Beranda BUMI ETAM Klaster Keluarga Tertinggi Sumbang Kasus Corona di Kaltim

Klaster Keluarga Tertinggi Sumbang Kasus Corona di Kaltim

Klaster Keluarga Tertinggi di Kaltim
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Kaltim Andi Muhammad Ishak (foto: Humas Pemprov Kaltim/headlinekaltim.co)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Klaster keluarga menjadi yang tertinggi menyumbang kasus COVID-19 di Kaltim. Dengan menyasar mereka berusia produktif, 20 tahun hingga 40 tahun.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Kaltim Andi Muhammad Ishak mengatakan penyebabnya karena masyarakat yang sudah beraktivitas seharian di luar, lalu pulang ke rumah melupakan protokol kesehatan. “Sehingga rentan penularan,” katanya.

Klaster keluarga ini, terang Andi, biasanya “menyerang” antara 4 sampai 5 orang penghuni rumah dalam satu keluarga.

Advertisement

“Kalau kita laksanakan dengan tertib protokol kesehatan, Insya Allah akan aman dari penularan. Jaga dan lindungi diri sendiri, keluarga dan lingkungan,” ujarnya.

Mereka berusia produktif antara 20 tahun hingga 40 tahun tertular COVID-19 memiliki imunitas yang cukup baik dan kurang penyakit penyerta. Kebanyakan kasus terkonfirmasi, umumnya mereka tidak bergejala atau OTG (orang tanpa gejala).

“Justru sekarang penderita berusia produktif dan mayoritas mereka OTG, mereka tidak menyadari kalau sakit sehingga masih tetap beraktivitas. Inilah kelompok yang dapat menularkan pada orang lain tanpa diketahui,” ujar Andi.

Kasus COVID-19 di Kaltim kini cenderung meningkat dan tingkat kesembuhan mulai merangkak naik. Satuan tugas (Satgas) COVID-19 Kaltim telah melakukan banyak sosialisasi dan imbauan untuk menekan jumlah penyebaran di masyarakat.

“Perkembangan COVID-19 masih sangat dinamis. Tidak cukup hanya apa yang dilakukan oleh pemerintah, tapi juga seluruh masyarakat harus tahu apa yang disikapi di masa pandemi seperti ini,” terang Andi.

Andi menyebut semua pihak harus menyadari, mengapa harus menerapkan protokol kesehatan. Menurutnya hal itu sangat penting, karena jika masyarakat mengenal karakteristik virus ini, maka dapat menyikapi dan melakukan sesuatu yang dapat terhindar dari COVID-19.

“Prinsipnya bahwa silakan kita beraktivitas seperti biasa, masih tetap produktif. Tapi ada kebiasaan baru yang harus kita lakukan yaitu menerapkan protokol kesehatan,” ujar Andi lagi.

Penularan COVID-19 yang terjadi saat ini, beber Andi, terbesar masih pada kasus droplet atau penularan lewat udara.

Virus tersebut melayang di udara mengikuti gravitasi bumi sebelum turun ke tanah. Saat melayang di udara, virus bisa mencapai jarak antara 2 hingga 6 meter.

COVID-19 ini juga memiliki karakteristik tahan pada panas 6 hingga 8 jam. Namun jika terkena sinar matahari, virus akan mati karena sinar UV akan menyerap protein virus itu sendiri.

“Kalau batuk atau bicara, virus yang keluar bisa mencapai 2 meter. Tapi jika bersin mencapai 6 meter. Makanya penting menjaga jarak 1 sampai 2 meter untuk menghindari lontaran langsung droplet,” kata Andi.

“Tapi ini tidak cukup, masker juga kita gunakan, masker dapat menahan droplet keluar. Karena kita tidak tahu apakah kita sehat semua atau tidak,” katanya. (ADV)

Penulis: Ningsih

Editor: Amin

Komentar