src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Kemarau Panjang, Ekspor Ikan Asin Kukar ke China Anjlok

Kemarau Panjang, Ekspor Ikan Asin Kukar ke China Anjlok

waktu baca 2 menit
Jumat, 16 Okt 2026 14:49 45 huldi amal

TENGGARONG, HEADLINEKALTIM.CO – Kemarau panjang selama empat bulan memengaruhi produksi ikan asin di wilayah hulu Kutai Kartanegara (Kukar). Kuantitas penjualan produk perikanan ini  ke negara China dan Taiwan ikut menurun. Kedua negara itu termasuk penerima ekspor produk perikanan Kukar terbesar.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar Muslik mengatakan, dalam kondisi normal, satu pengepul bisa mengirim hingga 5 ton ikan asin per minggu.  Menurut dia, bisnis ikan asin di wilayah hulu tidak bisa diremehkan. Satu pengepul bisa mengirim 25 ton per bulan. Di setiap desa, jumlah pengepul bervariasi, antara 10 dan 15 orang. Namun, para pengepul hanya mengirim ikan ke Jakarta. Di sana, ada eksportir yang menampung ikan tersebut. “Ikan asin dikirim ke kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Eksportir besar di sana yang mengirim ikan asin Kukar ke China dan Taiwan,” ujar Muslik, Kamis 15 Oktober 2026.

Eksportir di PIK membeli ikan asin dari pengepul dengan harga sekitar Rp 25.000 per kilogram (kg). Mereka lalu menjual ke luar negeri dengan harga sekitar Rp 100.000 per Kg. Harga jual melonjak karena eksportir mengemas ulang ikan asin dengan lebih menarik dan memberinya merek. “Eksportir beli dari pengepul Kukar secara borongan, tanpa merek,” jelasnya.

Sebelum dikirim ke luar negeri, ikan asin juga harus melalui perlakuan (treatment) atau diolah terlebih dahulu. Proses ini disesuaikan dengan persyaratan ekspor. Jika tidak memenuhi syarat, negara tujuan akan menolak barang tersebut. Ke depan, DKP Kukar akan mengedukasi pelaku usaha perikanan. Mereka didorong mengolah dan mengemas ikan sebelum dijual agar harganya lebih tinggi. “Misalnya dijual Rp 45.000 per kilogram. Lumayan, selisihnya Rp 20.000 per kilogram,” tegas Muslik.

Camat Muara Muntai Mulyadi mengatakan, ikan asin dari Desa Jantur dan Jantur Selatan tidak hanya tembus ke luar negeri. Produk ini juga dikirim ke Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Garut untuk memenuhi kebutuhan nasional. Karena itu, potensi bisnis ikan asin dinilai sangat menjanjikan.

Kepala Desa Jantur Selatan Arbain membenarkan bahwa produksi ikan asin saat ini menurun akibat kemarau panjang. “Produksi sekarang paling maksimal 1,5 ton per pengepul per minggu. Beda saat air naik, ikan di sungai banyak, bisa produksi 5 ton per minggu,” ungkapnya. (Andri)

LAINNYA
x