src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Festival Film Pelajar Berau 2025, Pelatuk Ekosistem Perfilman Lokal

Festival Film Pelajar Berau 2025, Pelatuk Ekosistem Perfilman Lokal

3 minutes reading
Thursday, 12 Feb 2026 19:18 7 huldi amal

Festival Film Pelajar Berau (FFPB) 2025 digelar bukan sekadar ajang pemutaran karya siswa, tetapi menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem perfilman pelajar di Kabupaten Berau. Kegiatan ini merupakan kolaborasi dari ALS Films, SMAN 2 Berau dan SMPN 1 Sambaliung.

Sebanyak 8 film pendek ditayangkan pada 11-12 Februari 2026 di Platinum Cineplax. Judul-judul film pendek yakni Semuanya Sama Saja, Mey & Riska, Malam Biasa di Sudut Kota, Langit Dengan Awannya, Izin Sakit, Amaryllis, Sleep Over, dan Satu Dua Tiga Sayang Semuanya.

Pengarah Produksi FFPB 2025, Garry Cantona, menegaskan festival ini merupakan pancingan untuk membentuk ekosistem film pendek di Berau. Menurutnya, karya pelajar tidak boleh berhenti hanya di lingkungan sekolah, melainkan harus mendapat ruang apresiasi yang lebih luas agar terus berkembang.

“Kalau hanya diputar di internal sekolah, karya mereka akan berhenti di situ. Festival ini dibuat untuk menarik sekolah lain agar ikut terlibat, sehingga ekosistem film pendek di Berau bisa terbentuk dan berkembang,” jelasnya.

Festival ini menjadi stimulus agar muncul lebih banyak penulis, kreator, dan pembuat film muda dengan warna karya yang beragam. Meski masih berskala internal, ia optimistis FFPB 2025 dapat berkembang hingga menjangkau tingkat nasional. Namun, penguatan fondasi di tingkat lokal menjadi prioritas utama.

Garry menyebut FFPB 2025 melibatkan pelajar dari SMAN 2 Berau dan SMPN 1 Sambaliung. Keterlibatan sekolah tersebut juga berangkat dari kegiatan ekstrakurikuler dan proyek pembelajaran yang kemudian dikembangkan menjadi festival agar dampaknya lebih besar.

Ia menilai minimnya aktivitas kreatif di Berau menjadi tantangan besar sekaligus peluang untuk dikembangkan. Berangkat dari pengalamannya di Yogyakarta yang memiliki ekosistem seni di berbagai sudut kota, Garry ingin menghadirkan semangat serupa di Berau melalui kegiatan kreatif, termasuk perfilman.

“Bukan hanya tari atau musik, tetapi juga industri kreatif seperti film harus berkembang. Kita ingin Berau punya banyak ruang berkegiatan kreatif,” tuturnya.

Di balik pelaksanaannya, festival ini dibangun dengan semangat gotong royong. Produksi film dilakukan secara swadaya melalui patungan dana antarkelompok, dukungan proposal, serta bantuan peralatan dari pihak vendor dokumentasi A Little Story Films.

“Dengan keterbatasan yang ada, kami berusaha maksimal. Prinsipnya, jangan pernah merasa puas agar pelajar ini terus berkembang,” ungkapnya.

Pimpinan Produksi FFPB 2025 lainnya, Risna Herjayanti, mengungkapkan festival ini awalnya merupakan proyek tugas akhir ujian praktik Seni Budaya SMAN 2 Berau yang kemudian berkembang menjadi gerakan bersama.

Ia menilai kemampuan produksi konten digital, khususnya film pendek, kini menjadi kebutuhan penting bagi pelajar, baik untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja. “Konten video digital sangat dibutuhkan saat ini. Kami berharap ke depan lebih banyak sekolah berpartisipasi dan kolaborasi semakin luas,” ujarnya.

Guru Seni Budaya SMAN 2 Berau ini juga berharap FFPB 2025 dapat menjadi wadah lahirnya ekosistem perfilman pelajar yang berkelanjutan serta mampu membawa karya pelajar Berau ke panggung festival di tingkat nasional.

“Melalui semangat kolaborasi dan swadaya, Festival Film Pelajar Berau 2025 menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang bagi tumbuhnya kreativitas,” bebernya.

Endah yang merupakan salah satu penonton FFPB 2025 mengaku terkesan dan bangga dengan karya film pendek yang disajikan oleh pelajar khususnya di SMAN 2 Berau dan SMPN 1 Sambaliung.

“Karena ini pertama kalinya saya menyaksikan film di bioskop dan menonton karya pelajar Berau yang dikemas dengan luar biasa,” pungkasnya. (Riska)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x