24.7 C
Samarinda
Wednesday, May 22, 2024

Destinasi Wisata Di Muara Kaman Kutai Kartanegara Kalimantan Timur

Headlinekaltim.co – Muara Kaman, adalah satu dari sekian kecamatan di kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Muara Kaman banyak disebut di Sejarah Indonesia, sebagai tempat ditemukannya prasasti yupa, bertarikh sekitar abad ke-4 Masehi. Prasasti ini dianggap paling tua dibanding prasasti lain yang bisa ditemukan sejauh ini, di Indonesia.

Secara umum, prasasti tersebut mengisahkan keberadaan raja Mulawarman, dengan garis keturunan dimulai dari Kundungga dan berlanjut ke Aswawarman lalu ke Mulawarman. Upacara keagamaan yang dihelat dikisahkan, berikut uborampe dan brahmana yang diundang.

Lokasi ini menarik, karena terletak di tepi Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Rantau, yang bila beruntung, kadangkala tampak pesut berkejaran.

Kerajaan yang dipimpin oleh Mulawarman pada saat prasasti yupa itu dibuat, kemudian dikenal sebagai kerajaan Kutai Mulawarman atau Kutai Muara Kaman atau Kutai Martapura.

Kerajaan ini, sama sekali berbeda dengan kerajaan Kutai Kertanegara, yang baru muncul di abad ke-13, hampir 1000 tahun setelah kerajaan Kutai Martapura berdiri. Kutai Kertanegara sendiri, raja pertamanya adalah Aji Bathara Agung Dewa Sakti, dan berlokasi awal di Kutai Lama, Anggana, Kutai Kartanegara.

CARA MENCAPAI MUARA KAMAN

Muara Kaman yang menjadi lokasi utama pusat kerajaan Kutai Martapura, pada kondisi saat ini, dapat ditempuh melalui jalur Sebulu, maupun jalur Kota Bangun.

1. Jalur Sebulu – Muara Kaman

Jalur Sebulu – Muara Kaman, dapat ditempuh lewat jalur darat dengan kondisi jalan beragam, melalui Teluk Dalam, Sebulu hingga mencapai Muara Kaman.

Jalur tersebut, dengan tujuan akhir di lapangan depan rumah dinas Camat Muara Kaman, yang disebut Lapangan Monumen Muso bin Salim. Jalur ini, apabila ditempuh dari sekitar Simpang Air Putih Samarinda, berjarak sekira 98 KM dengan lama tempuh 3 jam 15an menit.

Tautannya, sebagai berikut Lapangan Monumen Muso Salim

2. Jalur Samarinda – Kota Bangun

Jalur Samarinda – Kota Bangun, ditempuh melalui kota Tenggarong menuju arah Kota Bangun, dan berhenti di feri penyeberangan menuju Muara Kaman. Jalur ini banyak disukai karena kondisi jalannya relatif baik sepanjang jalan, dibandingkan jalur Sebulu.

Jalur ini, apabila ditempuh dari sekitar Simpang Air Putih Samarinda, berjarak sekira 107 KM dengan lama tempuh 2 jam 20an menit.

Tautannya, sebagai berikut Penyebrangan Mobil & Motor Muara Kaman

LOKASI KUNJUNG DI MUARA KAMAN

A. LOKASI KUNJUNG ANTARA

1. Kompleks Goa Selerong

Lokasi ini dilewati, apabila menggunakan jalur Kota Bangun – Muara Kaman, berjarak 40 KM dari jembatan Tenggarong, sisi kiri jalan.

Kompleks gua ini, beberapa waktu lalu pernah menjadi berita, dan disebutkan masuk dalam desa Lebaho Ulaq. Ternyata, kawasan kompleks gua ini sejatinya adalah bagian dari desa Selerong, Muara Kaman. Kompleks gua ini memiliki banyak mulut gua untuk dimasuki.

Pada kompleks gua ini, terdapat ragam lorong, stalaktit dan stalakmit, ragam fauna gua dan sungai bawah tanah. Disarankan, menghubungi aparat atau warga setempat agar dapat dipandu memasuki gua yang memang riskan dijelajahi tanpa dipandu yang memahami karakter gua tersebut.

Mulut gua terdekat, ada sekitar 50 meter dari tepi jalan lintas Samarinda – Kota Bangun, yang dapat dicari dengan mengklik tautan berikut Selerong, Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

B LOKASI KUNJUNG UTAMA KUTAI MARTAPURA

Sesampai di Muara Kaman yang persisnya bagian dari Muara Kaman Ilir, maka lokasi-lokasi yang berkaitan dengan keberadaan kerajaan Kutai Martapura, dapat merujuk pada tautan-tautan berikut.

2. Tepian Batu

Tepian Batu adalah lokasi yang diyakini merupakan bagian dari pelabuhan lama di era Kerajaan Kutai Martapura.

Tautannya sebagai berikut Tepian Batu Muara Kaman Ulu, Kec. Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

3. Makam Tionghoa

Perkembangan ekonomi kawasan, biasanya juga ditilik dari keberadaan peradaban Tionghoa yang berkembang di kawasan tersebut. Jejak bangunan Tionghoa tak lagi dikenali, namun keberadaan makam-makam Tionghoa bertarikh hingga kisaran tahun 1964 masih bisa dikenali di kawasan ini.

Tautannya sebagai berikut Makam Tionghoa 

4. Lembu Ngeram

Lembu Ngeram adalah sebutan untuk batu yang ada lereng sungai Kedang Rantau. Bentukan yang menyerupai lembu atau sapi dalam kondisi duduk santai, adalah bentukan punuknya. Selebihnya, hanya tampak sebagai batu biasa. Batu ini materialnya setempat, berupa batupasir yang tampaknya mengandung karbonat sehingga menghasilkan kesan pelarutan jenis rongga. Secara total terdapat 3 – 4 onggok batu berjenis serupa, namun hanya batu yang dikenal sebagai Lembu Ngeram itu saja yang memiliki kesan punuk di punggungan batunya.

Tautannya sebagai berikut Lembu Ngeram 

5. Lesong Batu

Lesong Batu adalah onggok rebah dari batu berbentuk memanjang yang disebut yupa. Yupa sejatinya adalah tugu batu yang digunakan untuk mengikat hewan persembahan, bagian dari ritual saat itu. Ketika yupa itu kemudian dipahat aksara yang dipahami saat itu, jadilah ia prasasti yupa. Namun ketika tiada pahatan huruf/ enkripsi, ia hanya disebut yupa. Masyarakat menjuluki yupa rebah tersebut sebagai Lesong Batu, karena dianggap mirip bentukan lesung untuk menumbuk padi-padian, dan berbahan batu.

Sebutan ini lebih karena bentukan memanjangnya yang menyerupai bentuk lesung. Meskipun tidak tepat sepenuhnya, karena tiada bentukan lesung/ cekung pada sisi-sisi yupa yang ada. Ya, sisi-sisi yupa tersebut relatif datar, tanpa lesung/ rongga yang sesuai, sebagaimana lesung pada umumnya; tempat meletakkan biji-bijian padi untuk ditumbuk.

Lesong Batu ini, berbahan batu andesit, yang membentuk kesan tiang memanjang, sedikit lebih dari 2 meter. Kesan tiang ini, bukanlah buatan manusia, melainkan produk alam akibat magma bersuhu ratusan derajat Celcius yang mendesak hingga permukaan tanah, mendingin tiba-tiba sehingga retak-retak memanjang, membentuk kesan kolom berhimpitan.

- Advertisement -

LIHAT JUGA

TERBARU