src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Aktifitas santri Ponpes Al-Abqory Perjiwa pumpinan Muhibin Ali.(foto : andri)HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Didirikan sejak tahun 2020 lalu, Ponpes Al-Abqory Desa Perjiwa Kecamatan Tenggarong Seberang naungan yayasan Putrawarman Al-Abqory menghasilkan santri yang hafal Qur’an. Ponpes dengan jumlah santri 156 orang ini, terus berjalan dengan keterbatasan yang dialami.
Pengasuh sekaligus pemilik Ponpes, Muhibin Ali bercerita panjang terkait, membesarkan ponpes yang masih terbilang muda tersebut. Dari total santri yang bersekolah di ponpes, hanya 30 persen saja yang berbayar sisanya gratis. Karena masih ada orang tua yang beranggapan, jika nggak punya biaya sekolah anak, masukan saja ke ponpes.
“Makanya kami jelaskan juga, ini ponpes bukan panti asuhan. Yang tidak membayar SPP, tetap mendapatkan hak yang sama dari kami, tidak ada perbedaan,” sebut Muhib, Selasa 11 April 2023.
Karena masih banyak masyarakat yang beranggapan, bahwa ponpes seperti bengkel, memperbaiki anak yang mengalami keterbatasan, ini juga yang diperjuangkan manajemen ponpes Al-Abqory, dengan berlatar belakang anak dari pengalaman yang bermacam-macam, memakai pola psikolog dan kelas parenting sebagai solusinya.
“Ada anak yang tidak bisa apa-apa, karena putus sekolah, sekarang sudah hafal Qur’an dan sudah mengimami solat dibeberapa masjid dan mushola,” ucap Muhib.
Sebagai pengasuh tidak sembarangan merekomendasikan santri untuk menjadi imam solat, dari segi umur harus sudah akil baligh atau setingkat SMP. Santri yang mondok di ponpes bukan hanya dari Kukar, ada juga berasal dari Kalteng, Banjarmasin, Kutai Barat, Bulungan Kaltara, Balikpapan dan Samarinda.
“Ada juga santri dari Jawa tengah sebanyak dua orang,” sebutnya.
Dengan jumlah santri yang mencapai 100 lebih ini, masih alami kendala kekurangan guru yang mau bermukim di pondok dengan keterbatasan, dan gaji juga yang tidak terlalu besar. Saat ini, pengajar tahfidz sebanyak 4 orang, bimbingan Alquran, guru SMP dan MTS sebanyak 12 orang.
Untuk makan santri juga terbatas namus tetap ada solusi. Untuk konsumsi santri, makan dengan gizi berimbang bisa dipenuhi, karena bantuan dari berbagai donator.
“Sebelum puasa, kami mendapatkan bantuan 150 kotak nasi lengkap dengan lauk pauknya, dan kami tidak tau siapa orang yang bersedekah tersebut sampai saat ini, karena ada saja supir yang mengantar 150 nasi kotak ke ponpes,” ceritanya.
Muhib sangat optimis, kendala yang dihadapi ponpes bisa dilalui, karena janji Allah SWT, barang siapa yang menjaga Al-qur’an, maka akan Allah angkat derajat dan menuhi kebutuhannya. Yayasan juga sudah membentuk badan usaha ponpes menuju kemandirian ponpes dengan jenis usaha air minum isi ulang, foto copy serta ATK dan usaha lainnya.
“Santri yang masuk ke Ponpes Al-Abqary setelah satu tahun terlihat perubahannya. Kami punya misi menghafal Al-qur’an pasti bisa,” pungkasnya.(Andri)