src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Berau. (Foto: Ist) HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Maraknya perundungan hingga aksi kekerasan di kalangan pelajar menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Berau, Kabul Budiono, menegaskan pentingnya penguatan nilai moral melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah.
“Hal ini sebagai upaya membentuk karakter generasi muda yang lebih berempati dan berakhlak,” ungkapnya.
Kurikulum ini digagas oleh Kementerian Agama RI hadir sebagai respons terhadap berbagai persoalan sosial yang melibatkan anak-anak, mulai dari praktik bullying, tindakan anarkis di sekolah, hingga menurunnya rasa empati terhadap sesama.
“Fenomena saat ini menunjukkan banyak anak yang mulai kehilangan empati, baik kepada teman, keluarga, bahkan orang tuanya sendiri,” ucapnya.
Menurutnya, ini menjadi perhatian serius, sehingga perlu sentuhan moral dan nilai keagamaan yang lebih mendalam melalui pendidikan. Kurikulum Berbasis Cinta menitikberatkan pada pembentukan karakter melalui nilai kasih sayang, kepedulian, dan toleransi.
Program ini tidak hanya mengajarkan hubungan harmonis antar sesama manusia, tetapi juga menanamkan cinta terhadap lingkungan dan penghormatan kepada umat beragama lain. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan memiliki empati tinggi dalam berinteraksi dengan teman, keluarga, dan masyarakat.
Ia menilai pendidikan tidak cukup hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga harus membangun kesadaran moral dan spiritual. Anak-anak harus diajarkan untuk saling menyayangi, menghargai perbedaan, serta menjaga alam.
“Mereka dibentuk bukan untuk mencari kesalahan orang lain atau melakukan perundungan, tetapi memiliki kepedulian dan rasa tanggung jawab sosial,” jelasnya.
Kabul juga menyoroti berbagai kasus kekerasan yang melibatkan anak terhadap orang tua maupun keluarga akibat persoalan sepele, seperti tidak terpenuhinya keinginan pribadi. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm bagi dunia pendidikan untuk memperkuat pembinaan karakter sejak dini.
Ia berharap penerapan kurikulum berbasis cinta di madrasah dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan kepedulian sosial yang tinggi. “Harapannya, madrasah mampu mencetak anak-anak yang berempati, mencintai sesama, menghargai keluarga, serta memiliki kepekaan sosial yang kuat,” pungkasnya. (Riska)