src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Jalan Panjang nan Sunyi: Penerimaan Diri Ibu Anak Istimewa di Komunitasi "Ibu Tangguh"

Jalan Panjang nan Sunyi: Penerimaan Diri Ibu Anak Istimewa di Komunitasi “Ibu Tangguh”

14 minutes reading
Thursday, 8 Jan 2026 13:59 130 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Di balik harapan agung yang tersemat dalam peran ibu, tersimpan jalan panjang menjadi ibu yang utuh. Ibu, sebutan yang lumrah dilontarkan pada perempuan yang telah menikah dan memiliki anak. Hari ini, ibu tidak melulu melekat pada gender dan peran gendernya, namun juga dalam peranan hebatnya sebagai support system bagi perempuan lainnya. Perkenalkan, Komunitas “Ibu Tangguh”, sebuah support system bagi ibu-ibu hebat, ibu dengan kunci surga di kakinya, ibu pada pemilik anak berkebutuhan khusus.

Stigma sosial dan stigma pribadi: dentang yang menggema pada harga diri Ibu ABK.

Anak Berkebutuhan Khusus atau yang kerap disebut ABK adalah anak yang memiliki keadaan berbeda dari anak pada umumnya seperti cacat fisik, kelainan mental, perubahan emosional drastis, dan proses pertumbuhan anak yang kurang maksimal (Marlina et al., 2022). Dalam masyarakat umum, ABK kerap kali dikaitkan dengan penyandang autisme, padahal ABK tidak hanya sebatas satu kategori saja. ABK terbagi dalam jangkauan spektrum yang luas. Menurut Somantri (2005), karakteristik ABK terbagi menjadi tunanetra, tunarungu, tunagrahita, celebral palsy, tunadaksa, tunalaras, anak berkelainan akademik, anak berkesulitan belajar dan autisme.

Menjadi ibu dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukan hanya tentang mendampingi tumbuh kembang anak, tetapi juga tentang pergulatan batin seorang perempuan dalam menerima kenyataan hidupnya sendiri. Menjadi ibu saja sudah peran yang berat, ditambah lagi dengan amanah anak-anak istimewa yang hadir walau dengan rencana. Menerima kehadiran mereka jelas tidaklah mudah, namun menolak pun terasa berdosa. Maka, ibu sebagai pribadi vital dalam keluarga harus tampil utuh sebagai entitas yang penerimaan dirinya tanpa celah. Sayangnya, ibu sendiri terkadang tidak menyadari bahwa prasangka dan penilaian diri karena anak yang terlahir berkebutuhan, menjadi negatif. Tak sedikit ibu yang menyalahkan diri sendiri karena memiliki anak berkebutuhan khusus. Ibu merasa bersalah atas kondisi anak. Dalam kehidupan sosial, ibu merasa malu, terutama jika harus membawa anak ke ruang publik. Ada ketakutan dalam diri ibu, bahwa perilaku tak terduga yang dilakukan oleh anak adalah perilaku di luar kendali yang berakibat buruk bagi lingkungan, sehingga ibu cenderung mengurung dan menghindari anak-anak berkebutuhan khusus ini dari paparan kehidupan sosial yang lebih luas.

Efek yang akan timbul, jika emosi yang sama dirasakan terus-menerus pada diri ibu adalah citra diri yang buruk. Ibu kerap menganggap dirinya gagal menjadi seorang ibu. Rasa bersalah yang dibawa tidak hanya karena anak tidak berkembang sesuai dengan fase perkembangan pada umumnya, namun lebih jauh ibu akan menyerap pandangan negatif yang diterimanya dari lingkungan terhadap diri dan keluarganya. Situasi ini kita sebut dengan stigma pribadi pada ibu-ibu dengan anak berkebutuhan khusus.

