src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Demo ke Gubernur Kaltim, TRC PPA Desak Penanganan Karhutla dan Perlindungan Anak

Demo ke Gubernur Kaltim, TRC PPA Desak Penanganan Karhutla dan Perlindungan Anak

waktu baca 4 menit
Senin, 19 Okt 2026 12:08 33 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur menggelar demonstrasi di depan Kantor Gubernur Kaltim, Senin, 19 Oktober 2026. Dalam aksi bertajuk Seruan Aksi Save Children tersebut, massa mendesak pemerintah menghentikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melindungi anak-anak dari paparan asap, serta meningkatkan penanganan kebakaran yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Aksi ini juga dipicu kematian balita berinisial YS, berusia satu tahun dua bulan, asal Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda. Balita tersebut meninggal dunia pada Kamis, 15 Oktober 2026 setelah mengalami gangguan pernapasan. Keluarga dan TRC PPA Kaltim menduga kondisi asap karhutla di sekitar permukiman berpotensi memengaruhi kesehatan korban, meski hubungan tersebut belum dapat dipastikan secara medis.

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, mengatakan pihaknya turun ke jalan karena menilai persoalan karhutla tidak bisa hanya dilihat dari aspek penanganan kebakaran, tetapi juga keselamatan warga, terutama anak-anak yang rentan mengalami gangguan pernapasan. “Kami biasanya tidak pernah ikut demo untuk pemerintahan. Tapi karena ini berkaitan dengan anak, maka kami harus maju,” kata Rina saat ditemui di lokasi aksi.

Ia mengaku selama ini ikut mendampingi dan memberikan dukungan kepada relawan pemadam kebakaran, Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPBD, serta petugas ambulans yang bekerja di lapangan. Selama ini, para petugas menghadapi kondisi berat saat berupaya memadamkan api, bahkan hingga tengah malam.

Rina menyebut dukungan yang diberikan antara lain berupa makanan dan minuman bagi petugas yang bertugas. Ia mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap risiko paparan asap yang dihadapi para petugas dan masyarakat di wilayah terdampak.

“Kami membersamai tim relawan Damkar, Babinsa, Bhabinkamtibmas di lapangan BPBD sampai tengah malam. Mereka kami dukung makanan dan minuman, karena kadang kehausan dan kelaparan saat memadamkan api,” ujarnya.

Selain kasus YS, Rina mengatakan TRC PPA Kaltim telah mengunjungi tiga anak yang mengalami masalah kesehatan. Dua anak di antaranya berada di kawasan Pelita 8. Berdasarkan informasi yang diterimanya, satu anak menjalani perawatan di rumah sakit karena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sedangkan satu anak lainnya dilaporkan terpapar asap.

Namun, Rina mengakui pihaknya belum menghimpun seluruh laporan yang masuk sehingga belum dapat memastikan jumlah keseluruhan anak yang mengalami keluhan kesehatan di tengah kondisi asap karhutla. Dalam aksi tersebut, TRC PPA Kaltim mendesak pemerintah mempertimbangkan penetapan status bencana nasional. Rina menilai persoalan karhutla tidak hanya terjadi di Samarinda, tetapi juga di daerah lain, termasuk Kutai Barat dan Kutai Kartanegara, yang menurutnya masih menghadapi kebakaran.

Ia juga meminta pemerintah melengkapi peralatan pemadam kebakaran dan alat pelindung diri bagi petugas di lapangan. Apabila penetapan status bencana nasional belum dilakukan, pemerintah tetap harus memperkuat dukungan peralatan agar upaya pemadaman dapat berjalan lebih optimal.

“Kalau kalian tidak bisa menetapkan ini sebagai bencana nasional, lengkapi peralatan untuk memadamkan api,” tegasnya.

Rina turut mempersoalkan pernyataan bahwa situasi karhutla masih aman, sementara menurutnya warga dan petugas di lapangan menghadapi paparan asap. Ia meminta pemerintah melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak dan tidak menunggu jatuhnya lebih banyak korban untuk mengambil langkah serius. “Kita bukan bicara tentang prosedural lagi, tapi bagaimana keselamatan masyarakat di Kaltim, terutama masyarakat yang wilayahnya terdampak karhutla,” katanya.

Hingga berita ini ditulis, demonstran masih bertahan di depan Kantor Gubernur Kaltim. Massa memberikan ultimatum satu jam kepada Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud untuk keluar menemui mereka dan mendengarkan tuntutan yang disampaikan. Rina menyatakan massa tidak akan membubarkan diri apabila gubernur belum menemui mereka.

“Kalau gubernur tidak turun menemui kami, kami tidak akan bubar. Biar kami bermalam, biar kami diusir, kami tetap di sini bertahan,” tandas Rina Zainun.

Di tengah tuntutan tersebut, penyebab pasti kematian YS masih perlu dibedakan dari dugaan keterkaitannya dengan paparan asap karhutla. Dokter spesialis anak RS Mulya Medika Samarinda, dr. Ikhsan Ali, yang menangani YS selama menjalani perawatan, mengatakan pasien datang dengan rujukan dari fasilitas kesehatan sebelumnya dan membutuhkan perawatan lanjutan.

Dalam konferensi pers pada Sabtu, 17 Oktober 2026, Ikhsan menjelaskan, gangguan pernapasan pada anak dapat dipengaruhi berbagai faktor. Selain pneumonia, gangguan pernapasan juga dapat berkaitan dengan polusi udara, asap rokok, asap kendaraan, maupun asap kebakaran lahan. Oleh karena itu, kondisi sesak napas yang dialami YS tidak serta-merta membuktikan bahwa asap karhutla menjadi penyebab kematiannya.

Ikhsan juga menyatakan pihak rumah sakit belum dapat memastikan hubungan langsung antara paparan asap dan kematian pasien. Untuk mengetahui apakah terdapat paparan langsung asap yang memengaruhi paru-paru korban, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan postmortem atau autopsi. Pemeriksaan tersebut tidak dilakukan terhadap YS.

“Penyebab pastinya belum bisa saya bilang itu karena kebakaran lahan,” ujar Ikhsan saat itu. (Retno)

LAINNYA
x