src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak intrusi air laut terhadap pasokan air baku selama musim kemarau. Salah satu langkah utama yang dilakukan ialah mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi air keran untuk minum ketika tingkat intrusi air laut sedang tinggi, karena kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas air baku yang diolah menjadi air bersih perkotaan.
Asisten II Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy, menjelaskan pemerintah telah menyiapkan tiga skema penanganan yang akan diterapkan secara berjenjang menyesuaikan kondisi di lapangan. Skema pertama adalah operasional normal seperti biasa, skema kedua berupa pengurangan produksi air, sementara skema ketiga diterapkan ketika kondisi sudah mengharuskan masyarakat untuk sementara tidak mengonsumsi air keran sebagai air minum.
“Jadi gini, kita ada dua plan. Plan A itu kan normal. Plan B itu kita mengurangi produksi. Yang ketiga kita akan jalankan dengan catatan tidak boleh konsumsi untuk minum,” kata Marnabas belum lama ini.
Untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan, Pemkot saat ini berfokus mengawasi pergerakan intrusi air laut mulai dari kawasan Bantuas hingga Kalhol. Masyarakat akan terus diinformasikan secara bertahap melalui media massa setiap kali batas intrusi bergeser ke wilayah baru, termasuk apabila nantinya air laut sudah merambah hingga ke kawasan Cendana. Pemkot juga telah menginstruksikan camat dan lurah untuk meneruskan imbauan ini berjenjang hingga ke tingkat rukun tetangga (RT), agar informasi sampai merata ke seluruh warga terdampak.
Soal pemanfaatan air, Marnabas menegaskan air tetap aman digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK) sehari-hari, namun warga diminta menghindarinya sebagai air minum selama intrusi berada pada tingkat tinggi.
“Yang paling banyak diperlukan kan MCK, mandi cuci kakus itu kan. Tapi jangan dipakai untuk ini ketika intrusi air lautnya tinggi,” tambah dia.
Sebagai solusi jangka pendek, Pemkot menggandeng sejumlah perusahaan serta warga pemilik truk dan mobil tangki air untuk membantu distribusi air bersih ke masyarakat. Penyaluran direncanakan dipusatkan di sejumlah fasilitas umum seperti masjid dan gereja yang memiliki banyak titik keran, sehingga warga dapat mengambil air di satu lokasi tanpa perlu dilayani satu per satu secara door to door.
Di samping itu, Pemkot juga tengah membuka jalur air baru dari trek dayung yang alirannya disambungkan ke Sungai Bendungan Benanga, guna menambah pasokan air baku bagi dua instalasi pengolahan air (IPA) sekaligus, yakni di Gunung Lingai dan Lempake. Langkah ini diharapkan dapat sedikit meringankan tekanan pasokan selagi pemerintah juga berharap hujan segera turun untuk membantu mendorong mundur intrusi air laut secara alami.
Di sektor pertanian, kemarau panjang turut mendorong Pemkot mengaktifkan kembali sumur-sumur bor milik masyarakat sebagai sumber pengairan alternatif. Selain itu, pemerintah juga memanfaatkan void atau lubang bekas tambang yang telah terisi air untuk disedot dan dialirkan ke kawasan persawahan warga, sekaligus mendistribusikan hampir 100 unit genset pompa air kepada kelompok-kelompok tani di Samarinda agar aktivitas pertanian tidak terhenti akibat kekurangan pasokan air.
“Ya, itu kita aktifkan dan sudah berjalan ini dalam rangka antisipasi untuk petani, maka kami menggunakan void-void bekas tambang itu. Jadi kita sedot, kita alirkan ke daerah-daerah persawahan. Itu mungkin hampir 100 sudah genset pompa air yang kita serahkan ke kelompok-kelompok tani,” ungkapnya.
Marnabas menyebut, perhatian ekstra terhadap sektor pertanian ini tidak lepas dari kekhawatiran gangguan pasokan air dapat menekan produksi pertanian dan ikut mendorong kenaikan harga komoditas pangan di Samarinda.
Ia berharap tren penurunan inflasi kota yang tercatat pada bulan ini dapat terus dipertahankan melalui berbagai langkah antisipasi yang telah disiapkan pemerintah.
“Jadi memang ini menjadi perhatian wali kota agar para petani juga diperhatikan, karena kalau tidak terjadi inflasi nanti. Inflasi kita menurun di bulan ini. Alhamdulillah,” demikian Marnabas Patiroy. (Retno)