src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Pasar Sanggam Adji Dilayas (PSAD, Berau. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB –Harga ikan laut di Berau mengalami kenaikan cukup signifikan di Pasar Sanggam Adji Dilayas (PSAD). Harga ikan layang paling mahal dijual Rp60.000/kg. Kenaikan harga ikan laut ini dirasakan langsung oleh sejumlah pedagang maupun masyarakat pada Januari 2026.
Pedagang ikan di PSAD, Firman menyampaikan harga ikan laut khususnya ikan layang naik sekitar Rp20.000 dibandingkan harga biasanya di pasar. “Biasanya harga ikan layang mulai dari Rp30.000 – Rp40.000/kg,” ungkapnya.
Firman mengaku, ikan layang menjadi salah satu ikan yang paling banyak dibeli oleh masyarakat di Bumi Batiwakkal. Dia juga menjual ikan jenis lainnya seperti bandeng dan tongkol. Ikan laut yang dijual ini merupakan hasil tangkapan nelayan di Talisayan.
Menurutnya, kenaikan harga ikan laut di Berau dipengaruhi oleh beberapa faktor. Fenomena terang bulan atau bulan purnama menyebabkan hasil tangkapan laut berkurang. Selain itu, faktor cuaca buruk juga dapat menghambat aktivitas nelayan ketika melaut. “Harga ikan layang dapat kembali normal, jika ketersediaan ikan banyak dan kondisi cuaca tidak buruk,” jelasnya.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid menuturkan, naik turunnya harga ikan di Berau, khususnya ikan layang, tidak bisa dilepaskan dari pola penangkapan musiman. Pada waktu tertentu, hasil tangkapan bisa melimpah. Namun, pada waktu lain jumlahnya menurun.
Menurutnya, kondisi tersebut dinilai masih bisa dikendalikan karena produksi ikan di Berau sebenarnya lebih besar dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat. “Ketika tidak ada ikan layang, masih ada juga ikan laut yang lain,” ungkapnya.
Majid mengatakan, daya konsumsi ikan di Berau sekitar hanya 4–5 ton. Sedangkan, tangkapan ikan bisa mencapai 7–8 ton. Namun, kelebihan hasil tangkapan itu tidak bisa disimpan terlalu lama, terutama untuk jenis ikan layang. “Kalau ikan layang disimpan di freezer dalam jangka panjang, kualitasnya akan menurun,” ucapnya.
Aibatnya, sisa tangkapan yang tidak terserap pasar lokal harus segera dikirim ke daerah lain. “Ikan layang memang beberapa kali masuk dalam komoditas penyumbang inflasi, namun tidak terus-menerus,” pungkasnya. (Riska)