src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Pameran “Tumpah Rupa”, Ajang Eksistensi Pegiat Seni di Berau

Pameran “Tumpah Rupa”, Ajang Eksistensi Pegiat Seni di Berau

3 minutes reading
Friday, 22 Dec 2023 20:27 614 huldi amal

“SUASANA ngopi di WKPS menjadi tambah estetik dengan tampilan sejumlah karya seni rupa yang dipajang di dinding dan pintu masuk salah satu kafe yang hits di Berau. Biasanya pengunjung kafe dihibur dengan alunan musik. Namun, kali ini, pengunjung WKPS dapat menikmati pameran ‘Tumpah Rupa’. Perpaduan antara pameran karya seni dengan menikmati secangkir kopi menjadi salah satu hal yang unik”

Pameran “Tumpah Rupa” 2023 menjadi pameran seni perdana yang digelar oleh Ruang Perupa Berau. Berlangsung pada tanggal 19-25 Desember 2023. Hal ini sebagai bentuk perayaan dan apresiasi dalam praktik seni rupa di Bumi Batiwakkal. Ruang Perupa Berau merupakan salah satu komunitas pegiat seni visual yang berdiri sejak tahun 2022. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan ruang untuk berekspresi.

Ngobrol seni pun dilakukan dari teman-teman Ruang Perupa Berau di WKPS Jalan Teuku Umar dengan melakukan pertukaran ide, pengalaman, dan berbagi inspirasi. Salah satu agenda rutinnya ialah Sunday Fun Art, yaitu berkumpul untuk membuat karya bersama.

Salut. Hal inilah yang disampaikan Arifuddin yang merupakan seniman profesional di Berau. Pria kelahiran 1966 di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini merantau ke Kalimantan Timur tahun 1993. Dia turut memberikan apresiasi terhadap muda-mudi Berau yang tergabung dalam komunitas Ruang Perupa Berau.

Pasalnya, Pameran ‘Tumpah Rupa’ ini berhasil menarik perhatian dengan berbagai karya yang ditampilkan sehingga membuat pengunjung kafe tergugah. “Saya salut sama teman-teman di Ruang Perupa Berau, mereka berani berkarya dan berani menampilkan ke khalayak ramai,” ujarnya, tersenyum.

Ia yang terjun ke dunia seni sejak tahun 1990 hingga sekarang merasa bangga melihat hasil karya yang diciptakan para anggota Ruang Perupa Berau. Sangat kreatif. Hanya saja, masih perlu banyak proses pembelajaran lagi untuk menciptakan karya seni yang lebih baik untuk pameran selanjutnya.

Arif pun ikut berpartisipasi memajang beberapa lukisannya di kafe tersebut. Selain melukis, bapak tiga anak ini juga seorang pengukir yang handal. Dirinya pernah membuat patung dan ukiran khas Suku Dayak.

Dikatakannya, ia sempat kerja di salah satu perusahaan di Mangkajang tahun 1996 sebagai seniman. “Saya masuknya sebagai seniman dulu. Kalau kalian jalan-jalan ke Mangkajang ada gapura di pintu gerbang masuk, itu hasil karya ukiran saya. Biasanya menggunakan kayu ulin. Namun yang paling diminati orang adalah lukisan. Saya melukis sesuai dengan hati saya,” ungkapnya dengan senyumannya yang begitu khas.

Bahkan, karya lukisannya ada yang dibanderol sampai Rp20 juta. Tapi, kata dia, standar rata-rata lukisan di canvas itu biasanya Rp2,5 juta. “Ini juga bukan berkaitan dengan ukuran canvas, namun berkaitan dengan objek yang kita buat untuk mengekspresikan perasaan. Kebanyakan yang beli dari luar Berau seperti Tarakan dan Makassar,” bebernya.

Guru seni di SDIT dan SMPIT Madani Tanjung Redeb ini mengatakan, pameran pertama itu digelar di Museum Gunung Tabur, Kabupaten Berau pada tahun 1994. ketika mendengar adanya pameran “Tumpah Rupa”, dia merasa senang.

Arif yakin kawan-kawan dari Ruang Perupa Berau suatu saat akan mencapai kepuasannya tersendiri dalam menciptakan suatu karya. Acara ini bagus sekali karena menjadi ajang eksistensi juga bagi para pegiat seni di Kabupaten Berau.

“saya lihat anak-anak di Berau juga sangat memiliki potensi di bidang ini, tinggal bagaimana cara mereka menggali potensi yang ada dan saya salut sama mereka,” ucapnya.

Dia berharap agar pameran selanjutnya lebih banyak lagi karya dan para seniman mau tetap belajar dan menggali kreativitas. “Dalam dialog tentang proses pembuatan karya, saya juga memberikan saran-saran kepada mereka dan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kawan-kawan Ruang Perupa Berau,” pungkasnya. (Riska)

LAINNYA
x