src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Tim BPBD Kota Samarinda meninjau kondisi permukiman warga di sekitar proyek hotel Marriott di Jalan KH Samanhudi, Samarinda, Rabu (30/9/2026). (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Aktivitas pembangunan proyek Courtyard by Marriott Hotel Samarinda yang dikembangkan PT KSA Realty Indonesia di Jalan KH Samanhudi, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang, menuai keluhan dari warga yang tinggal di sekitar area proyek konstruksi. Dampak yang dirasakan warga tidak hanya berupa keretakan pada bangunan rumah, tetapi juga genangan hingga air yang muncul dari bawah lantai ketika hujan deras.
Ketua RT 02, Ratna Utariah, menyebut sedikitnya 19 rumah di wilayahnya terdampak aktivitas pembangunan tersebut, jumlah yang terus bertambah dibanding laporan warga pada awal tahun ini yang baru menyebut belasan unit rumah mengalami gangguan serupa. Ratna mengatakan tingkat kerusakan setiap rumah berbeda-beda. Rumah yang lokasinya semakin dekat dengan area proyek disebut mengalami dampak lebih berat dibandingkan bangunan yang jaraknya lebih jauh.
“Kalau untuk RT 02 sendiri itu pasti terdampak karena posisi hotel di bangunan warga itu hanya sekitar 3 meteran saja dari rumah warga. Nah, itu diperkirakan sekitar 19 rumah yang terdampak, tapi itu ada yang lebih parah, ada yang sedang, ada yang ringan, tergantung jarak dengan hotel,” ujar Ratna saat ditemui Rabu, 30 September 2026.
Kerusakan yang ditemukan warga umumnya berupa retakan pada dinding dan keramik. Namun, persoalan lain muncul ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Rumah yang berada paling dekat dengan proyek disebut mengalami banjir hingga air keluar dari bagian bawah lantai. Kondisi tersebut baru terlihat jelas ketika hujan turun karena sebelumnya warga tidak mengetahui adanya kemungkinan kebocoran atau keretakan pada bagian bawah lantai.
“Rata-rata kerusakan kalau yang sama rata itu retak, retak dinding, terus (lantai) keramik. Jadi waktu kemarin hujan deras, akhirnya yang dekat betul-betul hotel itu banjir total dan keluarnya itu bukan masuk dari pintu, tapi dari keramik,” tambah dia.
Selain rumah, kondisi jalan di Gang Jamhari juga dikeluhkan warga. Jalan lingkungan disebut mengalami kerusakan dan warga telah meminta pihak pengelola proyek melakukan perbaikan. Namun, perbaikan belum dilakukan secara permanen karena aktivitas konstruksi masih berjalan. Ratna mengatakan warga memperoleh informasi bahwa setelah pekerjaan pemancangan sebelumnya, masih terdapat rencana penambahan sekitar 140 tiang.
Oleh sebab itu, warga khawatir perbaikan jalan maupun rumah yang dilakukan sebelum seluruh pekerjaan konstruksi selesai justru berpotensi kembali mengalami kerusakan. Ratna bilang, pihak hotel juga sempat menyampaikan rencana melakukan survei terhadap rumah-rumah warga yang terdampak. Survei tersebut sempat berjalan dengan pemeriksaan sekitar empat rumah dalam satu hari, tetapi kemudian tidak berlanjut. “Survei itu mungkin agak lambat ya, sudah dilakukan survei sehari itu empat rumah, tapi besoknya sudah tidak ada lagi sampai sekarang. Karena ada hujan kemarin yang banjir itu jadi warga sudah agak lebih emosi,” tutur Ratna.
Keluhan terkait dampak proyek tersebut telah berlangsung selama sekitar lima hingga enam bulan, seiring dengan aktivitas pembangunan hotel di kawasan tersebut. Sejak peletakan batu pertama pada April 2026, memang sudah beberapa kali menuai sorotan warga, mulai dari getaran pemadatan tanah hingga genangan air limpasan proyek. Persoalan itu kemudian ditinjau langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda. Analis Kebencanaan BPBD Samarinda, Hamzah, mengatakan dampak pembangunan tidak hanya dirasakan warga RT 02.
