29.3 C
Samarinda
Wednesday, July 17, 2024

Seekor Pesut Mahakam Ditemukan Mengambang, RASI: Ada 67 Ekor pada 2023

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Suasana di sekitar Jalan Slamet Riyadi, Samarinda, berubah heboh pada Jumat sore, 21 Juni 2024, setelah warga menemukan bangkai Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) mengambang di Sungai Mahakam.

Bangkai Pesut Mahakam itu pertama kali terlihat oleh warga setempat mengambang di sungai, tepatnya di dekat kawasan instalasi Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) Samarinda. Warga yang menemukan bangkai tersebut segera mengabadikan momen tersebut dalam bentuk gambar dan video. Sejumlah akun media sosial turut mengunggah peristiwa penemuan bangkai Pesut Mahakam ini.

Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, memastikan bahwa timnya telah melakukan penanganan bangkai pesut tersebut. Saat menerima informasi, tim dari BKSDA langsung turun ke lokasi kejadian.

“Bangkai pesut sudah ditangani. Sekarang ada lab Fakultas Perikanan dan Kelautan Unmul. Mau di-neoskopi,” katanya, saat dihubungi headlinekaltim.co, Jumat 21 Juni 2024.

Penemuan bangkai Pesut ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Sungai Mahakam. Sebelumnya, beberapa kali ditemukan Pesut yang mati, mengindikasikan adanya masalah serius dalam habitat mereka. Hal ini menambah kekhawatiran para pemerhati lingkungan dan masyarakat setempat akan masa depan populasi Pesut Mahakam.

Dihubungi terpisah, perwakilan Yayasan Konversasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) Danielle prihatin dengan temuan bangkai mamalia langka endemik Mahakam, hari ini.

“Juru Bicara Pesut Mahakam” ini mengaku langsung turun ke lokasi kejadian dan  mengobservasi bangkai pesut bersama petugas BKSDA Kaltim selaku pemilik otoritas konservasi.

Menurutnya, untuk mengetahui penyebab kematian Pesut tersebut harus melalui serangkaian pemeriksaan di laboratorium. “Kalau hasilnya nanti kami diskusikan.  BKSDA yang boleh merilis itu,” tukasnya.

Namun, kata perempuan asal Belanda ini, dari pengamatan sekilas diketahui bahwa pesut yang mati berkelamin jantan dan berusia tua. Itu terlihat dari komposisi geligi. “Sudah tidak ada gigi. Kelihatan dari ciri-ciri luar, tidak jelas nampak penyebab mati. Jadi, faktor apa, kami belum tahu, untuk memastikan lewat laboratorium. Bisa tua atau apa,” bebernya.

Dari data yang dimiliki RASI, ini adalah kasus kematian pesut yang keempat pada tahun 2024. Rata-rata kematian pesut per tahun mencapai 4 ekor. Danielle berharap kasus ini adalah kasus kematian pesut yang terakhir.

“Kami berharap populasi Pesut Mahakam bisa naik. Memang ada penyebab kematian karena ulah manusia, ada juga yang alami gitu, misal usia tua, ya kalau yang ini kita mau ngomong apa?” katanya lagi.

Menurutnya, pada akhir tahun 2023, hasil analisa RASI menunjukkan populasi Pesut Mahakam sebanyak 67 ekor. Dengan empat kasus kematian ditambah prediksi kelahiran baru ada dua ekor, maka kemungkinan populasi sekarang sekitar 65 ekor. “Nanti untuk tahun 2024, karena ada survei-survei yang dilakukan, hasilnya baru diketahui di akhir tahun,” tegasnya.

Data tersebut khusus spesies Pesut Mahakam air tawar. Jenis ini berbeda secara genetik meski mirip dengan ‘saudaranya’ yang hidup di Delta Mahakam. “Mereka tidak interaksi. Beda habitat. Ini menunjukkan Pesut Mahakam betul-betul sudah berevolusi dan beradaptasi dengan air tawar. Evolusinya bisa mencapai setengah juta tahun,” terangnya.

Dari pengamatan eksternal juga, bangkai pesut yang ditemukan hari ini diperkirakan maksimal sudah dua hari. Daniella mengaku akan memeriksa katalog foto yang dimiliki lembaganya untuk mengetahui asal-usul pesut mati tersebut. Apakah hanyut dari muara sehingga terbawa arus masuk ke perairan Samarinda.

“Dilihat dari DNA juga. Nanti saya akan meng-cross check siripnya apakah dia mirip dengan katalog foto id kami karena setiap pesut di Mahakam sudah ada cirinya dari sirip,” pungkasnya. (huldi amal)

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU

POPULER