28 C
Samarinda
Sabtu, April 17, 2021

GPEI-APBMI Bahas Penyesuaian Tarif OPT/OPP di Pelabuhan Tanjung Redeb

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Gabungan Perusahaan Ekspor Impor (GPEI) Kaltim bersama Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Cabang Berau menggelar rapat terkait penyesuaian tarif OPT/OPP bongkar muat tahun 2021 di Pelabuhan Tanjung Redeb.

Dalam rapat tersebut, pihak APBMI mengusulkan agar penyesuaian tarif OPT/OPP di Pelabuhan Tanjung Redeb tahun ini bisa sesuai dengan pelabuhan lainnya. Pasalnya, tarif tersebut sangat kecil dibandingkan pelabuhan yang ada di Kaltim.

Ketua APBMI Cabang Berau, Juniar Rizal mengatakan, tahun 2017, pihaknya sudah membicarakan hal ini dengan GPEI dan TKBM. Namun, hingga saat ini, pihaknya belum ada membahas tentang tarif.

Ia juga mengatakan, telah mengirim surat kepada pihak Perusahaan Bongkar Muat (PBM) untuk memfasilitasi penyesuaian tarif tersebut.

“Karena melihat kesepakatan kita yang terakhir antara kami, GPEI, dengan TKBM terakhir itu 2017, semenjak dari 2017 sampai sekarang kita belum ada untuk membahas tarif ini. Makanya kami diinisiator oleh TKBM bersurat kepada PBM sehingga kami memfasilitasi itu untuk penyesuaian tarif ini,” ungkapnya saat diwawancarai awak media, Jumat 5 Maret 2021.

Menurut Januari Rizal, kesepakatan di tahun 2017 sama sekali sangat tidak relevan karena perbandingan antara tarif pelabuhan yang ada di Berau dengan pelabuhan di Samarinda, Balikpapan, dan Samboja sangat jauh sekali.

“Iya emang sangat tidak relevan, makanya kenapa saya minta penyesuaian karena tarif di Berau itu sangat jauh di bawah rata-rata dibandingkan dengan pelabuhan – pelabuhan terdekat seperti Samarinda, Balikpapan, Tarakan, Samboja. Sangat jauh sekali,” tukasnya.

Disinggung mengenai harga tarif di pelabuhan, Juniar menjelaskan sesuai dengan Keputusan Menteri (KM) 35 tahun 2007, tahun 2017 tarif di Berau hanya 1.731,97.

“Ini yang terakhir tahun 2017. Itu ada tarifnya 1.731,97 di Berau untuk tarif TKBM. Kami mengacu di Keputusan Menteri (KM) 35 tahun 2007 di situ semua untuk penghitungan tarif,” jelasnya.

“Dan ini harusnya, tiap tahun dievaluasi. Kalau kita sekarang penyesuaian, mereka yang mengusulkan si buruh bukan kami. TKBM mengusulkan di angka 3.500 per metrik ton, jadi ada penyesuaian sekitar 1.700 sekian untuk mencapai ini,” sambungnya.

Juniar Rizal berharap, jika kesepakatan sudah cocok, akhir bulan ini pihaknya sudah bisa langsung berjalan.

“Target kalau bisa di akhir bulan ini sudah berjalan dan saya harap per tanggal 1 April sudah bisa dilaksanakan,” harapnya.

“Samarinda aja 4.990,-, kita dari tahun berapa kita masih segini saja. Otomatis kalau buruhnya naik TKBM-nya juga naik,” sambungnya.

Ketua GPEI Kaltim, Mohammad Hamzah mengatakan pihaknya hanya menjalani amanat dari Menteri Perhubungan. Ia juga mengatakan harus berkoordinasi dengan wakil pengguna jasa untu menyusun tarif tersebut.

“Untuk tarif di pelabuhan wakil pengusahanya kan GPEI, GPEI disini menjadi wakil pemilik barang. APBMI selaku wakil bongkar muat yaitu penyedia jasa dia mesti berkordinasi dengan wakil pengguna jasa untuk menyusun tarif. Saat ini masih kunjungan pertama kami belum melihat usulan dari APBMI itu berapa nilainya dan sebagainya nanti sambil berjalan baru kita mengundang shipper terkait bagaimana pendapatnya,” ujar dia.

Lanjutnya, pihaknya sudah bersurat melalui email dan rencana akan bertemu dengan para shipper untuk membahas usulan tarif tersebut.

“Target kita di tanggal 30 Maret sudah ada keputusan tentang tarif ini dan April sudah langsung bisa berjalan,” pungkasnya.

Penulis: Riski
Editor: MH Amal

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar