src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Pendataan produksi sawit. (IST. Asosiasi Koperasi Belayan Bersatu) HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Sepanjang bulan Januari hingga Februari 2023, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) di sebagian wilayahnya mengalami curah hujan cukup tinggi. Tidak hanya menyebabkan banjir, hujan juga menghambat produksi berbagai usaha perkebunan.
Petani Desa Muai Kecamatan Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara mengalami penurunan produksi panen kelapa sawit.
Ketua Asosiasi Koperasi Belayan Bersatu (AKBB) Jamaluddin mengatakan tanaman kelapa sawit menyerap air dalam kuantitas yang tinggi. Namun, penyerapan air ini juga menurutnya harus dalam ukuran yang sesuai.
“Pada dasarnya tanaman kelapa sawit membutuhkan curah hujan pada titik tertentu untuk memperoleh produksi yang tinggi. Namun, curah hujan yang berlebihan juga dapat berdampak negatif pada produktivitas kelapa sawit,” bebernya kepada headlinekaltim.co, pada Selasa 7 Februari 2023.
Pria yang akrab disapa Jamal ini menyampaikan, tingginya curah hujan tidak hanya berdampak pada kualitas tanaman kelapa sawit. Namun, dapat menimbulkan banjir yang menghambat infrastruktur di wilayahnya.
“Dampaknya operasional petani terganggu dan proses tumbuh kembang sawit juga tidak maksimal,” katanya dalam wawancara via telepon.
“Pengaruhnya ada pada penurunan produksi, atau biasa disebut trek, dimana dalam masa tertentu, TBS mengalami penurunan produksi. Berdasarkan data yang saya miliki, produksi semua koperasi yang tergabung di AKBB, turun tidak kurang dari 4 ribu ton dari rata-rata produksi 14.000 ton, bulan Januari 2023 ini, hanya 10.000 ton. Atau di koperasi belayan sejahtera yang rata-rata produksi perbulannya 4.200 ton, bulan januari hanya 3.600 ton,”beber Jamal, sapaannya.
Menurutnya, penurunan produksi ini juga dipengaruhi faktor lainnnya.“Agar diketahui, data yang saya sebutkan di atas adalah data produksi koperasi yang dikirimkan kepada PT. Rea Kaltim Plantations & Grup. Saya menduga, kebijakan perusahaan yang menurunkan harga TBS belakangan ini, mengakibatkan petani mengirimkan TBS-nya keluar REA Kaltim,” katanya.
Untuk menghadapi situasi ini, pihaknya mempersiapkan pemahaman tata kelola kebun agar dapat bertahan dalam situasi yang tidak dapat diprediksi dan dapat memaksimalkan kualitas perkebunan kelapa sawit.
“Saat ini koperasi kami berupaya untuk memperkuat pemahaman petani tentang tata kelola kebun yang baik dan benar untuk meminimalisir potensi penurunan produksi akibat curah hujan. Salah satu yang kami terus lakukan adalah dengan mendorong pelatihan best manajemen praktis. Saat ini setidaknya sudah lebih dari 1.000 petani yang ikut pelatihan dan akan terus diluaskan. Koperasi juga terus berupaya mengerahkan alat berat yang kami miliki untuk memastikan jalan petani tidak terkendala,” ujarnya.
Ia berharap bahwa langkah tersebut dapat menjadi solusi untuk dapat bertahan di tengah tingginya curah hujan di Kaltim saat ini.
“Selain itu, saya harap perusahaan dapat lebih manusiawi dalam menentukan harga untuk petani swadaya,” tandasnya.
Penulis: Erick