src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO, PARIS –Kapal induk Charles de Gaulle dikerahkan Prancis ke Samudra Atlantik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang turut menguji soliditas NATO. Kapal induk andalan Angkatan Laut Prancis itu dilaporkan telah bertolak dari Pelabuhan Toulon di kawasan Laut Mediterania, membawa serta gugus tugas tempur lengkap.
Pada tahap awal misi ini, kapal induk Charles de Gaulle dijadwalkan mengikuti latihan militer berskala besar bersama negara-negara sekutu. Dilansir dari rri.co.id. Meski jalur pelayaran tidak diungkap secara rinci, sejumlah sumber menyebutkan gugus tugas tersebut bergerak menuju kawasan Atlantik Utara.
Kawasan Atlantik Utara saat ini menjadi salah satu titik fokus utama dalam dinamika keamanan global. Pengerahan kapal induk Charles de Gaulle ini juga bertepatan dengan rencana Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar pertemuan tingkat tinggi di Paris bersama para pemimpin Denmark dan Greenland.
Greenland dinilai memiliki posisi strategis karena berada di antara Samudra Arktik dan Atlantik Utara. Selain letak geografisnya, wilayah tersebut juga dikenal menyimpan potensi sumber daya mineral bernilai tinggi, sehingga menarik perhatian berbagai kekuatan besar dunia. Kondisi ini menjadikan Greenland berada dalam sorotan politik dan militer internasional.
Ketegangan meningkat sejak awal bulan ini setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial terkait niat merebut Greenland dari Denmark. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari negara-negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, yang kemudian menunjukkan sikap persatuan untuk mendukung Denmark.
Situasi semakin memanas ketika Trump juga memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menentang kebijakannya. Namun, ancaman aksi militer akhirnya ditarik setelah tercapai kerangka kesepakatan, meski detail kesepakatan tersebut belum dipublikasikan secara terbuka. Di tengah situasi ini, pengerahan kapal induk Charles de Gaulle menjadi sorotan publik internasional.
Pemerintah Prancis menegaskan, langkah tersebut bersifat terukur dan tidak dimaksudkan sebagai tindakan konfrontatif. Pengerahan armada laut ini disebut sebagai bagian dari komitmen Prancis dalam menjaga stabilitas kawasan serta memperkuat kerja sama pertahanan dengan sekutu NATO.
Latihan militer yang diberi nama Orion 26 itu akan melibatkan pasukan Prancis bersama negara-negara sekutu dan mitra regional. Latihan tersebut direncanakan berlangsung di kawasan yang dinilai strategis bagi kepentingan pertahanan Eropa, sekaligus menguji kesiapan operasional aliansi.
Gugus tugas kapal induk Charles de Gaulle mencakup kapal induk beserta pesawat tempurnya, yang didukung oleh kapal pengawal seperti fregat pertahanan udara, kapal logistik, serta kapal selam serang. Armada ini mencerminkan kemampuan proyeksi kekuatan Prancis dalam menjaga keamanan maritim di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.