src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Tulung Ni’ Lenggo, Kampung Tembudan, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau. (Foto: Ist) HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Warji, memaparkan arah pengembangan pariwisata daerah yang kini difokuskan pada tiga klaster utama, yakni wisata kepulauan, pesisir, dan perkotaan. Ketiga klaster dirancang saling terhubung agar pergerakan wisatawan lebih merata dan memberi dampak ekonomi luas bagi masyarakat.
Untuk klaster kepulauan, Disbudpar menetapkan Maratua, Derawan, Sangalaki, dan Kakaban sebagai destinasi prioritas. Kawasan ini dinilai sebagai ikon pariwisata Berau yang harus terus diperkuat dari sisi akses, fasilitas, dan pengelolaan berkelanjutan.
“Destinasi kepulauan tetap menjadi etalase utama pariwisata Berau. Pengembangannya harus terarah dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara pada klaster pesisir, peluang pengembangan terbuka lebar yakni potensi wisata air panas, Labuan Cermin, Teluk Sumbang, Tulung Ni’ Lenggo (Telaga Biru) hingga kawasan bernilai historis dinilai bisa menjadi titik singgah baru di sepanjang jalur pesisir yang membentang panjang, mulai dari Sambaliung hingga wilayah Selatan Berau.
Warji menilai, panjangnya jalur tersebut justru menjadi peluang untuk menghadirkan destinasi antara (intermediate destination) dan rest area. Dengan demikian, perjalanan wisatawan tidak terasa membosankan karena terdapat beberapa titik pemberhentian yang menarik.
“Kalau di tengah perjalanan ada daya tarik wisata, tentu perjalanan terasa lebih singkat dan menyenangkan. Potensi-potensi di sepanjang pesisir ini perlu diberdayakan,” tegasnya.
Adapun klaster wisata perkotaan difokuskan pada penguatan museum, keraton, dan atraksi budaya sebagai identitas sejarah dan budaya Berau. Disbudpar Berau juga membuka ruang bagi kampung-kampung yang ingin mengembangkan potensi wisatanya, seperti yang diusulkan Kepala Kampung Pilanjau.
Menurutnya, usulan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan koordinasi lebih detail, baik terkait lokasi maupun konsep pengembangannya, agar dapat masuk dalam perencanaan dinas secara terarah. “Kalau memang belum maksimal, mudah-mudahan bisa kita lanjutkan di tahun berikutnya. Pengembangan wisata itu bertahap dan harus berkelanjutan,” tegasnya.
Ia mengakui, usulan program pariwisata sangat banyak. Namun, kebijakan efisiensi anggaran membuat sebagian rencana harus ditunda. Usulan yang belum terakomodasi akan diakumulasi kembali dalam prioritas pembangunan 2027.
“Karena efisiensi, ada beberapa usulan yang tereliminasi. Nanti akan kita akumulasi dengan prioritas 2027. Minimal yang paling prioritas bisa kita realisasikan,” bebernya.
Dengan pemetaan tiga klaster tersebut, Disbudpar Berau berharap pembangunan pariwisata tidak hanya terpusat pada destinasi populer. “Tetapi juga mendorong pertumbuhan titik-titik baru yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara lebih merata di Bumi Batiwakkal,” pungkasnya. (Riska)