Sebagai pribadi, ibu harus kuat dan membutuhkan waktu yang jelas tidak sebentar untuk beradaptasi dengan anak berkebutuhan khususnya. Ternyata, sosial pun memberi label yang lebih mengerikan kita sebut dengan stigma sosial. Dalam pandangan sosial, anak berkebutuhan khusus dipersepsi sebagai beban dalam masyarakat, wujud kharma pala (balasan atas kesalahan orang tua atau tetua dalam keluarga itu pada masa-masa terdahulu) ataupun anggota masyarakat yang hanya akan memberatkan kehidupan ekonomi ataupun sosialnya, sehingga tak jarang baik anak maupun ibunya dikucilkan dalam aktivitas publik (Widiati dan Sardin, 2022). Mereka diasosiasikan sebagai ‘produk gagal’, sebuah manifestasi dari stigma yang diakibatkan dari ketidaktahuan dan minimnya informasi. Situasi serupa kami temukan dalam kegiatan yang melibatkan kelompok sosial ini, komunitas “Ibu Tangguh”. Perasaan bersalah dan kasihan terhadap anak juga menjadi beban yang tak dapat dihindari seorang ibu. Ibu N (35th) mengungkapkan kegelisahannya ketika melihat anaknya tumbuh berbeda dari teman sebaya, disertai kecemasan tentang masa depan anak setelah lulus sekolah. Kekhawatiran itu tidak jarang berubah menjadi stres berkepanjangan, terutama ketika ibu merasa sendirian dan tidak dipahami oleh lingkungan sekitar. Kondisi ini menunjukkan bahwa beban psikologis ibu tidak hanya berasal dari kebutuhan anak, tetapi juga dari tekanan batin dan sosial yang terus dirasakan.

Penerimaan Diri: Jalan Panjang bagi ibu dengan Anak berkebutuhan khusus

Wardani dan Aristin (2023) menjelaskan bahwa penerimaan diri sejatinya merupakan sebuah perjalanan psikologis di mana seseorang belajar menghargai eksistensinya secara utuh di tengah realitas yang dihadapi. Dalam proses ini, individu tidak lagi bersembunyi dari ketakutan-ketakutannya, melainkan berani menatap segala kekurangan, gejolak emosi, bahkan rasa permusuhan yang kerap muncul dalam diri. Hasilnya adalah tercapainya ketenangan batin dan kenyamanan hidup yang autentik. Namun perlu dipahami, jalan menuju penerimaan diri bukanlah jalur mulus tanpa hambatan. Sebelum sampai pada titik penerimaan, seseorang biasanya mengalami pergulatan internal yang cukup berat, ditandai dengan penolakan terhadap kenyataan, krisis kepercayaan diri, kesedihan mendalam, kekecewaan, hingga luapan amarah atas kondisi yang dialaminya.

Yang perlu digarisbawahi, penerimaan diri bukan berarti menyerah pada keadaan atau larut dalam duka berkepanjangan. Sebaliknya, ia adalah pintu gerbang menuju perdamaian batin dengan diri sendiri. Dengan menerima sepenuh hati segala keterbatasan, kekhasan, dan potensi yang dimiliki, seseorang justru membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna dan bahagia.

Hal ini terungkap dalam diskusi kelompok terarah (Focused Group Discussion) yang melibatkan sejumlah ibu dengan anak ABK di Samarinda, yang berbagi kisah tentang rasa kehilangan, kelelahan emosional, hingga proses berdamai dengan diri sendiri. Pengalaman ini sejalan dengan temuan penelitian Faradina (2016) yang menyebutkan bahwa penerimaan diri orang tua, khususnya ibu, merupakan proses bertahap yang tidak selalu berjalan mulus.

Sebagian besar ibu mengaku bahwa fase awal mengetahui kondisi anak merupakan masa paling berat. Penolakan, kaget, dan rasa tidak percaya menjadi reaksi pertama yang muncul. Salah satu ibu bahkan menceritakan bahwa suaminya sempat pingsan ketika mengetahui anak mereka mengalami gangguan pendengaran. Ada pula ibu yang memilih bersikap acuh tak acuh karena merasa tidak siap menerima kenyataan bahwa dua anaknya sekaligus adalah ABK. Reaksi-reaksi ini menggambarkan tahap penolakan dan keterkejutan emosional yang umum dialami orang tua sebelum sampai pada fase penerimaan diri.

Dalam kondisi tersebut, para ibu menyadari bahwa mereka bukan hanya membutuhkan terapi untuk anak, tetapi juga dukungan emosional untuk diri mereka sendiri. Banyak ibu merasa “kehilangan dunia” sebelum akhirnya menemukan kembali semangat hidup melalui pertemuan dengan sesama ibu yang memiliki pengalaman serupa. Salah satu peserta FGD menggambarkan perasaannya, “Dunia terasa hidup lagi ketika tahu ternyata saya tidak sendirian.” Penelitian Partini dkk. (2023) menunjukkan bahwa dukungan emosional dan spiritual, seperti rasa syukur dan kesabaran, berperan besar dalam membantu ibu mencapai penerimaan diri.

Proses penerimaan diri para ibu tidak terjadi secara instan. Ada ibu yang mengaku suaranya masih bergetar setiap kali menceritakan kondisi anaknya, meski sudah bertahun-tahun berlalu. Namun, keterbukaan dalam komunitas justru menjadi ruang aman untuk menyalurkan emosi yang selama ini dipendam. Di sanalah para ibu belajar bahwa menerima kondisi anak juga berarti menerima keterbatasan, kelelahan, dan luka dalam diri sendiri. Penerimaan diri ini menjadi kunci agar ibu tidak terus terjebak dalam rasa bersalah dan penolakan terhadap dirinya sendiri.

Komunitas menjadi titik balik penting dalam proses tersebut. Tidak hanya sebagai tempat berbagi informasi, tetapi juga sebagai ruang saling menguatkan. Beberapa ibu yang awalnya tertutup dan introvert mulai berani bersuara, berbagi cerita, bahkan memperjuangkan hak-hak anak ABK bersama ibu lainnya. Dari rasa tidak menerima, tumbuh keberanian untuk melangkah dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi anak dan diri mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa ibu yang memiliki penerimaan diri positif cenderung lebih terbuka dan mampu menjalani peran pengasuhan dengan lebih sehat secara emosional.

Meski demikian, para ibu menegaskan bahwa perjalanan ini masih panjang. Mereka berharap adanya pendampingan psikologis khusus bagi ibu-ibu ABK, bukan hanya fokus pada terapi anak. Menurut mereka, ibu yang sehat secara mental akan lebih mampu mendampingi anak dengan penuh kesabaran dan cinta. Penelitian juga menegaskan bahwa kebersyukuran dan kesabaran dapat menjadi sumber kekuatan batin bagi ibu dalam menjalani peran tersebut.

Kisah para ibu dalam FGD ini menunjukkan bahwa penerimaan diri adalah fondasi utama dalam pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus. Di balik ketegaran yang terlihat, terdapat proses panjang yang penuh air mata, ketakutan, dan keberanian untuk bangkit. Dan ketika seorang ibu mulai menerima dirinya sendiri, di situlah kekuatan sejati perlahan tumbuh.

Komunitas “Ibu Tangguh”: rumah untuk pulang dan mendapat pelukan.

Bayangkan rasanya ketika dunia seakan runtuh. Itulah yang dirasakan banyak ibu saat pertama kali mengetahui anaknya berkebutuhan khusus. Ada yang merasa dunianya berhenti berputar, ada yang menyalahkan diri sendiri, bahkan ada yang memilih mengurung diri karena malu. Di tengah kegelapan itulah, kehadiran sesama ibu yang mengalami hal serupa menjadi secercah cahaya.

Di Samarinda, komunitas “Ibu Tangguh” hadir sebagai ‘rumah kedua’ bagi para ibu dengan Anak Berkebutuhan Khusus. Komunitas ini adalah perkumpulan ibu-ibu yang setiap bulan bertemu untuk arisan. Hanya saja, yang membedakan kegiatan ‘arisan’ mereka adalah bagaimana arisan mereka bukan sekadar bertemu dengan satu sama lain, tetapi berbagi pengalaman, saling bercerita mengenai perkembangan buah hati mereka, serta kesadaran diri untuk saling menguatkan satu sama lain. Tidak hanya arisan, komunitas ini rutin mengadakan kegiatan seperti pelatihan atau seminar seputar parenting atau anak berkebutuhan khusus.

Bagi para ibu-ibu hebat ini, komunitas ini adalah rumah kedua, bukan rumah dalam arti bangunan fisik, melainkan tempat di mana mereka bisa melepas beban, berbagi cerita tanpa takut dihakimi, dan menemukan kekuatan dari sesama yang benar-benar memahami perjuangan mereka. Mereka berbagi air mata, harapan, bahkan kekecewaan yang serupa. Seorang ibu yang suaranya masih bergetar menceritakan kondisi anaknya akan disambut dengan anggukan paham dari ibu lain. Tidak ada tatapan kasihan atau nasihat menggurui. Yang ada hanya pelukan hangat dan kalimat penuh pengertian.

Penelitian membuktikan bahwa dukungan dari sesama ini bukan sekadar basa-basi. Sarafino dan Smith (2012) menjelaskan bahwa dukungan sosial merujuk pada kenyamanan, kepedulian, penghargaan, atau bantuan kepada seseorang dari orang lain atau dari kelompok. Ketika ibu-ibu ini saling mendukung, tingkat stress mereka menurun dan kemampuan untuk menerima kondisi anak meningkat drastis. Semakin kuat dukungan yang mereka terima, semakin kuat pula mental mereka menghadapi tantangan sehari-hari.

Dalam komunitas  ini, dukungan mengalir dalam empat bentuk nyata:

1. Dukungan Emosional.

Komunitas “Ibu Tangguh” membuktikan bahwa kekuatan terbesar seorang ibu tidak datang dari dalam diri sendiri, melainkan dari pelukan hangat sesama. Ketika satu ibu jatuh, ibu lainnya mengulurkan tangan. Ketika satu ibu menangis, ibu lainnya menguatkan. Dan dalam lingkaran solidaritas itulah, mereka menemukan kembali diri mereka yang utuh, bukan sebagai ibu yang sempurna, tetapi sebagai ibu yang cukup, yang berharga, dan yang pantas bahagia.

2. Kekuatan dalam Kebersamaan

Sarafino dan Smith (2012) menjelaskan bahwa dukungan sosial merujuk pada kenyamanan, kepedulian, penghargaan, atau bantuan kepada seseorang dari orang lain atau dari kelompok. Konsep ini terwujud nyata dalam komunitas ini, di mana para ibu saling memberikan dukungan dalam berbagai bentuk.

Pendiri komunitas, Ibu Nurul, menjadi sosok sentral yang merangkul. Pengalamannya pernah merasa sendiri saat harus pergi ke Jakarta untuk operasi mata anaknya menumbuhkan keinginan kuat untuk merangkul ibu-ibu lain yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Kepekaannya dalam mengenali anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus membuatnya proaktif dalam mengajak para ibu untuk bergabung.

Perjalanan emosional para ibu menggambarkan betapa pentingnya dukungan ini. Dari tidak menerima kondisi anak dan merasa kehilangan arah, kini mereka merasakan dunia kembali hidup dan memiliki semangat baru. Menurut Cutrona dan Gardner (dalam Sarafino & Smith, 2012), dukungan emosional meliputi empati, kepedulian, perhatian, dan memberikan dorongan, semua elemen ini hadir dalam interaksi antar anggota komunitas.

3. Dukungan Informasi: Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Beberapa ibu-ibu berperan sebagai motor penggerak informasi dalam komunitas. Para penggerak ini aktif menginformasikan berbagai hal sehingga ibu-ibu lain juga ikut bergerak. Keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan komunitas membuka akses informasi yang lebih luas bagi anggota.

Ibu Nurul bahkan mengembangkan program rutin setiap Sabtu melalui channel mengenai suara disabilitas, di mana tema-tema yang relevan dicari dan dibagikan. Ibu-ibu yang berada di komunitas pun turut diajak untuk berkontribusi, karena Ibu Nurul melihat adanya potensi dari mereka. Ibu Nurul tidak hanya berfokus pada eksternal, ia ingin orang-orang yang ada di komunitas juga ikut berkembang, meskipun selama ini mungkin peran mereka adalah Ibu Rumah Tangga, beliau ingin memberdayakan sumber daya yang ada dalam komunitas.

4. Dukungan Konkret: Bantuan yang Bisa Dirasakan

Para penggerak komunitas tidak hanya berbicara, tetapi juga mengambil tindakan nyata dengan mengajukan proposal ke beberapa bank dan kantor untuk mendapatkan dukungan. Kegiatan konkret direncanakan, termasuk acara yang melibatkan Psikolog dan Fisioterapis.

Ketika semua ibu ditanya mengenai dukungan yang diharapkan, mereka sepakat bahwa mereka membutuhkan semua sumber daya yang tersedia. Salah satu ibu secara khusus menyampaikan kebutuhan akan bantuan Psikolog dan Fisioterapis untuk para ibu, bukan hanya untuk anak. Merespons kebutuhan ini, komunitas telah menyediakan terapis pijat untuk punggung ibu-ibu selama dua bulan terakhir sebagai relaksasi. Mereka juga mengharapkan adanya kegiatan psikoedukasi dan lainnya yang serupa. Bentuk dukungan ini disebut tangible or instrumental support yang berarti memberikan bantuan secara langsung (Sarafino & Smith, 2012), dan sangat penting dalam mengurangi beban praktis yang dihadapi ibu dalam pengasuhan.

5. Dukungan Persahabatan: Mengakhiri Isolasi

Keterbukaan menjadi ciri khas komunitas ini. Ibu Nurul memiliki karakter yang blak-blakan dan anggota lainnya juga terbuka. Para ibu dalam komunitas ini selalu mengeluarkan apa yang dipikirkan, terutama yang berkaitan dengan anak. Salah satu anggota yang berprofesi sebagai wirausahawan menyampaikan bahwa mencari suasana dan silaturahmi menjadi kebutuhan penting, bukan hanya sekadar arisan, tetapi ada alasan lebih dalam yaitu saling menguatkan.

6. Transformasi: Dari Penolakan Menuju Penerimaan

Perjalanan penerimaan diri para ibu dalam komunitas ini menjadi bukti nyata dari kekuatan dukungan sosial. Salah satu ibu mengakui bahwa dulu belum bisa menerima kondisi anaknya, hingga suaminya sampai pingsan ketika mengetahui anak mereka mengalami kondisi tuli. Namun sekarang, sudah bisa lega dan menerima kondisi tersebut.

Seorang ibu yang introvert dan memiliki dua anak berkebutuhan khusus mengalami perjalanan serupa. Pada saat pertama kali mengetahui kondisi anak-anaknya, sama sekali tidak menerima dan bersikap acuh tak acuh. Seiring berjalannya waktu dan melalui dukungan komunitas, beliau mulai memperjuangkan anak-anaknya. Ibu lainnya juga mengalami pergulatan batin. Awalnya merasa kasihan dengan anaknya yang pertumbuhannya berbeda dari usia anak seumurannya, dan terus memikirkan bagaimana masa depan anaknya setelah lulus sekolah. Ada juga ibu yang mengalami momen di mana suaranya sangat bergetar ketika pertama kali menceritakan kondisi anaknya, menunjukkan betapa beratnya beban emosional yang dibawa.

Widhiati et al. (2022) menegaskan bahwa dukungan sosial memberikan energi dan kepercayaan. Penelitian Khasanah (2018) menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang didapatkan dari orang lain atau kelompok, semakin tinggi resiliensi pada individu tersebut. Transformasi yang dialami para ibu dalam komunitas ini membuktikan teori tersebut.

Komunitas ini menjadi ruang aman di mana para ibu bisa melepas topeng kekuatan yang selama ini harus mereka kenakan di hadapan keluarga dan masyarakat. Keterbukaan yang terbangun membuat setiap anggota merasa aman untuk berbagi ketakutan, keraguan, bahkan air mata tanpa takut dihakimi. Khasanah (2018) menjelaskan bahwa individu yang mendapatkan dukungan sosial berkeyakinan bahwa ia merasa dicintai, berharga, dan bagian dari jejaring sosial. Hal ini sangat dirasakan oleh para ibu dalam komunitas. Aina dan Ika (2024) menambahkan bahwa ibu yang memiliki tingkat stress rendah dikarenakan adanya dukungan sosial yang tinggi.

Peran para penggerak sebagai motor komunitas sangat vital. Ketika menghadapi masalah, para figur inilah yang biasanya mengambil peran. Para pendiri tidak hanya aktif dalam komunitas lokal, tetapi juga memperjuangkan hak-hak disabilitas di tingkat yang lebih luas melalui organisasi yang diikutinya. Salah satu pendiri berharap komunitas ini bisa lebih intens dalam bertemu, bukan hanya melalui komunikasi di HP. Tujuannya adalah menjadi relawan dan menjadikan setiap kebaikan yang dibuat sebagai berkat untuk anak-anak. Visi ini menunjukkan bahwa komunitas ini tidak hanya berfokus pada anggotanya sendiri, tetapi juga ingin berkontribusi lebih luas untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Penutup

Komunitas “Ibu Tangguh” membuktikan bahwa dukungan sosial bukan sekadar konsep teoritis, melainkan kekuatan nyata yang mengubah hidup. Para ibu yang merasakan dunia kembali hidup, yang bertransformasi dari acuh tak acuh menjadi aktif memperjuangkan anak-anaknya, yang kini berani bersuara meski dengan suara bergetar, semua adalah bukti nyata dari peran komunitas sebagai support system. Dengan para penggerak yang merangkul, anggota berpengalaman yang aktif menjalankan program, dan para ibu lainnya yang saling mendukung, komunitas ini menjadi rumah di mana para ibu bisa pulang dan mendapat pelukan. Sebuah tempat di mana mereka tidak lagi merasa sendirian, di mana kerentanan diterima dengan penuh pengertian, dan di mana kekuatan tumbuh dari solidaritas sesama ibu yang memahami perjalanan panjang nan sunyi dalam mengasuh anak istimewa.

Referensi:

  • Aina, R. & Ika, M. L. (2024). Social Support, Religiosity, and Parenting Stress in Mothers of Children with Special Needs.
  • Khasanah, N. (2018). Peran Dukungan Sosial terhadap Resiliensi pada Orang Tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus. Forum Ilmiah, 15(2), 260-266.
  • Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2012). Health psychology: Biopsychosocial interactions (7th ed). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.
  • Widhiati, R. S. A., Malihah, E., & Sardin, S. (2022). Dukungan Sosial dan Strategi Menghadapi Stigma Negatif Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Pendidikan. Jurnal Paedagogy, 9(4), 846-857.
  • Faradina, N. (2016). Penerimaan diri pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Psikoborneo: jurnal ilmiah psikologi, 4(1).
  • Partini, P., Yuwono, S., Amini, S., Salma, A., & Sumarno, Y. P. (2023). Penerimaan Diri Ditinjau Dari Kebersyukuran dan Kesabaran Ibu dengan Anak Berkebutuhan Khusus. Psycho Idea, 21(1), 60-69.

Penulis: Silvia Eka Mariskha, M.Psi., Psikolog, Roessalina Arfansyah, Jelita Putri Mahakam, Melisa Putrimaru Dasi Li, Julian Ahmad Elrira, Yudistira Setyo Wibawa (Fakultas Psikologi UNTAG 1945 Samarinda)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x