src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Musrenbang Kecamatan Gunung Tabur. (Foto/video: Riska/headlinekaltim.co) HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengajak seluruh kepala kampung untuk menjadikan keterbatasan anggaran daerah sebagai momentum memperkuat kemandirian dan inovasi pembangunan. Hal ini disampaikannya pada Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Penyusunan RKPD Tahun 2027 di Kecamatan Gunung Tabur pada Kamis, 12 Februari 2026.
“Tantangan fiskal bukan hambatan, melainkan ujian ketangguhan yang justru mendorong lahirnya solusi kreatif bagi kemajuan daerah,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini harus disikapi dengan kerja keras, berpikir, berinovasi, dan berkreasi untuk mencapai tujuan serta mampu bertahan di tengah situasi sulit. Dinamika anggaran saat ini harus disyukuri sebagai bentuk pembelajaran bersama agar pemerintah kampung tidak bergantung sepenuhnya pada dukungan keuangan daerah.
Ia memastikan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi prioritas pemerintah daerah, khususnya bagi kampung di Kecamatan Gunung Tabur dan wilayah sekitarnya. Termasuk layanan air bersih, listrik, penerangan jalan umum, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan.
“Hal yang menjadi kebutuhan dasar manusia tetap prioritas kami. Infrastruktur dasar, pendidikan, dan pelayanan kesehatan harus berjalan,” ujarnya.
Sri menilai pembangunan infrastruktur kampung secara umum telah mengalami peningkatan signifikan dibandingkan sebelumnya. Namun, ia mengingatkan masyarakat untuk memahami keterbatasan anggaran, terutama dalam pembangunan infrastruktur berbiaya tinggi seperti jalan atau turap sungai berskala besar.
“Sehingga pentingnya penguatan ekonomi kampung melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK), sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan,” bebernya.
Ia mengungkapkan dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan komoditas unggulan daerah, termasuk rencana bantuan pengembangan 200 hektare tanaman kakao dan 200 hektare kelapa dari Kementerian Pertanian.
Menurutnya, potensi kakao Berau yang disebut sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Indeks desa mandiri ditentukan dari ketahanan sosial, ekonomi, infrastruktur, tata kelola pemerintahan, hingga kualitas lingkungan. Semua itu harus kita bangun bersama,” katanya.
Dirinya juga menyoroti pentingnya menjaga lingkungan, khususnya kawasan pesisir dan tepian sungai melalui penanaman mangrove. Upaya konservasi tersebut dinilai tidak hanya menjaga ekosistem, tetapi juga mendukung keberlanjutan program dana karbon yang telah diterima sejumlah kampung.
Ia mengingatkan agar kampung penerima dana karbon mampu mempertahankan komitmen pelestarian lingkungan agar manfaat ekonomi tetap berkelanjutan. “Dana karbon harus kita jaga dengan memelihara konservasi. Lingkungan terjaga, masyarakat juga mendapat manfaat,” tegasnya.
Kepala kampung diminta untuk menjaga tata kelola pemerintahan yang baik dan menghindari persoalan hukum dengan memperkuat koordinasi serta pendampingan, termasuk dengan pihak kejaksaan. Selain itu, pentingnya transparansi penyaluran program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), yang ke depan diharapkan dapat diatur lebih jelas melalui kebijakan daerah.
Sri mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah kampung untuk bersama-sama menghadapi tantangan pembangunan di Bumi Batiwakkal. “Kita lewati masa sulit ini bersama-sama. Saling mendukung dan bekerja keras demi kemajuan kampung di Berau,” pungkasnya. (Riska)