src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
ILUSTRASIHEADLINEKALTIM.CO – Donor darah tidak hanya bermanfaat untuk membantu sesama, tetapi juga memberikan efek positif bagi kesehatan tubuh. Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Hermina Samarinda, Helsa Eldatarina, donor darah secara rutin dapat merangsang produksi sel darah merah baru dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
Dilansir dari Antara Kaltim, Helsa menjelaskan bahwa ketika seseorang mendonorkan sekitar 350 hingga 450 cc darah, tubuh akan kehilangan sejumlah sel darah merah serta zat besi untuk sementara waktu. Kehilangan ini memicu respons alami tubuh untuk segera mengganti volume plasma sekaligus memproduksi sel-sel darah merah baru dari sumsum tulang.
“Dengan menurunnya stres oksidatif, maka terjadi perbaikan sel endotel pada pembuluh darah yang berkorelasi langsung dengan penurunan risiko kardiovaskular seperti serangan jantung ataupun stroke,” ujar Helsa di Samarinda, Minggu (28/9).
Menurutnya, proses regenerasi sel darah inilah yang membuat tubuh menjadi lebih sehat, karena darah baru lebih segar dan produktif dalam mengangkut oksigen ke seluruh jaringan. Selain itu, penurunan kadar zat besi akibat donor darah juga berperan mengurangi stres oksidatif, yakni kondisi kerusakan jaringan akibat paparan radikal bebas yang dapat memicu penyakit berbahaya termasuk kerusakan pembuluh darah.
Meski demikian, Helsa mengingatkan bahwa donor darah juga bisa menimbulkan efek samping ringan seperti pusing, lemas, atau memar di area suntikan. Namun hal tersebut dapat diminimalisir dengan istirahat cukup, konsumsi cairan, serta asupan gizi yang baik sebelum dan sesudah donor.
Ia juga menepis kekhawatiran masyarakat terkait risiko infeksi, karena seluruh peralatan yang digunakan dijamin steril dan hanya sekali pakai. Untuk menjaga kesehatan optimal, Helsa merekomendasikan interval donor darah ideal adalah setiap tiga bulan bagi pria dan empat bulan untuk wanita.
“Perbedaan interval tersebut disebabkan karena cadangan zat besi pada wanita umumnya lebih rendah dibandingkan pria, serta adanya siklus menstruasi setiap bulan,” jelasnya.
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya