src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ustaz Hamri Noor semasa hidup, bertemu Habib Umar bin Hafiz. (ist) HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Cinta seorang ayah terhadap buah hati ditunjukkannya pada malam yang naas itu. Api berkobar hebat. Namun, pria itu menerobos demi menyelamatkan dua anaknya yang berada dalam rumah yang sedang dilahap si jago merah. Namun, Hamri Noor tak berdaya melawan panasnya api. Dia menderita luka bakar parah. Sekitar 70 persen.
Kebakaran terjadi di Jalan Kartini Gang Karya Loa Ipuh Tenggarong, Selasa 13 Oktober 2026, malam sekitar pukul 23.48 WITA. Musibah yang merenggut dua nyawa bocah. Husen, 3 tahun, dan Ali berusia 7 tahun. Keduanya putra Hamri. Rumah dan satu unit mobilnya turut ludes terbakar. Diduga sumber api karena korsleting atau hubungan arus pendek listrik.
Hamri sempat dirawat di ruang ICU RSUD Parikesit. Tim dokter berusaha menjalankan tindakan operasi guna menyelamatkan nyawa pengajar pondok pesantren Karya Pembangunan Ribatul Khail ini. Sayang, nyawanya tak tertolong. Sang ayah itu menyusul kedua anaknya yang baru saja dimakamkan siang tadi.
”Tadi meninggal dunia pukul 20.43 WITA, ini masih proses memandikan di RSUD AM Parikesit. Dan jenazah akan dibawa ke rumah jalan Ja’far Seman. Kemungkinan dikuburkan besok, karena sudah terlalu malam,” jelas Saudara almarhum Hamri, Idham Khalid.
Sosok Hamri dikenal aktif dalam majelis taklim. Ustaz di Ponpes Karya Pembangunan Ribathul Khail ini diketahui alami stroke ringan sejak tiga bulan terakhir. Inilah musabab dirinya tidak mampu menyelamatkan kedua anaknya saat kebakaran hebat.
”Beliau tidak bisa berbuat banyak menolong anaknya karena Pak Hamri juga sedang sakit stroke,” ucap salah satu warga sekitar TKP, Basuki.
Basuki juga berupaya menolong keluarga tersebut. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak karena api sudah membesar di pintu rumah Hamri. Rumah tersebut bertingkat dua. Pengajian rutin digelar di lantai dua. Ustaz Hamri dan istri dikenal murah dalam berbagi ilmu keagamaan.
Hamri mengajar di PPKP untuk Kelas MTs khusus diniyah dengan pembelajaran pokok pesantren. Mulai Nahwu Sharaf, Tauhid, Aqidah Akhlak dan fikih. Stroke tak menghalanginya untuk aktif mengajar. ”Pak Hamri masih semangat di Ponpes, sudah hampir 4 tahun mengabdi di PPKP,” sebut Humas PPKP, Asmuri.
Selama mengabdi di PPKP, Hamri pernah menjabat sebagai pembina santri putra Ponpes, serta menangani bagian kurikulum pondok. Hampir 4 tahun mengabdi, Hamri tinggal di rumah guru PPKP yang disediakan karena tanggungjawabnya sebagai pembina. Dia mengajukan pindah ke rumahnya di Gang Karya pada 3 bulan silam. ”Ngajukan pindah tinggal dari Ponpes dan pulang ke rumah di Gang Karya karena ingin dekat dengan keluarga, dan juga sedang jalani pengobatan,” jelasnya.
Pertemuan Hamri dengan Asmuri terakhir terjadi minggu lalu di Ponpes. Hamri merupakan sosok yang terbuka, enak diajak diskusi soal keagamaan. “Hamri suka menanyakan kabar kepada guru-guru lainnya. Orangnya memang baik dan supel. Di kalangan santri juga dikenal sebagai guru yang baik dalam pembinaan dan disiplin,” jelasnya.
Kini, Hamri menyusul kedua anaknya yang ditemukan meninggal dunia dalam keadaan berpelukan. Kakak dan adik tersebut dimakamkan satu liang lahat mendekati jam 12 siang tadi. Kebakaran juga menyebabkan 11 rumah hangus di gang padat penduduk tersebut.
Dari pernikahan Hamri dengan Istri Maratus Soleha lahir empat anak. Si sulung sedang menimba ilmu di salah satu Ponpes di Jawa setingkat SMA. Satu orang lagi berumur 11 tahun, siswa SDN 02 Tenggarong.
Eks Bupati Kukar Rita Widyasari sempat melihat secara langsung kondisi kebakaran di Gang Karya, Rabu (14/10) sore dan membagikan bantuan berupa sembako. ”Ustaz Hamri itu masih ada hubungan keluarga dengan saya,” sebut Rita.(Andri)