src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO –Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah tercatat naik 0,08 persen atau menguat 14 poin ke level Rp16.768 per dolar AS, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar di tengah ketidakpastian global.
Pada perdagangan kali ini, pergerakan nilai tukar rupiah cenderung terbatas karena pelaku pasar masih bersikap wait and see. Dilansir dari rri.co.id, analisis pasar uang yang menyebutkan investor menunggu hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu waktu setempat.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai, pasar secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada awal tahun ini. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang menahan pergerakan nilai tukar rupiah agar tidak berfluktuasi terlalu tajam.
Selain faktor kebijakan moneter AS, penguatan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dinamika politik di Amerika Serikat. Pelaku pasar masih mencermati memanasnya hubungan antara Presiden Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell, yang memicu kekhawatiran terkait independensi bank sentral AS.
Tekanan sentimen global kembali bertambah setelah muncul kekhawatiran potensi penutupan pemerintahan AS (government shutdown). Sejumlah senator dari Partai Demokrat dikabarkan menyatakan akan memblokir Rancangan Undang-Undang pendanaan pemerintah, menyusul insiden penembakan oleh aparat imigrasi AS di Minneapolis beberapa waktu lalu. Situasi ini turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah di pasar keuangan.
Di sisi lain, Presiden Trump kembali melontarkan ancaman pengenaan tarif perdagangan sebesar 25 persen terhadap Korea Selatan. Ancaman tersebut disampaikan setelah Seoul menunda pemberlakuan kesepakatan perdagangan yang sebelumnya telah disepakati. Ketidakpastian kebijakan perdagangan ini ikut membayangi sentimen global dan pergerakan nilai tukar rupiah.
“Pasar tetap waspada terhadap langkah lanjutan dari Trump. Di saat yang sama, ketegangan geopolitik meningkat di Iran dan kawasan Timur Tengah seiring dengan kedatangan kapal-kapal perang AS di wilayah tersebut,” ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, Ibrahim juga menyoroti tantangan pembiayaan pemerintah pada tahun anggaran 2026 yang berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, target pembiayaan utang netto ditetapkan sebesar Rp832,21 triliun.
Namun demikian, kebutuhan penarikan utang baru secara bruto dinilai jauh lebih besar, yakni mencapai Rp1.650 triliun. Angka tersebut mencakup kebutuhan untuk menutup defisit anggaran sekaligus melunasi pokok utang yang jatuh tempo pada tahun berjalan. Kondisi ini menjadi perhatian serius pelaku pasar terhadap prospek nilai tukar rupiah.
Ibrahim menambahkan, pemerintah juga menghadapi risiko kekurangan pembiayaan (shortage risk) akibat ketidakpastian ekonomi makro dan pasar keuangan global. Situasi tersebut membuat investor, terutama investor asing, cenderung bersikap sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan.
“Ketergantungan pada penjualan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen utama pembiayaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Investor asing juga mencermati kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai belum cukup hati-hati,” kata Ibrahim.
Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Keputusan The Fed, dinamika geopolitik, serta strategi pembiayaan pemerintah menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.