src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO –– Hipertensi anak menjadi salah satu temuan paling mengejutkan dalam hasil pemeriksaan kesehatan nasional terbaru. Selain hipertensi anak, masalah gigi anak juga tercatat sebagai gangguan kesehatan yang paling banyak dialami kelompok usia muda. Fakta ini disampaikan Kementerian Kesehatan dalam forum nasional yang membahas pemeriksaan kesehatan nasional serta capaian cakupan layanan kesehatan.
Dilansir dari rri.co.id, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut temuan hipertensi anak berada di urutan kedua setelah masalah gigi, sebuah kondisi yang selama ini lebih identik dengan kelompok usia dewasa.
“Kalau untuk anak-anak paling banyak masalahnya gigi. Nomor dua (anak-anak) saya agak kaget, hipertensi, tekanan darah tinggi ya. Kalau orang dewasa itu yang tinggi hipertensi, nomor dua obesitas. Kalau lansia seperti kami, itu paling tinggi gigi dan hipertensi,” ujar Budi.
Menurut Budi, meningkatnya kasus hipertensi anak menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk memperkuat strategi pencegahan. Ia menilai pendekatan kesehatan tidak seharusnya hanya berfokus pada pengobatan, tetapi pada upaya menjaga masyarakat agar tidak jatuh sakit, termasuk mencegah hipertensi anak sejak dini.
“Health itu sehat, bukan pengobatan yang sakit. Jadi Pak Presiden juga bilang lebih baik kalau semua rakyat Indonesia itu sehat, jadi jangan sampai sakit. Kalau perlu enggak usah masuk rumah sakit karena itu lebih murah dan juga lebih baik kualitas hidupnya,” katanya.
Budi menambahkan, salah satu upaya konkret pemerintah adalah peluncuran program Cek Kesehatan Gratis. Program ini diharapkan mampu mendeteksi dini berbagai penyakit, termasuk hipertensi anak, sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius di kemudian hari.
Selain pencegahan, pemerintah juga menyiapkan langkah penguatan layanan kesehatan. Presiden Prabowo Subianto, kata Budi, telah menginstruksikan pembangunan puluhan rumah sakit baru di wilayah terpencil dan tertinggal agar akses layanan medis lebih merata.
“Pak Presiden sudah menyuruh saya membangun 66 rumah sakit di kabupaten/kota terpencil dan tertinggal. Sekarang sudah siap 14 rumah sakit dan mudah-mudahan bisa segera diresmikan,” ucapnya.
Langkah ini dinilai penting untuk mendukung sistem kesehatan nasional, terutama dalam menangani berbagai penyakit kronis, termasuk hipertensi anak, yang membutuhkan pemantauan jangka panjang. Pemerataan fasilitas juga diyakini dapat menekan kesenjangan layanan kesehatan antarwilayah.
Sementara itu, Direktur Utama BPJS Kesehatan Ghufron Mukti menyebut capaian Indonesia dalam menjamin akses kesehatan telah menjadi perhatian dunia internasional. Ia mengatakan strategi pemeriksaan kesehatan nasional Indonesia dinilai cepat dan efektif.
“Indonesia sekarang menjadi rujukan banyak negara. Skema kita satu dan dalam waktu sekitar 10 tahun hampir seluruh masyarakat sudah menjadi peserta dan memiliki akses layanan kesehatan,” ujarnya.
Di kesempatan yang sama, Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk menegaskan bahwa layanan kesehatan merupakan urusan wajib pemerintah daerah. Ia meminta seluruh kepala daerah memastikan warganya terlindungi, termasuk dalam upaya pencegahan hipertensi anak dan penyakit lainnya.
“Masalah kesehatan adalah pelayanan dasar, urusan absolut. Itu wajib, enggak ditawar-tawar. Ini hak rakyat dan harus dicover oleh pemerintah daerah,” katanya.
Dengan temuan meningkatnya hipertensi anak, pemerintah menilai perlu ada perubahan pola hidup sejak usia dini. Edukasi kesehatan, pemeriksaan rutin, serta penguatan layanan dasar diharapkan mampu menekan risiko hipertensi anak dan meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.