Berdasarkan peninjauan di lapangan dan laporan warga, terdapat tiga RT yang berada di sekitar area proyek, yakni RT 02, RT 03 dan RT 05. Wilayah RT 02 dan RT 03 dinilai berada paling dekat dengan aktivitas konstruksi. “Yang paling terdampak langsung RT 02 dan RT 03 karena langsung berada kontak dengan kegiatan proyek ini,” kata Hamzah.
BPBD juga menemukan persoalan aliran air di sekitar lokasi. Dalam satu bulan terakhir terdapat beberapa kejadian air masuk ke rumah warga saat hujan. Kondisi tersebut dinilai berkaitan dengan belum tersedianya saluran pengalih sementara di area proyek untuk mengendalikan limpasan air menuju permukiman. “Tadi kami meninjau ada beberapa rumah itu yang kejadian hujan kemarin, selama sebulan ini ada 2-3 kali itu kemasukan air, karena memang kalau kami lihat sendiri di tapak proyeknya itu nggak ada buffer-nya, dia nggak bangun emergency drainage. Jadi nggak ada parit pengalih supaya tidak menggerangi rumah warga,” jelas Hamzah.
Selain persoalan air, posisi pekerjaan pemancangan juga menjadi perhatian BPBD. Hamzah menemukan salah satu titik pemancangan yang berada sangat dekat dengan rumah warga. Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi karena aktivitas konstruksi yang terlalu dekat dengan bangunan permukiman dapat meningkatkan risiko apabila terjadi pergerakan atau gangguan terhadap struktur bangunan. “Yang di ujung itu saya lihat ada pancang, besi naik itu posisinya melekat sekali dengan rumah warga. Nah itu juga seharusnya menjadikan buffer, nggak boleh ada kegiatan atau pemancangan,” lanjutnya.
Dari pemeriksaan terhadap bangunan warga, BPBD juga menemukan kerusakan pada bagian tertentu rumah. Salah satunya kamar mandi yang bagian bawahnya ditemukan dalam kondisi berongga sehingga tidak lagi dapat digunakan secara normal.
Hamzah juga melihat sejumlah pagar rumah mengalami perubahan posisi, ada yang bergeser ke arah depan maupun belakang. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu indikasi yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan tekanan terhadap konstruksi bangunan di sekitar proyek. “Nah, ini indikasi salah satu, kemudian juga tadi ke pagar rumah warga itu, ada yang leyot ke depan, ada yang ke belakang, nah itu karena pengaruh tekanan. Itu juga mempengaruhi konstruksi bangunan,” katanya.
BPBD berharap persoalan tersebut segera dibahas bersama antara pengelola proyek, pemerintah setempat dan warga. Terutama untuk mencari langkah penanganan terhadap aliran air serta kondisi bangunan yang telah mengalami kerusakan selama pekerjaan konstruksi masih berlangsung. Hamzah menilai apabila tidak ada pengendalian limpasan air, persoalan yang sama berpotensi kembali terjadi ketika hujan turun. Oleh karena itu, keberadaan saluran pengalih sementara atau emergency drainage menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan di sekitar area proyek.
BPBD juga mengingatkan warga untuk memperhatikan kondisi rumah masing-masing. Warga diminta tidak mengabaikan tanda-tanda perubahan pada bangunan, terutama apabila muncul suara retakan atau suara yang tidak biasa. “Kalau memang ada suara bunyi-bunyi yang seperti suara retakan bangunan atau derit kayu, lebih baik kita keluar dari rumah, menyelamatkan diri dulu, jangan sampai ada yang menjadi korban jiwa,” demikian Hamzah mengingatkan. (Retno)