia khawatir produk BUMDes-nya kalah bersaing dari sisi harga walaupun lebih berkualitas.
“Jika sudah masuk di pasar online, calon pembeli akan mencari yang lebih murah dulu, kualitas nomor 2. Saat ini, untuk memasarkan produk BUMDes Tuana Tuha, kami bekerja sama dengan kelompok kreatif yang ada di Tenggarong dan Samarinda,” jelasnya.
Penulis: Andri
Editor: MH Amal