24.7 C
Samarinda
Minggu, April 18, 2021

New Strategy Eksistensi Siaran Lokal

Oleh: *Mohamad Rusman Madjulekka

DI MASA yang serba tidak pasti ke depan, apalagi pandemi Covid-19 diperkirakan masih berlangsung panjang, maka kalangan industri penyiaran terutama di daerah tidak hanya membutuhkan ‘New Normal’.

Namun, juga butuh ‘New Strategy’ agar tetap bertahan. Kalau tidak, maka dikuatirkan lonceng kematian bukan mustahil. Jadi pilihannya; Now or Never!

Realitas empiris yang terjadi beberapa waktu terakhir ini sungguh memprihatinkan. Sebagian besar lembaga penyiaran di daerah mengalami kesulitan dengan terpaksa merumahkan sebagian karyawannya karena tak mampu menutupi biaya operasional.

Memang semua sektor, tak terkecuali media penyiaran  terkena dampak, khususnya media penyiaran. Apalagi berbarengan dengan naiknya nilai tukar dolar Amerika hingga hilangnya iklan komersial di media penyiaran baik televisi maupun radio lokal.

Berdasarkan laporan dari sejumlah daerah, terutama yang dimonitor KPID setiap daerah, rata-rata media penyiaran khususnya televisi melakukan penyesuaian dengan misalnya mengubah pola siaran. Bahkan, mengurangi jam tayangnya untuk mengurangi beban operasional perusahaan.

Pada saat momen tertentu di mana seharusnya media bisa panen iklan pun, sepi. Media penyiaran kehilangan momen tahunan untuk meraup penghasilan iklan yang selama ini menjadi primadona income mereka.

Terbukti “New Normal” pun agaknya tidak mampu menolong keberlangsungan  konten lokal yang jadi unggulan lembaga penyiaran di daerah. Namun dibutuhkan ‘New Strategi” agar eksistensi lembaga penyiaran lokal tetap terjaga.

Realitas empiris, boleh dikatakan, bahwa ekspektasi publik menikmati kondisi yang selaras dengan tujuan Undang-Undang Penyiaran No 32 Tahun 2002 tidak sesuai dengan harapan.

Berdasarkan laporan teman-teman KPID di sejumlah daerah, keberadaan televisi dan radio lokal di daerah, satu per satu tumbang dan beberapa diantaranya tergadaikan. Inti masalahnya klasik. Finansial dan sulitnya bersaing dengan lembaga penyiaran yang berkantor pusat di Jakarta.

Selain itu, persepsi masyarakat terhadap penyiaran lokalnya dinilai kurang, kurang merasa memiliki. Padahal, semestinya mereka harus berbangga dengan lahirnya lembaga penyiaran lokal di daerah yang isi siarannya lokal dan pemiliknya orang lokal.

Sulitnya mendapatkan pengiklan menjadi persoalan sendiri lembaga penyiaran local. Terlebih lagi, kurang dukungan dari Pemerintah Daerah dan pengusaha swasta dalam memberdayakan media penyiaran lokal dalam sosialisasi, maupun memasarkan produk mereka.

Paradigma pengiklan menghitung cakupan penonton maupun pendengar dari media tersebut. Sebab, wilayah layanan berskala lokal, sementara penyiaran yang bersiaran jaringan memiliki wilayah jangkauan yang luas.

Media penyiaran khususnya televisi lokal merupakan bisnis yang padat modal, padat karya dan memiliki sumber daya manusia yang banyak. Semakin banyak karyawan, semakin banyak pula pengeluaran. Sebab itu, keberadaan media penyiaran lokal membawa kepentingan daerah perlu dibela dengan bentuk affirmative action.

* Penulis adalah alumni Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unhas.

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar