23.6 C
Samarinda
Jumat, Agustus 6, 2021

DPRD Kaltim Dorong Pelatihan Bagi Operator PLTS di Kutim

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Anggota Komisi I DPRD Kaltim Agil Suwarno menyebut program penerangan dengan menggunakan PLTS di daerah-daerah terpencil di Kutai Timur jauh lebih bagus.

Dikatakannya, sedikitnya ada sekitar 60 titik pembangunan PLTS, gencar dikerjakan pada tahun 2021 ini untuk daerah tersebut, dengan menelan anggaran mulai Rp 10 miliar hingga Rp 12 miliar.

Besarnya biaya pembangunan PLTS tersebut, kata dia, disebabkan jaringan distribusinya yang cukup jauh.

“Untuk Kutim, tenaga surya sudah bagus. Tenaga surya itu dibangun di daerah yang jauh dari PLN. Kemudian jaringan distribusinya jauh, sehingga dibutuhkan PLTS. Tapi dimana-mana PLTS ini memang biaya pembangunannya tinggi, walaupun costnya rendah, sampai Rp 10-12 miliar,” katanya pada awak media beberapa waktu lalu.

Agil Suwarno mengakui ada beberapa masalah yang kerap timbul dengan penggunaan PLTS tersebut. Diantaranya adalah bagaimana merawat unit yang ada agar bisa awet.

“Karena memang ini teknologi baru, sehingga dibutuhkan pelatihan tenaga operator yang mengelola PLTS di masing-masing daerah,” katanya.

Untuk itu, lanjut Agil Suwarno, DPRD Kaltim telah memberikan saran kepada pemerintah provinsi (Pemprov) Kaltim untuk melakukan pelatihan khusus kepada operator PLTS, untuk penanganan lebih cepat ketika terjadi kerusakan.

“Perlu pelatihan, biar cepat tahu kalau indikatornya ini, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Perawatan dan perbaikan apa, sparepart apa. Kalau kita, bagi daerah yang jauh seperti itu di Kaltim, kebijakan membangun sumber energi PLTS itu jadi salah satu alternatif. Walaupun kita juga punya sumber lain, seperti air terjun. Itu juga bisa dikelola, tapi kan mungkin teknologi yang juga perlu dikenalkan ke kita,” ujarnya.

“Kemarin kita sarankan ini karena ini menyangkut teknologi yang cukup rumit. Jadi harus dibutuhkan pelatihan. Pemerintah Provinsi sudah membangun kurang lebih 60 titik, tapi belum ada pelatihan. Khawatirnya kalau alat ini rusak dan tidak cepat ditangani. Ini yang jadi masalah,” sambungannya.

Masih kata Agil Suwarno, PLTS menggunakan baterai jenis lithium yang harganya sangat mahal dan perlu perawatan ekstra. Sehingga diperlukan adanya pengetahuan dan cara penanganan yang cepat dan tepat ketika terjadi kerusakan.

“Karena baterai mereka pakai baterai lithium yang cukup mahal harganya. Jadi Rp 10 miliar itu artinya 30 persennya untuk baterai. Itu butuh perawatan ekstra. Kalau baterai mati, maka sekampung tidak ada penerangan, tidak bisa apa-apa walaupun dikasih tenaga matahari,” tutupnya. (Advetorial)

Penulis : Ningsih

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar